Cerkak

Senin, 25 April 2011

Debu-debu Jalanan

S
ebuah ruangan perkuliahan Fakultas Ilmu Sosiologi dalam keadaan hening. Seorang dosen sedang memberikan mata kuliah dengan penuh wibawa. Salah satu mahasiswi yang berada di dalam ruangan itu, sedang melamun sambil memperhatikan jam yang ada di tangannya. Jarum pada jam itu menunjukkan pukul 11.55, itu berarti lima menit lagi proses perkuliahan hari itu akan berakhir. Lima menit berlalu, mata kuliahpun akhirnya selesai.
“Besok kamu mau neliti apa, Tih?” tanya Luna pada Ratih yang sedari tadi memperhatikan jarum jam.
”Hah......?!! Penelitian apaan?” jawab Ratih sekenanya.
”Penelitian tentang pemuaian gas yang disebabkan oleh bertambahnya kalor,” jawab Luna dongkol.
”Emangnya kita anak Fisika? Kok dikasih tugas kayak gitu?” tanya Ratih heran.
”Aduh......!!! Ni anak! Emangnya dari tadi tuch kamu ngapain?” jawab Luna makin sebel.
”Aku nggak ngapa-ngapain. Btw, tadi Pak Upoyo ngasih tugas apa ke kita?”
”Tugas akhir semester membuat laporan tentang suatu penelitian keadaan sosial yang ada di sekitar kita, proyek penelitiannya bebas. Katanya sich, hanya ingin tahu kemampuan kita. Maklum, kita kan baru semester awal,” jawab Luna berusaha untuk sabar.
”Iya, nich...!. Kita baru semester awal, tapi udah dikasih tugas penelitian kayak gitu. Susah deh kuliah di kampus ternama.”
Setelah pulang dari kuliah, Ratih membantu ibunya berjualan soto di warung soto sederhana milik keluarga. Walaupun hanya warung kecil-kecilan nan sederhana, namun memiliki pelanggan yang tidak sedikit karena rasa sotonya sudah terkenal enak. Setiap pelanggan yang datang pasti mengajak pembeli lain yang belum pernah mencoba untuk mencicipi kelezatan soto itu. Lambat laun, usaha warung soto mereka berkembang. Ayah Ratih adalah seorang guru di sekolah swasta tidak jauh dari rumah mereka. Gaji yang pas-pasan membuat seluruh anggota keluarga mereka gigih untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ratih dapat masuk ke perguruan tinggi ternama di Yogyakarta itu berkat beasiswa yang ia peroleh dan dapat membayar biaya-biaya lain karena ia gemar mengirim tulisan-tulisannya ke majalah-majalah. Memang sejak dulu Ratih bercita-cita masuk ke perguruan tinggi tersebut. Maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia miliki. Ratih memiliki seorang kakak laki-laki yang juga kuliah di tempat yang sama. Sekarang ia sudah semester akhir dan akan menyusun skripsi untuk menyelesaikan pendidikannya. Nama aslinya Subagyo, namun lebih senang dipanggil Yoyok. Mas Yoyok ini orangnya cerewet dan suka bercanda serta sayang terhadap adiknya. Walaupun mereka sering berantem hanya karena masalah yang sepele, Ratih juga sayang dan merasa beruntung mempunyai kakak yang baik serta merasa bangga pada kakaknya karena dapat meringankan orang tua dengan bersedia kuliah sambil bekerja di sebuah bengkel yang dikelolanya.
”Tih......, daging sapinya habis. Kamu beli lagi, ya?” pinta Ibu.
”Yagh....., kok Ratih lagi sih, Bu? Tuch Mas Yoyok nggak ngapa-ngapain, cuman main gitar,” jawab Ratih sambil menunjuk ke arah Mas Yoyok.
”Ya, sudah.... Kalian berdua saja yang berangkat! Yoyok..., antarkan adikmu ini beli daging!” perintah Ibu pada Yoyok. Kemudian Mas Yoyok mencomot kunci motor yang ada di atas meja di dekatnya. Merekapun segera berangkat.
“Belinya dimana, Tih?” tanya Mas Yoyok
“Di tempat biasa aja. Yang agak murah,” jawab Ratih.
Akhirnya merekapun sampai di suatu tempat yang di sana-sini penuh dengan keramaian. Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar. Mas Yoyok memarkir sepeda motornya pada barisan motor yang tertata rapi di dekat pintu masuk Pasar Beringharjo. Setelah memarkir sepeda motor, mereka memasuki pasar dan menuju ke los daging sapi.
”Sore, Mas Wahyu.....!” sapa Ratih kepada salah satu penjual daging yang ada di tempat itu.
”Met sore juga, Mbak!” jawab pemuda tampan penjual daging yang berdiri di depan Ratih itu dengan sopan.
”Ekhhem......, mau beli daging ato ngeceng?” bisik Mas Yoyok menggoda.
”Aduh..!” Mas Yoyok teriak karena dicubit oleh Ratih.
”Tumben Mbak, sudah beli daging lagi? Pasti sudah kelarisan, ya?”
”Nggak juga....., makanya kalau ada waktu mampir ke warung, Mas!” ajak Ratih.
”Iya, Mbak. Kapan-kapan pasti mampir. Mau beli daging berapa kilo, Mbak?
“Sepuluh kilo saja.”
Setelah berpamitan, mereka menuju ke tempat parkir. Mas Yoyok menstarter motor bebek kesayangannya kemudian Ratih duduk dibelakang. Motor mulai melaju pelan dan meninggalkan tempat yang masih ramai di sore hari itu. Di perempatan jalan, lampu lalu lintas seakan menyuruh mereka berhenti dengan nyala lampu merahnya. Di sebelah kanan jalan, nampak pemandangan yang sudah tidak asing lagi di tempat itu. Seorang nenek yang renta sedang meminta sedekah dari para pengendara motor maupun mobil. Juga terdapat anak-anak kecil yang sedang mengamen. Sontak perasaan Ratih menjadi iba, di dalam hatinya ia bertanya-tanya. Mengapa ada seorang nenek tua yang berjalan tergopoh-gopoh ke sana ke mari meminta sedekah? Padahal sangat berbahaya sekali seorang nenek berjalan di jalanan yang ramai dan penuh lalu lalang kendaraan. Dan debu-debu jalanan bisa saja mengganggu kesehatannya. Sungguh malang nasib nenek itu. Kemana keluarganya? Tiba –tiba air mata iba penuh belas kasih menetes membasahi pipinya. Perasaannya menjadi tak menentu. Ia menangis tersedu-sedu karena tak dapat melakukan sesuatu. Lampu yang tadinya merah, kini telah menjadi hijau. Mas Yoyok memasukkan persneleng kemudian mengegas motornya, beranjak dari tempatnya berhenti. Mas Yoyok melirik ke arah spion. Ia melihat Ratih sedang menangis di belakangnya. Namun ia tetap membiarkan Ratih untuk meneruskan tangisnya. Mas Yoyok takut kalau ia bertanya mengapa Ratih menangis, tangisan Ratih malah semakin menjadi-jadi.
Perjalanan pulang telah berakhir. Mereka telah sampai di warung soto. Perasaan Ratih sudah mulai tenang. Ia mengusap air matanya, memberikan daging sapi kepada ibunya sambil tertunduk, kemudian berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka, sekalian mandi. Selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamarnya dengan handuk masih di kepala. Ia duduk di sebuah kursi kemudian menyalakan televisi. Mas Yoyok mendekati adik satu-satunya itu dan menanyakan apa yang terjadi saat di jalan tadi sore. Ratih tak menjawab dan tetap diam, pikirannya menerawang. Tiba-tiba ia melonjak dan berkata ,”Oh..., iya! Aku punya ide. Hahaha..... Terima kasih kakakku.” Ratih mencium kakaknya dan mulai bersemangat kembali. Mas Yoyok hanya diam sambil cengar-cengir heran melihat tingkah laku adiknya.

”Hallu, Cantik...........!!!!”sapa Ratih dengan antusias pada kedua sahabatnya.
”Hallu juga!”jawab Luna singkat.
”Ngomong-ngomong kalian udah punya rencana mau ngadain penelitian dimana, belum?”
”Aku sih belum, kalau kamu, Lun?” tanya Ve pada Luna.
”Yaaa...., belum sih,” jawab Luna.
”Kalau gitu nanti kalian berdua ikut aku ke suatu tempat. Okey...!!!”ajak Ratih.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Semua mahasiswa mencari tempat duduk masing-masing. Seorang dosen berkepala botak dan berbadan tegap yang terkenal killer memasuki ruangan itu. Namun saat itu ia tidak sendirian, ia masuk bersama seorang asisten barunya. Lumayan cakep juga. Pak Upoyo kemudian menyuruh asistennya itu membagikan kertas kuis. ” Busset..... kuis???? Kok nggak ngasih tahu kita-kita dulu, Pak?” teriak salah satu mahasiswa yang duduk di pojok ruangan. Setelah satu jam berlalu dan memeras otak cukup keras, akhirnya Ratih dapat mengerjakan kuis yang diberikan dengan baik. Dengan santainya, ia meninggalkan ruangan itu.
Siang itu matahari begitu terik, seakan-akan hendak memanggang orang-orang yang mengeluhkannya. Tapi cuaca pada siang itu tidak mengurungkan niat Ratih dan dua temannya untuk mencari tempat observasi yang akan mereka jadikan bahan penelitian.
”Emangnya kita mau kemana, Tih?” tanya Luna.
”Parkir dulu aja motornya di sini!”
Setelah mereka memarkir motor di dekat perempatan, mata mereka tertuju pada seorang bocah, mereka mengikuti bocah dekil itu memasuki sebuah gang kecil, melewati sebuah parit. Nampak seorang nenek namun, masih sehat sedang menghitung kardus-kardus di depan sebuah rumah kecil yang tidak layak huni. Bocah itu menghampiri nenek itu kemudian menyerahkan beberapa uang receh hasilnya mengamen kepada nenek itu kemudian memasuki rumah.
”Maksud kamu apa, Tih?” tanya Luna tiba-tiba.
”Itu yang akan menjadi objek penelitian kita. Siapa tahu kita dapat membantu mereka,”jawab Ratih mantab.


Kendaraan yang melintasi jalan provinsi itu amat banyak dan saling membunyikan klakson. Gedung-gedung megah dan bertingkat yang berderet di sepanjang jalan berdiri dengan kokoh seakan tidak menggubris kendaraan-kendaraan yang ramai di hadapan mereka. Mall, toko, rumah makan, hotel, dan sebagainya ditata apik dengan taman yang indah dan lampu penghias warna-warni. Di sebelah barat gedung-gedumg itu mengalir sebuah Kali Krasak yang dangkal dan tenang. Tak jauh dari pemberhentian lampu merah, di belakang gedung-gedung yang megah itu, nampak sederet rumah yang amat sederhana dan hampir tidak layak huni. Di sanalah seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Hartono tinggal bersama nenek satu-satunya. Kedua orang tuanya pergi merantau dan jarang mengunjungi mereka. Kehidupan yang sangat pas-pasan memaksa Hartono untuk tidak meneruskan sekolahnya. Sebelumnya, ia pernah memakan bangku sekolah, namun hanya sampai kelas tiga SD.
”Nek, aku pamit mau pergi dulu,” Hartono berpamitan pada neneknya yang sedang mengupas singkong di depan rumah.
”Hati-hati, Ton....,” jawab Nenek dengan suara parau.
Berbekal alat musik sederhana buatan sendiri, Hartono dan kawan-kawannya mencari rejeki dengan mengamen. Kadang juga menjualkan koran milik salah satu pedagang.

Jaket kulit bertuliskan Nevada diambilnya dari gantungan pakaian. Dengan mengenakan celana panjang ala kadarnya dan topi berwarna coklat serta tas kecil berisi buku catatan kecil, pagi itu, Ratih bersemangat sekali hendak melakukan observasi secara langsung di daerah yang telah didatangi kemarin. Luna dan Ve sudah menunggu di depan sambil menikmati soto buatan ibu.
”Come on, my friends. Let’s go.....!,” ujar Ratih sambil ngeloyor dari kamar menuju tempat parkir. Lampu merah pertama yang mereka temui memaksa mereka untuk berhenti. Banyak anak-anak yang mulai terjun ke jalan untuk mengamen dan menjual koran. Bukan menjadi pemandangan yang asing lagi bagi mereka. Beberapa pengendara yang baik hati memberikan beberapa uang receh kepada anak-anak tersebut. Lampu kembali hijau, mereka meneruskan perjalanan. Mereka menitipkan sepeda motor di tempat parkir sebuah mall kemudian berjalan kaki menuju jembatan dan menuruni sebuah jalan yang ada di sebelah kiri jembatan. Setelah melihat dari dekat, ternyata kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Bangunan-bangunan rumah yang sederhana berjejer saling berdekatan dihiasi jemuran baju-baju mereka yang sudah kusut dan tertambal-tambal. Gemericik air sungai yang masih jernih sedikit menyejukkan pikiran mereka di tengah lilitan hutang dan kemelut masalah ekonomi.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih pada seorang nenek yang sedang sibuk mengupas singkong di depan rumah.
”Selamat pagi, Mbak!” nenek itu menjawab seketika tetap sambil mengupas singkong yang ada di tangannya.
”Perkenalkan, Nek, nama saya Ratih.”
”Saya Luna.”
”Saya Ve.” Kemudian Nenek itu bangkit dan menyalami mereka dengan ramah sambil mengenalkan diri. Hartiah nama nenek itu.
”Sebelumnya, kami mohon maaf telah mengganggu Nenek. Kami ke sini hanya ingin mengunjungi Nenek dan ingin lebih kenal dengan Nenek,” ucap Ratih sopan.
”Nenek ini bukan siapa-siapa kok kalian ingin kenal dengan Nenek,” jawab Nenek dengan nada bercanda.
Setelah cukup berbasa-basi, mereka akhirnya dapat berbincang-bincang dan mengajak nenek bercanda. Mereka pun membantu nenek mengupas singkong.
”Singkong-singkong ini nanam sendiri ya, Nek?” tanya Ve.
”Iya, Mbak. Itu di belakang rumah. Hidup di pinggiran begini kalau mau menanam masih bisa menghasilkan,” jawab Nenek.
”Tanah di sini subur, ya? Ini singkongnya besar-besar,” ucap Luna sambil meletakkan singkong yang selesai dikupasnya ke dalam ember. Nenek hanya menjawabnya dengan senyum.
”Setelah ini singkongnya mau dibuat apa, Nek?” tanya Ratih.
”Dijadikan gaplek,” jawab Nenek singkat
”Gaplek itu kayak apa sih? Trus bikinnya gimana?” tiba-tiba Luna bertanya dengan logat Jakartanya.
”Gaplek itu singkong yang sudah dijemur sampai kering kan, Nek?” jawab Ratih menjawab pertanyaan Luna.
Seorang anak kecil berbadan kurus berlari-lari menghampiri nenek dan mencium tangannya. Anak kecil itu adalah anak yang mereka buntuti kemarin.
”Salaman dulu Ton, sama Mbak-mbak ini!” perintah nenek pada anak kecil itu. Anak itu kemudian berjabat tangan dengan mereka bertiga sambil memperkenalkan diri. Nama anak itu Hartono. Sambil menunduk dan tersenyum Hartono meninggalkan mereka bertiga menuju ke dalam rumah. Meminum segelas air putih kemudian pergi lagi bersama teman-temannya. Biasanya Hartono memang selalu pulang untuk minum saat tengah hari.
Semenjak pertemuan dan perkenalan dengan nenek itu, Ratih menjadi semakin sering mengunjungi nenek dan berkeliling di daerah itu untuk mengumpulkan data. Terkadang Ratih pergi ke tempat itu hanya sendiri. Lama-lama Ratih menjadi semakin akrab dengan nenek, Hartono, dan beberapa anak gelandangan. Di saat waktu luang, Ratih sesekali membantu Hartono berjualan koran. Nenek Hartiah sempat cerita pada Ratih bahwa beliau pernah membuka usaha memproduksi dan berjualan tempe selama bertahun-tahun bahkan sudah memiliki banyak pelanggan. Namun, akhir-akhir ini, harga kedelai naik dan harga bahan pokok lain juga beranjak naik seakan tak peduli betapa menderitanya warga miskin tercekik harga yang begitu melambung. Terpaksa nenek harus gulung tikar karena mengalami kebangkrutan dan tidak mungkin meminjam modal lagi karena hutangnya sudah terlampau banyak. Kini, Nenek Hartiah dan Hartono menjalani kehidupan mereka sesuai kemampuan. Nenek beralih profesi membuat gaplek dari singkong kemudian dijualnya ke pasar. Sedangkan Hartono tetap sebagai sebagai pengamen dan pedagang koran keliling.
Siang itu, setelah pulang kuliah, Ratih hendak pergi ke tempat nenek sendirian karena Luna dan Ve pergi ke warnet mencari beberapa informasi sebagai referensi dan melakukan pekerjaan lain seperti membuka friendster atau chatting. Ratih melangkahkan kakinya dengan ringan setelah membeli beberapa makanan untuk nenek dan Hartono. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia terkejut. Ia melihat Hartono tak jauh dari tempatnya berdiri. Ratih terkejut karena ia melihat Hartono sedang mencopet sebuah dompet milik seorang ibu yang nampaknya elit dengan dandanannya yang menor dan penampilan serba mewah. Tono berhasil mengambil dompet ibu itu, kemudian berjalan mundur perlahan penuh waspada. Setelah terpaut beberapa meter, ia berlari kencang. Untung tidak ada orang yang menyaksikan adegan itu sehingga tak ada orang yang mengejar Hartono. Ratih tak menduga kalau Hartono berani mencopet. Tanpa berfikir panjang Ratih berlari mengejar Hartono.
”Hartono ........!!!” teriak Ratih sambil terengah-engah. Hartono tidak menoleh, ia semakin cepat berlari.
”Hartono ..........!!!” teriakan Ratih semakin keras. Hartono menoleh dan mulai memperlambat larinya. Ratih hampir dapat mengejar Hartono. Ratih berhasil meraih bahu Hartono dan menyuruhnya berhenti. Muka Hartono nampak pucat dan penuh penyesalan.
”Kenapa kamu mencopet?” tanya Ratih sambil mengatur nafasnya. Hartono hanya terdiam karena malu. Matanya mulai berkaca-kaca kemudian menangis tetapi ditahan.
”Kamu kenapa, Ton?” pertanyaan Ratih serasa bertubi-tubi di telinga Hartono. Hartono semakin terisak. Ratih mencoba menenangkan Hartono dan mengajaknya duduk di trotoar.
”Nenek, Mbak,” ucap Hartono lirih.
”Nenek kenapa, Ton?” tanya Ratih menyela ucapan Hartono sebelum ia sempat meneruskannya.
”Nenek sakit. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak punya uang, Mbak,” jawab Hartono. Namun, ucapannya tersendat-sendat.
”Kalau begitu, ayo kita cepat ke tempat nenekmu!” ajak Ratih panik.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ratih dan Hartono segera menuju rumah nenek. Sesampainya di muka pintu rumah Hartono, Ratih segera membuka pintu. Dilihatnya Nenek Hartiah sedang terbaring lemas dan nampak pucat di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu berselimut kain tipis. Ratih berlari mendekati nenek dan semakin panik saat menyentuh kening nenek yang terasa hangat sekali.
”Ton, Nenek sudah dikasih obat, belum?”
”Belum, Mbak.”
”Ayo, kita bawa Nenek ke puskesmas!” seru Ratih. Kemudian, Ratih berlari memanggil ojek. Setelah kembali ia menuntun nenek berjalan menuju motor. ”Masih kuat dibonceng kan, Nek?”
”Hati-hati, ya, Mas!” seru Ratih pada tukang ojek.
”Ton, kamu ikut aku!” ajak Ratih pada Hartono untuk pergi ke puskesmas bersama Ratih mengendarai motor milik Ratih.
Setelah pulang dari puskesmas, Ratih menuntun nenek untuk berbaring kembali supaya nenek beristirahat.
”Nek, makan dulu, ya, sebelum minum obat,” ucap Ratih sambil membuka makanan yang ia bawa tadi. Hartono mengambilkan sendok. Dengan sabar, Ratih menyuapi nenek. Nenek hanya mau makan sedikit saja. Dengan cekatan, Hartono mengambilkan segelas air putih untuk nenek. Setelah meminum obat, nenek kembali beristirahat.
Ratih menghampiri Hartono yang duduk di depan. Mereka terlarut dalam keramaian suasana di sekitar. Namun, mereka berdua terpaku dalam diam. Tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Beberapa menit berlalu begitu saja, Ratih hanya memandangi Hartono tetapi Hartono tak berani memandang Ratih.
”Sejak kapan Nenek sakit?’ tanya Ratih, dengan senyum ramahnya, mencoba memulai pembicaraan. Hartono terkejut karena Ratih hanya menanyakan hal itu dan tidak mengungkit kejadian tadi atau mungkin belum. Padahal keringat sudah mengalir banyak dan membasahi kepala Hartono.
”Em....., sejak tadi pagi,” jawab Hartono serak. Mereka terdiam lagi selama beberapa saat.
”Dompet yang kamu copet tadi?” tanya Ratih tiba-tiba.
”Ini, Mbak,” ucap Hartono gemetar sambil mengeluarkan dompet dari dalam bajunya.
”Sudah berapa kali kamu mencopet? Sepertinya kamu pencopet yang sudah berpengalaman,” Ratih bertanya bak penyidik yang sedang menginterogasi tersangkanya.
”Baru satu kali. Itupun karena terpaksa,”
”Walaupun terpaksa, seharusnya kamu jangan melakukan perbuatan itu! Kamu tahu mencopet itu tidak baik, kan?”
Hartono mengangguk.
”Ya, sudah. Besok kita serahkan dompet ini ke kantor polisi saja. Dan jangan diulangi lagi, ya! Pernah liat copet dikeroyok?”
Hartono kembali mengangguk.
”Kamu ingin dikeroyok juga?”
Hartono menggeleng. ”Tapi kan sebelum mencopet aku sudah latihan dulu,” ucap Hartono sambil tersenyum simpul.
”Haaa, copet pun ada latihannya dulu sebelum beraksi?” tanya Ratih keheranan. ”Siapa yang nglatih?”
”Mbak mau latihan jadi pencopet? Boleh deh kapan-kapan aku ajak ke tempat latihannya.”
”Maksud loh....??? Tapi boleh juga, jadi penasaran.” Mungkin bisa dijadikan objek tambahan buat penelitian sekalian tambah pengalaman, pikir Ratih dalam hati.

Beberapa pemuda berjaket kulit hitam dan bertato sangar duduk di atas drum-drum di sebelah gedung tua kosong tak berpenghuni. Seseorang yang nampaknya menjadi ketua kelompok itu berkeliling mengamati anggota kelompoknya yang duduk secara rapi. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada gadis yang baru dilihat pertama kali olehnya.
”Kamu siapa?” tanya orang itu sedikit membentak.
”Ini teman saya, Bang,” jawab Hartono.
Orang itu tetap memandang Ratih dengan tatapan curiga, kemudian berlalu begitu saja. Orang itu segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk segera melatih para pemula. Yaa, ini adalah tempat latihan bagi para pencopet junior. Aneh sekali, para pencopet pun mempunyai suatu kelompok yang terorganisasi secara terselubung. Para pelatih yang tentunya sudah ahli memperagakan trik-trik mencopet, segera mengambil posisi masing-masing. Pertama-tama mereka melatih kecepatan tangan, cara mengelabuhi target dan melatih cara membaca situasi bahkan lirikan dan pandangan mata pun ada trik yang aman dan pas untuk mencopet. Ratih mengamati setiap trik dan gerakan yang diperagakan oleh para pelatih. Mereka juga mengajari trik-trik berkomunikasi dengan pencopet lain yang sedang beraksi. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan bagi Ratih. Kini ia tahu gerak-gerik seorang pencopet dan ia menjadi lebih waspada. Walaupun Ratih telah mengetahui trik-trik cara mencopet namun, ia berjanji tidak akan mempraktekkan ilmu yang telah ia peroleh tersebut.
Ratih saat ini benar-benar dalam keadaan terjepit. Ia menghadapi situasi diluar dugaannya. Beberapa orang yang bertubuh kekar yang ia lihat kemarin di sebuah gedung tua sedang memojokkan Hartono dan dirinya, bagaikan harimau yang siap menerka mangsanya. Orang itu memaksa meminta uang setoran hasil copetan kepada Hartono tetapi Hartono sudah lama tidak mencopet. Ratih mencoba membela Hartono. Apa daya tenaganya tak mungkin mampu untuk melawan. Dua preman berdiri di hadapan mereka sambil mengancam. Ini pemerasan. Hartono bersembunyi di belakang Ratih. Ratih merasakan ketakutan, jantungnya berpacu cepat, matanya tak berani menatap kedua orang itu. Bahkan ia tak dapat mencari peluang untuk kabur. Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah benda tajam untuk mengancam. Ratih dan Hartono menjatuhkan diri. Tangan orang yang satunya mulai melayang karena Ratih berteriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba seorang pemuda menangkis tangan salah seorang preman yang akan memukul Ratih.
”Sabar, Bang .....!” seru pemuda yang memakai sleyer sebagai pengikat kepala itu. ”Dua orang ini teman saya,” ucapnya lagi. Preman-preman itu menatap pemuda itu dengan sorot mata tajam kemudian pergi meninggalkan mereka. Ratih menengadah dan memandangi pemuda yang menolongnya dari ujung kaki sampai kepala. Tiba-tiba matanya terbelalak bahkan jantungnya malah berpacu sedikit lebih cepat.
”Mas Wahyu!” panggil Hartono pada pemuda itu.
”Ton, kamu sudah kenal Mas Wahyu?” tanya Ratih heran.
”Mbak sudah kenal juga?” tanya Hartono balik bertanya.
”Untung ada Mas Wahyu. Jantungku hampir copot,” kata Ratih sambil menghela nafas lega.
”Aku cuma kebetulan lewat,” jawab Mas Wahyu merendahkan diri.
”Makasih, ya Mas,” ucap Ratih lagi. Sikap Ratih kali ini jadi sedikit salah tingkah. Mereka berjalan bersama meningalkan tempat itu.
”Mas Wahyu mau kemana?” tanya Hartono.
”Emm .... mau ketempat anak-anak,” jawab Mas Wahyu.
”Aku ikut ya? Mbak Ratih juga ikut kan?” tanya Hartono dan bermaksud mengajak Ratih. Dalam perjalanan, Hartono menceritakan semua tentang Mas Wahyu yang sebelumnya Ratih hanya mengenal Mas Wahyu sebagai penjual daging sapi.
”Mas Wahyu ini orangnya baik, Mbak. Mas Wahyu pula yang ngelindungi kami dari preman-preman yang suka menadah. Mas Wahyu juga mendirikan rumah singgah bagi anak-anak gelandangan,” ujar Hartono membanggakan Mas Wahyu.
”O... ya??? Kok aku belum pernah tahu? Mas Yoyok juga belum pernah cerita,” kata Ratih agak sedikit menggerutu.
”Mbak Ratih kenal sama Mas Yoyok juga?” tanya Hartono.
”Mas Yoyok kan kakakku,” jawab Ratih.
”Mas Yoyok juga sering ke sini sama Mas Wahyu,” kata Hartono.
Ya, maklum kalau Mas Yoyok sering main ketempat ini bersama Mas Wahyu. Mereka kan teman sejak SMA. Mas Wahyu sebenarnya adalah anak penjual daging yang sudah sukses. Namun, Mas Wahyu selalu berpenampilan sederhana. Aku jadi tambah ngefans sama Mas Wahyu, pikir Ratih dalam hati sambil cengar-cengir. Mas Wahyu memandang Ratih dengan heran.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah singgah sederhana tapi nyaman. Rumah itu berdiri kokoh, di belakangnya mengalir sebuah sungai jernih yamg semakin menambah kesejukan. Sinar matahari pagi dapat langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka dan jendela-jendela dengan desain yang unik. Bangunan rumah itu semuanya terbuat dari kayu dan bilik bambu. Anak-anak itu senang dengan bunga dan tumbuh-tumbuhan sehingga mereka membuat taman yang indah di depan dengan sebuah kolam. Saat itu hanya ada tiga anak yang masih berada di rumah. Seluruh anak yang ada di rumah itu berjumlah 12 anak, mereka semua berasal dari jalanan. Entah sebenarnya mereka masih punya orang tua atau tidak. Setiap pagi mereka pergi mencari rejeki. Mas Wahyu memang sengaja memperbolehkan mereka mencari rejeki sendiri supaya mereka menjadi lebih mandiri. Mereka sering menikmati hasil jerih payah mereka bersama-sama. Semangat kekeluargaan mereka memang sangat tinggi. Mas Wahyu hanya memberikan bantuan seperlunya. Tiga anak itu segera menghampiri Mas Wahyu dan mencium tangan Mas Wahyu.
”Hallo teman-teman, kenalkan ini Mbak Ratih,” ucap Hartono sambil menunjuk Ratih. Anak-anak itu kemudian menyalami Ratih. Setelah Mas Wahyu cukup berbincang-bincang dengan mereka, Mas Wahyu berpamitan pulang.
”Ratih juga mau pulang, Mas,” ucap Ratih sambil beranjak berdiri.
”Hartono pulang nanti kok, Mbak,” kata Hartono.
”Kamu mau saya antar?” Wahyu memberi tawaran kepada Ratih.
”Makasih, Mas. Tadi saya pake motor sendiri,” tolak Ratih dengan sopan. Namun, sebenarnya dalam hati, Ratih juga ingin diantar pulang ke rumah.

”Selamat sore, Bu!” sapa seorang pemuda kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menata soto pesanan pelanggan.
”Eh, Nak Wahyu,” jawab ibu itu.
”Yoyok ada, Bu?”
”Sepertinya ada di teras samping.”
”Wahyu ke sana dulu, ya? Permisi .......”
Seketika itu, Wahyu meninggalkan seorang ibu pemilik warung soto yang sedang melayani pelanggan. Dari tempat ia berdiri semula, Wahyu melangkahkan kakinya ke arah kanan. Melalui sebuah halaman kecil berumput yang tertata rapi batu-batu kerikil dan tanaman penghias. Di sebelah kanan ada sebuah pagar tembok yang ditumbuhi tanaman binahong, sejenis tanaman yang berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit bisa juga untuk dimakan mentah-mentah. Ia melihat Yoyok sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu anyaman. Ia duduk dengan dua kaki berada pada salah satu tangan kursi sambil memetik gitar dengan alunan Raege. Ia memainkan alat musiknya itu dengan lincah layaknya seorang musisi yang sudah tersohor. Dihadapannya tumbuh sebatang pohon mangga yang tumbuh subur tetapi sedang tidak berbuah yang membuat teras itu semakin teduh. Tiba-tiba ia berhenti sejenak ketika ia melihat sahabatnya sejak SMA datang, padahal sangat jarang sekali sahabatnya itu mampir.
”Hy, Bro...!!! Apa kabar? Dah lama nggak nongol,” sapa Yoyok sambil meletakkan gitar dan mejabat tangan Wahyu erat-erat seperti dua orang yang belum pernah bertemu selama bertahun-tahun dan berabad-abad. Padahal terakhir mereka bertemu waktu Yoyok menghantar Ratih membeli daging.
”Yach....,seperti yang kamu liat aku masih hidupkan?” jawab Wahyu dengan nada bercanda.
”Ehm..., tumben mampir kesini mau cari siapa nich?”
”Eh, kemarin aku ketemu sama adikmu di daerah anjal. Dia ngapain?” tanya Wahyu sedikit mengecilkan suara.
”Tanya aja sendiri!” jawab Yoyok kemudian kembali memainkan gitarrnya.
”Makin canggih aja Lho main gitarnya,” kata Wahyu memuji. ”Sini aku pinjam sebentar.”
Yoyok meminjamkan gitarnya pada Wahyu. Wahyu juga jago main gitar. Dulu waktu SMA, mereka suka ngeband bareng. Mereka saling bercakap-cakap dan bercanda. Membicarakan apapun yang dapat dibicarakan mengenai masa SMA mereka dulu. Tiba-tiba Ratih nyelonong dengan handuk masih dikepala.
”Ups, ada Mas Wahyu...,” ucap Ratih sambil nyengar-nyengir.
”Hallu Ratih.....,” sapa Wahyu.
”Mas Yoyok curang!” bentak Ratih.
”Curang apaan?” sergah Yoyok.
”Kok sering ke tempat anjal nggak bilang-bilang sih?”
”Lah...., kamu kan nggak pernah nanya!!! Lagian aku juga udah lama nggak main ke sana.”
Ratih hanya memasang muka sebel khas anak kecil.
”Ratih nggak kuliah?” tanya Wahyu.
”Nanti jam satu, sekarang kan masih jam sebelas,” jawab Ratih.
Mereka saling terdiam. Hanya musik gitar yang di mainkan oleh Wahyu yang terdengar. Ratih membuka handuk yang ada di kepalanya, terurai panjang rambut panjang basah milik Ratih.
”Mas Wahyu, anak-anak di rumah singgah cari uangnya sendiri-sendiri, ya? Terus penghasilan mereka cukup buat makan?” tanya Ratih pada Wahyu yang sedang asyik memainkan gitar.
”Ya, cukup. Mereka itu kalau memperoleh penghasilan biasanya dibagi untuk makan bersama-sama berapapun hasilnya,” jawab Wahyu.
”Kalau keperluan lain seperti baju, selimut dan lain-lain itu bantuan dari Wahyu,” tambah Yoyok.
”Gimana kalau anak-anak itu kita arahkan untuk usaha lain supaya lebih mandiri?” tanya Ratih sambil menyisir rambutnya yang basah.
”Boleh juga,” ucap Wahyu singkat.
”Gimana kalau usaha menjual makanan yang mudah dibuat trus dijual. Biar nanti soal modal serahkan pada Ratih dan teman-teman,” usul Ratih dengan yakinnya.
”Emangnya kamu bisa masak?” ejek Yoyok pada Ratih.
”Begini-begini kan aku sering ngebantuin ibu buat makanan. Dari pada Mas Yoyok cuma ngebantuin ngabisin makanan doang!” timpal Ratih yang tidak terima mendengar ejekan kakaknya.
”Idenya lumayan juga. Bisa kita coba. Soal modal aku juga bisa bantu,” kata Wahyu.
”Okey deh!!! Aku mau memberi tahu teman-temanku dulu, ya?” kata Ratih semangat.
Hari berikutnya, saat hari masih pagi, Ratih, Luna, dan Ve berkunjung ke rumah Nenek Hartiah. Sebelumnya mereka sudah berencana mengajak Nenek Hartiah untuk ikut serta dalam bisnis mereka. Modal sudah terkumpulkan, kini tinggal merealisasikan usaha yang akan mereka jalankan.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih.
”Selamat pagi,” jawab Nenek yang saat itu sedang memasak.
”Kata Ratih, Nenek sakit, apakah sudah sembuh?” tanya Ve.
”Nenek sekarang sudah sembuh. Ini semua berkat bantuan Nak Ratih. Terima kasih banyak, Nak,” jawab Nenek.
”Ah, Nenek ini bisa saja. Sudah menjadi kewajiban kan Nek, menolong sesama yang sedang membutuhkan bantuan? Lagian Nenek sembuh berkat rahmat dari Allah,” kata Ratih sedikit tersipu.
”Nenek sedang masak apa tuch?” tanya Luna tiba-tiba.
”Ini Mbak, Nenek sedang membuat pisang goreng kesukaan Hartono.”
”Wah, pasti enak tuh,” ucap Luna.
”Nenek pandai memasak ya?” tanya Luna.
”Tidak kok Mbak, Nenek hanya bisa sedikit-sidikit.”
”Nenek bisa masak makanan apa saja?” tanya Ve.
”Makanan-makanan yang digoreng seperti tempe mendoan, tahu isi sayur, bikin kue-kue kering juga bisa,” jawab Nenek.
”Kebetulan banget Nek, kita mau bikin usaha jual makanan seperti itu di rumah singgah. Bagaimana kalau Nenek ngebantuin kita jadi juru masaknya?” tawar Ratih.
Wajah Nenek terlihat gembira mendengar tawaran dari Ratih. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Nenek Hartiah menerima tawaran dari Ratih. Ratih, Luna, dan Ve segera membeli bahan-bahan makanan di pasar. Bahan-bahan yang mereka beli sangat banyak sehingga Ratih menelepon kakaknya untuk membantu. Wahyu sudah mengumpulkan semua anak-anak di rumah singah dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu lagi mencari rejeki di jalanan yang panas.
”Hore..., Mbak Ratih datang!” teriak anak-anak ketika melihat Ratih dan teman-temannya sampai di rumah singgah. Anak-anak itu segera berlari dan membantu membawakan barang belanjaan. Mereka segera mengolah bahan-bahan yang telah ada. Nenek Hartiah membuat adonan makanan dan membumbui. Luna dan Ve membantu menggoreng makanan. Ratih bersama anak-anak perempuan membuat kripik singkong. Hasil penggorengan makanan yang pertama sudah matang. Setelah dicicipi, ternyata rasanya gurih dan enak. Anak laki-laki membungkusi keripik singkong buatan Ratih. Rasa keripiknya ada yang gurih dan ada yang pedas. Setelah semua makanan selesai dimasak, anak-anak yang berjumlah dua belas itu dan juga Hartono segera menjual makanan dengan cara berkeliling. Ratih, Luna, Ve, Yoyok, dan Wahyu juga ikut menjual makanan dengan cara menitipkan di warung-warung. Mereka saling bahu-membahu dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Dengan gigih dan semangat, anak-anak berpencar menawarkan makanan. Pada mulanya, orang-orang membeli hanya untuk mencicipi karena merasa iba. Namun, karena rasanya enak mereka membeli lebih banyak lagi.
Hari sudah menjelang sore, makanan yang mereka jual ternyata laris manis. Anak-anak kembali ke rumah singgah dengan gembira. Hasil yang mereka dapatkan pun cukup memuaskan bahkan melebihi pendapatan mereka sebelumnya. Ketika semua anak telah kembali, mereka berkumpul bersama.
”Pasti kalian semua lelah dan sudah lapar. Tadi Nenek Hartiah masak buat kalian,” ucap Ratih sambil membawa makanan dari dapur. ”Ngambilnya gantian ya, jangan berebut.” Anak-anak segera menikmati makanan buatan Nenek Hartiah. Tergurat perasaan gembira diwajah mereka.
”Nek, Nenek tinggal disini saja. Melanjutkan usaha ini bersama mereka,” pinta Wahyu kepada Nenek.
”Iya, Ton. Kamu tinggal di sini saja,” kata salah satu anak kepada Hartono. Hartono hanya memandang ke arah Nenek.
”Ayolah, Nek!” paksa mereka.
Nenek mengangguk. Di usianya yang sudah semakin tua, Nenek perlu teman dan hiburan dari anak-anak yang tinggal di rumah singgah ini. Selanjutnya, Neneklah yang menjalankan dan mengembangkan usaha makanan bersama anak-anak.

Sudah lama Ratih tidak datang ke rumah singgah karena ia harus menyelesaikan penyusunan laporan pertama yang ia buat. Minggu-minggu terakhir waktu pembuatan laporan, ia manfaatkan dengan baik karena ia tidak mau mendengar ocehan dari Pak Upoyo, dosennya itu. Ia berkali-kali harus merevisi laporannya agar Pak Upoyo tidak meremehkan Ratih yang masuk ke universitas itu berkat beasiswa. Kini Ratih juga lega karena jerih payahnya memperoleh hasil yang memuaskan dan ia mendapat simpati dari Pak Upoyo. Sambil menarik nafas lega, ia melirik tanggal dan ternyata besok adalah hari ulang tahunnya. Ia bahkan tidak mempunyai rencana, ulang tahunnya akan dirayakan atau tidak. Mata yang sudah semakin memberontak untuk dibuka dan hamparan kasur yang menggoda membuat Ratih tertidur karena kelelahan.
”Surprize...!” teriak Luna dan Ve nyelonong masuk ke kamar. Namun, tiba-tiba mereka terbengong karena melihat Ratih masih enak terhanyut dalam lelapnya.
”Tumben ni anak, jam segini masih tidur,” ucap Ve kemudian ia membuka jendela kamar yang berhadapan langsung dengan mentari pagi. Seberkas cahaya pagi masuk dan menyinari muka Ratih yang nampak berkilau karena mukanya masih berminyak.
”Surprize...!!!” teriak Luna dan Ve sambil membawa kue ulang tahun kecil sambil bergaya bak super model.
Ratih terpaksa mambuka matanya. Ia terkejut mendengar paduan suara yang gagal rekaman karena tiap kali rekaman soundnya pecah.
”Selamat ulang tahun, Sweety,” ucap mereka bergantian kemudian mencium pipi Ratih.
”Ya udah, sana mandi dulu! Kita kan ke sini mau pesta soalnya diundang sama ibumu,” kata Luna.
”Pesta apaan sich, aku nggak ngerti?” tanya Ratih heran.
”Lekas mandi dudu dech!” perintah Luna.
Setelah selesai mandi, Luna keluar dari kamarnya. Ia bingung kenapa warung tidak buka padahal ibu masak soto banyak.
”Udah selesai mandinya, Tih?” tanya ibu. ”Selamat ulang tahun.”
”Ada apa sich? Kok ibu masak tapi warung nggak buka?”
”Hari ini kan ulang tahun kamu. Kita mau ngerayainnya di rumah singgah sekalian syukuran karena ayahmu diterima jadi pegawai negeri,” kata ibu menjelaskan.
”O...gitu. Kok ibu tahu sich tentang rumah singgah? Aku juga lagi kangen nich sama anak-anak,” kata Ratih bergelayut manja dipelukan ibunya.
”Tuch, kakak kamu yang bilang,”
”Ah, kakakku.......”ucap Ratih sambil memeluk kakaknya.
Mereka tiba di rumah singgah. Mas Yoyok pergi entah ke mana karena tidak terlihat batang hidungnya. Anak-anak segera menghampiri Ratih dan menyalaminya. Mereka nampak lebih rapi. Ratih mulai memasuki rumah singgah bersama anak-anak. Dari arah depan, ia melihat Wahyu membawa kue brownies besar. Dahi Ratih berkerut, ia bahagia banget. Mereka berdua berdiri berhadapan di muka pintu.
”Happy Birthday,” suara khas Wahyu terdengar begitu indah ditelinga Ratih. Ratih hanya mengangguk karena ia tak mampu berkata apapun. Mereka saling bertatapan.
”Ehm...ada yang mau mendahului tuch,” teriak Mas Yoyok tiba-tiba.
Mereka semua tertawa dan menyanyikan lagu ’Selamat Ulang Tahun’ untuk Ratih.


1 komentar:

Antonius Hanas Wirawan mengatakan...

ide ceritanya baguz ky..
menyentuh.. hahhaa..
good job girl!!
i like it so much..
lanjutkan dg cerita2 lainnya..