Orang Muda Katolik (OMK) merupakan semua orang yang berjiwa muda dalam lingkup gereja katolik. Eits... Berjiwa muda??? Kakek-kakek pun bisa berjiwa muda. OMK yang dimaksud dalam gereja katolik adalah kita-kita yang berusia 13-35 tahun dengan syarat belum menikah. Nah, bisa dipastikan bahwa semua orang katolik yang termasuk dalam kategori tersebut adalah OMK.
Melihat bahwa OMK perlu suatu wadah untuk saling menguatkan dalam iman maka dibentuklah suatu organisasi yang beranggotakan para kaum muda seiman. Paradigma yang sering muncul adalah kaum muda yang tidak terlibat dalam suatu organisasi tersebut berarti bukan OMK.... Benarkah demikian??? Para kaum muda yang tergabung dalam suatu organisasi sangat bermanfaat hlo buat kelangsungan gereja kita. dan organisasi yang dibentuk itu sangat bermanfaat bagi kita... Dengan terlibat dalam organisasi tersebut kita dapat membantu mengembangkan gereja sekaligus mengembangkan diri. Pokoknya gak rugi deh kalau kita mau terlibat... Tetapi jangan berpikir kalau kita ikut mudika hanya sekedar untuk mencari keuntungan... Dan jangan tanyakan pula apa untungnya kita ikut mudika... Sekarang atau nanti pasti kita tahu sendiri jawabannya karna Tuhan tahu apa yang telah kita lakukan untuk kemajuan gerejanya....
Selamat Berkarya...!!!!
Enjoy the little things, for one day you may look back and realize they were the big things. -Robert Brault-
Selasa, 01 November 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
A Piece of White Love
“Dia itu menarik. Aku ngefans sama dia. Saat aku berada di dekatnya, saat itu pula aku tak ingin beranjak, aku ingin di dekatnya lebih lama lagi,” curhatku pada Unie.
“Cie....yang kemaren habis ketemu,” ledeknya padaku.
“Hahaha.....Lalalala....,” aku bernyanyi riang.
“Jadi, udah sampai mana hubunganmu sama dia?” tanya Unie penasaran.
Tiba-tiba aku nyengir nggak jelas. Mimik mukaku serta-merta berubah. Rasanya aku merasakan seperti berhenti bernafas, sesak. Senyumku pun hambar. Aku berpikir sampai dimana ya hubunganku sama dia.
“Emm, nggak tahu deh. Dia masih baik kok sama aku,” jawabku sekenanya.
“Masih baik?” tanya Unie heran.
“Yah, sepertinya dia tahu kalau aku ngefans sama dia. Kalau dia nggak suka kalau aku ngefans sama dia, dia kan bisa menjauh dariku,” jawabku.
“Krisan, Krisan.... Dasar sok inosen banget sih kamu. Bisa saja kan dia itu baik sama kamu karena dia itu memang ingin bersikap biasa aja sama kamu,” sanggahnya.
“Hmm, memang sikap dia ke aku biasa-biasa aja. Dia kan orangnya cuek,” jawabku mengiyakan.
“Tuh kan. Kamu yang terlalu lebay deh. Jangan terlalu berlebihan kalau suka sama seseorang. Apalagi kamu belum tahu kan perasaan dia ke kamu?” Unie mencoba menasehatiku.
“Aku tahu kok dia itu nggak ada perasaan ke aku,” jawabku lirih. “Tapi di ambil sisi positifnya aja ya... Yang penting aku selalu tambah semangat kalau ketemu sama dia,” sergahku.
“Huuu! Parah.... Itu namanya tergantung sama orang lain. Hati-hati lho ntar kamu bisa kecanduan,” katanya.
“Candu asmara kan enak. Membuat hati berbunga-bunga,” eyelku.
“Iya aku tahu, tapi bunga itu ada durinya kan, hati-hati ketusuk. Sakit, San,” Unie mencoba mengingatkanku.
“Akh, kenapa dirimu malah membuatku galau???” tanyaku sebel.
“Nggak gitu juga kale… Aku cuma ingin mengingatkanmu, soalnya aku pernah ngrasain sakitnya duri itu,” jawabnya.
“Ukh…. Iya, jenk… Aku tahu… Kamu kan udah cerita sampai beribu-ribu kali... Tapi kan sekarang udah punya penawar sakitmu itu kan.... Ecie….” jawabku menggodanya.
“Yah, yang jelas aku nggak ingin kamu merasakan sakit yang sama seperti aku dulu, ya.... Kalau kamu terlalu tergantung sama seseorang seperti yang kamu lakukan sekarang ini bisa bahaya. Gimana kalau suatu saat kamu nggak bisa bertemu dengannya, apalagi dia nggak memberimu semangat. Apa kamu yakin kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik?” kalimat tanya retoris mengakhir kalimatnya.
“Wah, so sweet banget sih punya sahabat kayak kamu.... Thanks banget ya… Tapi entahlah… Biar aku menata hatiku dulu… Aku juga nggak mau menyesal dua kali…” jawabku.
“Waduhh, malah keinget lagi ama mantan kamu itu ya?” kata Unie menyelidik.
“Nggak, tapi kenapa aku merasakan rasa yang sama kayak yang aku rasain sama mantan aku dulu y... Tapi aku jadi takut bakal ngrasain sakit yang sama....” curhatku lagi.
“Cuma kamu yang bisa mengatur hatimu. Jangan sampai kamu terjebak pada pengalaman masa lalu ya…. Jangan takut untuk mencintai, tapi jangan terlalu mencintai juga... Keep the spirit up and smile...”
Mencintai adalah merelakan seseorang mendapatkan kebahagiaan yang ia cari.
Dicintai adalah keberuntungan karena seseorang mau menerimamu apa adanya dan ia tetap mencari kebahagiaannya.
Saling mencintai adalah ketika kebahagiaan yang ditemukan tertuju pada dua hati yang saling mencari.
By: Airist Ratri Agatha
“Cie....yang kemaren habis ketemu,” ledeknya padaku.
“Hahaha.....Lalalala....,” aku bernyanyi riang.
“Jadi, udah sampai mana hubunganmu sama dia?” tanya Unie penasaran.
Tiba-tiba aku nyengir nggak jelas. Mimik mukaku serta-merta berubah. Rasanya aku merasakan seperti berhenti bernafas, sesak. Senyumku pun hambar. Aku berpikir sampai dimana ya hubunganku sama dia.
“Emm, nggak tahu deh. Dia masih baik kok sama aku,” jawabku sekenanya.
“Masih baik?” tanya Unie heran.
“Yah, sepertinya dia tahu kalau aku ngefans sama dia. Kalau dia nggak suka kalau aku ngefans sama dia, dia kan bisa menjauh dariku,” jawabku.
“Krisan, Krisan.... Dasar sok inosen banget sih kamu. Bisa saja kan dia itu baik sama kamu karena dia itu memang ingin bersikap biasa aja sama kamu,” sanggahnya.
“Hmm, memang sikap dia ke aku biasa-biasa aja. Dia kan orangnya cuek,” jawabku mengiyakan.
“Tuh kan. Kamu yang terlalu lebay deh. Jangan terlalu berlebihan kalau suka sama seseorang. Apalagi kamu belum tahu kan perasaan dia ke kamu?” Unie mencoba menasehatiku.
“Aku tahu kok dia itu nggak ada perasaan ke aku,” jawabku lirih. “Tapi di ambil sisi positifnya aja ya... Yang penting aku selalu tambah semangat kalau ketemu sama dia,” sergahku.
“Huuu! Parah.... Itu namanya tergantung sama orang lain. Hati-hati lho ntar kamu bisa kecanduan,” katanya.
“Candu asmara kan enak. Membuat hati berbunga-bunga,” eyelku.
“Iya aku tahu, tapi bunga itu ada durinya kan, hati-hati ketusuk. Sakit, San,” Unie mencoba mengingatkanku.
“Akh, kenapa dirimu malah membuatku galau???” tanyaku sebel.
“Nggak gitu juga kale… Aku cuma ingin mengingatkanmu, soalnya aku pernah ngrasain sakitnya duri itu,” jawabnya.
“Ukh…. Iya, jenk… Aku tahu… Kamu kan udah cerita sampai beribu-ribu kali... Tapi kan sekarang udah punya penawar sakitmu itu kan.... Ecie….” jawabku menggodanya.
“Yah, yang jelas aku nggak ingin kamu merasakan sakit yang sama seperti aku dulu, ya.... Kalau kamu terlalu tergantung sama seseorang seperti yang kamu lakukan sekarang ini bisa bahaya. Gimana kalau suatu saat kamu nggak bisa bertemu dengannya, apalagi dia nggak memberimu semangat. Apa kamu yakin kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik?” kalimat tanya retoris mengakhir kalimatnya.
“Wah, so sweet banget sih punya sahabat kayak kamu.... Thanks banget ya… Tapi entahlah… Biar aku menata hatiku dulu… Aku juga nggak mau menyesal dua kali…” jawabku.
“Waduhh, malah keinget lagi ama mantan kamu itu ya?” kata Unie menyelidik.
“Nggak, tapi kenapa aku merasakan rasa yang sama kayak yang aku rasain sama mantan aku dulu y... Tapi aku jadi takut bakal ngrasain sakit yang sama....” curhatku lagi.
“Cuma kamu yang bisa mengatur hatimu. Jangan sampai kamu terjebak pada pengalaman masa lalu ya…. Jangan takut untuk mencintai, tapi jangan terlalu mencintai juga... Keep the spirit up and smile...”
Mencintai adalah merelakan seseorang mendapatkan kebahagiaan yang ia cari.
Dicintai adalah keberuntungan karena seseorang mau menerimamu apa adanya dan ia tetap mencari kebahagiaannya.
Saling mencintai adalah ketika kebahagiaan yang ditemukan tertuju pada dua hati yang saling mencari.
By: Airist Ratri Agatha
Senin, 25 April 2011
Aku dan Kamu
Ak ingin kau tetap menjadi katalisator dlm hdpQ...
Ak ingin mengkloning sel hatiQ yg menyimpanmu...
Ak tdak ingin dekomposer menguraikan hatiQ,
karena hatiQ sdang bersinapsis dan bertransformasi ttg kamu...
Mungkinkah rasaQ dan rasamu seperti arus AC-DC yg mempunyai hub bolak-balik??
Semoga medan magnet yg dmiliki oleh cinta mempererat hub ini bila rasa kita sama...
Ak akan mengkuadratkan, mengalikan, dan menambah keyakinanQ akan dirimu...
Ak ingin mengkloning sel hatiQ yg menyimpanmu...
Ak tdak ingin dekomposer menguraikan hatiQ,
karena hatiQ sdang bersinapsis dan bertransformasi ttg kamu...
Mungkinkah rasaQ dan rasamu seperti arus AC-DC yg mempunyai hub bolak-balik??
Semoga medan magnet yg dmiliki oleh cinta mempererat hub ini bila rasa kita sama...
Ak akan mengkuadratkan, mengalikan, dan menambah keyakinanQ akan dirimu...
Sebuah Harapan
Aku bagaikan jatuh dalam jurang,
tebingnya sungguh terjal dan melelahkan untuk d daki...
Ak melihat bayanganmu d atas sana, seperti matahari...
Kau mengulurkan tanganmu untuk menolongQ, betapa senangN ak...
Namun, tanganmu sadja ternyata tak cukup untk meraihQ...
Kau memberiQ sebuah tali dan kuanggap it adalah tali kebahagiaan, hingga kau berhasil meraihQ... Kini ak tdak takut lagi saat kau menggenggam tanganQ...
Ku ingin selamanya begini tanpa ad perasaan ak akan jatuh lagi...
tebingnya sungguh terjal dan melelahkan untuk d daki...
Ak melihat bayanganmu d atas sana, seperti matahari...
Kau mengulurkan tanganmu untuk menolongQ, betapa senangN ak...
Namun, tanganmu sadja ternyata tak cukup untk meraihQ...
Kau memberiQ sebuah tali dan kuanggap it adalah tali kebahagiaan, hingga kau berhasil meraihQ... Kini ak tdak takut lagi saat kau menggenggam tanganQ...
Ku ingin selamanya begini tanpa ad perasaan ak akan jatuh lagi...
Debu-debu Jalanan
S
ebuah ruangan perkuliahan Fakultas Ilmu Sosiologi dalam keadaan hening. Seorang dosen sedang memberikan mata kuliah dengan penuh wibawa. Salah satu mahasiswi yang berada di dalam ruangan itu, sedang melamun sambil memperhatikan jam yang ada di tangannya. Jarum pada jam itu menunjukkan pukul 11.55, itu berarti lima menit lagi proses perkuliahan hari itu akan berakhir. Lima menit berlalu, mata kuliahpun akhirnya selesai.
“Besok kamu mau neliti apa, Tih?” tanya Luna pada Ratih yang sedari tadi memperhatikan jarum jam.
”Hah......?!! Penelitian apaan?” jawab Ratih sekenanya.
”Penelitian tentang pemuaian gas yang disebabkan oleh bertambahnya kalor,” jawab Luna dongkol.
”Emangnya kita anak Fisika? Kok dikasih tugas kayak gitu?” tanya Ratih heran.
”Aduh......!!! Ni anak! Emangnya dari tadi tuch kamu ngapain?” jawab Luna makin sebel.
”Aku nggak ngapa-ngapain. Btw, tadi Pak Upoyo ngasih tugas apa ke kita?”
”Tugas akhir semester membuat laporan tentang suatu penelitian keadaan sosial yang ada di sekitar kita, proyek penelitiannya bebas. Katanya sich, hanya ingin tahu kemampuan kita. Maklum, kita kan baru semester awal,” jawab Luna berusaha untuk sabar.
”Iya, nich...!. Kita baru semester awal, tapi udah dikasih tugas penelitian kayak gitu. Susah deh kuliah di kampus ternama.”
Setelah pulang dari kuliah, Ratih membantu ibunya berjualan soto di warung soto sederhana milik keluarga. Walaupun hanya warung kecil-kecilan nan sederhana, namun memiliki pelanggan yang tidak sedikit karena rasa sotonya sudah terkenal enak. Setiap pelanggan yang datang pasti mengajak pembeli lain yang belum pernah mencoba untuk mencicipi kelezatan soto itu. Lambat laun, usaha warung soto mereka berkembang. Ayah Ratih adalah seorang guru di sekolah swasta tidak jauh dari rumah mereka. Gaji yang pas-pasan membuat seluruh anggota keluarga mereka gigih untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ratih dapat masuk ke perguruan tinggi ternama di Yogyakarta itu berkat beasiswa yang ia peroleh dan dapat membayar biaya-biaya lain karena ia gemar mengirim tulisan-tulisannya ke majalah-majalah. Memang sejak dulu Ratih bercita-cita masuk ke perguruan tinggi tersebut. Maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia miliki. Ratih memiliki seorang kakak laki-laki yang juga kuliah di tempat yang sama. Sekarang ia sudah semester akhir dan akan menyusun skripsi untuk menyelesaikan pendidikannya. Nama aslinya Subagyo, namun lebih senang dipanggil Yoyok. Mas Yoyok ini orangnya cerewet dan suka bercanda serta sayang terhadap adiknya. Walaupun mereka sering berantem hanya karena masalah yang sepele, Ratih juga sayang dan merasa beruntung mempunyai kakak yang baik serta merasa bangga pada kakaknya karena dapat meringankan orang tua dengan bersedia kuliah sambil bekerja di sebuah bengkel yang dikelolanya.
”Tih......, daging sapinya habis. Kamu beli lagi, ya?” pinta Ibu.
”Yagh....., kok Ratih lagi sih, Bu? Tuch Mas Yoyok nggak ngapa-ngapain, cuman main gitar,” jawab Ratih sambil menunjuk ke arah Mas Yoyok.
”Ya, sudah.... Kalian berdua saja yang berangkat! Yoyok..., antarkan adikmu ini beli daging!” perintah Ibu pada Yoyok. Kemudian Mas Yoyok mencomot kunci motor yang ada di atas meja di dekatnya. Merekapun segera berangkat.
“Belinya dimana, Tih?” tanya Mas Yoyok
“Di tempat biasa aja. Yang agak murah,” jawab Ratih.
Akhirnya merekapun sampai di suatu tempat yang di sana-sini penuh dengan keramaian. Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar. Mas Yoyok memarkir sepeda motornya pada barisan motor yang tertata rapi di dekat pintu masuk Pasar Beringharjo. Setelah memarkir sepeda motor, mereka memasuki pasar dan menuju ke los daging sapi.
”Sore, Mas Wahyu.....!” sapa Ratih kepada salah satu penjual daging yang ada di tempat itu.
”Met sore juga, Mbak!” jawab pemuda tampan penjual daging yang berdiri di depan Ratih itu dengan sopan.
”Ekhhem......, mau beli daging ato ngeceng?” bisik Mas Yoyok menggoda.
”Aduh..!” Mas Yoyok teriak karena dicubit oleh Ratih.
”Tumben Mbak, sudah beli daging lagi? Pasti sudah kelarisan, ya?”
”Nggak juga....., makanya kalau ada waktu mampir ke warung, Mas!” ajak Ratih.
”Iya, Mbak. Kapan-kapan pasti mampir. Mau beli daging berapa kilo, Mbak?
“Sepuluh kilo saja.”
Setelah berpamitan, mereka menuju ke tempat parkir. Mas Yoyok menstarter motor bebek kesayangannya kemudian Ratih duduk dibelakang. Motor mulai melaju pelan dan meninggalkan tempat yang masih ramai di sore hari itu. Di perempatan jalan, lampu lalu lintas seakan menyuruh mereka berhenti dengan nyala lampu merahnya. Di sebelah kanan jalan, nampak pemandangan yang sudah tidak asing lagi di tempat itu. Seorang nenek yang renta sedang meminta sedekah dari para pengendara motor maupun mobil. Juga terdapat anak-anak kecil yang sedang mengamen. Sontak perasaan Ratih menjadi iba, di dalam hatinya ia bertanya-tanya. Mengapa ada seorang nenek tua yang berjalan tergopoh-gopoh ke sana ke mari meminta sedekah? Padahal sangat berbahaya sekali seorang nenek berjalan di jalanan yang ramai dan penuh lalu lalang kendaraan. Dan debu-debu jalanan bisa saja mengganggu kesehatannya. Sungguh malang nasib nenek itu. Kemana keluarganya? Tiba –tiba air mata iba penuh belas kasih menetes membasahi pipinya. Perasaannya menjadi tak menentu. Ia menangis tersedu-sedu karena tak dapat melakukan sesuatu. Lampu yang tadinya merah, kini telah menjadi hijau. Mas Yoyok memasukkan persneleng kemudian mengegas motornya, beranjak dari tempatnya berhenti. Mas Yoyok melirik ke arah spion. Ia melihat Ratih sedang menangis di belakangnya. Namun ia tetap membiarkan Ratih untuk meneruskan tangisnya. Mas Yoyok takut kalau ia bertanya mengapa Ratih menangis, tangisan Ratih malah semakin menjadi-jadi.
Perjalanan pulang telah berakhir. Mereka telah sampai di warung soto. Perasaan Ratih sudah mulai tenang. Ia mengusap air matanya, memberikan daging sapi kepada ibunya sambil tertunduk, kemudian berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka, sekalian mandi. Selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamarnya dengan handuk masih di kepala. Ia duduk di sebuah kursi kemudian menyalakan televisi. Mas Yoyok mendekati adik satu-satunya itu dan menanyakan apa yang terjadi saat di jalan tadi sore. Ratih tak menjawab dan tetap diam, pikirannya menerawang. Tiba-tiba ia melonjak dan berkata ,”Oh..., iya! Aku punya ide. Hahaha..... Terima kasih kakakku.” Ratih mencium kakaknya dan mulai bersemangat kembali. Mas Yoyok hanya diam sambil cengar-cengir heran melihat tingkah laku adiknya.
”Hallu, Cantik...........!!!!”sapa Ratih dengan antusias pada kedua sahabatnya.
”Hallu juga!”jawab Luna singkat.
”Ngomong-ngomong kalian udah punya rencana mau ngadain penelitian dimana, belum?”
”Aku sih belum, kalau kamu, Lun?” tanya Ve pada Luna.
”Yaaa...., belum sih,” jawab Luna.
”Kalau gitu nanti kalian berdua ikut aku ke suatu tempat. Okey...!!!”ajak Ratih.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Semua mahasiswa mencari tempat duduk masing-masing. Seorang dosen berkepala botak dan berbadan tegap yang terkenal killer memasuki ruangan itu. Namun saat itu ia tidak sendirian, ia masuk bersama seorang asisten barunya. Lumayan cakep juga. Pak Upoyo kemudian menyuruh asistennya itu membagikan kertas kuis. ” Busset..... kuis???? Kok nggak ngasih tahu kita-kita dulu, Pak?” teriak salah satu mahasiswa yang duduk di pojok ruangan. Setelah satu jam berlalu dan memeras otak cukup keras, akhirnya Ratih dapat mengerjakan kuis yang diberikan dengan baik. Dengan santainya, ia meninggalkan ruangan itu.
Siang itu matahari begitu terik, seakan-akan hendak memanggang orang-orang yang mengeluhkannya. Tapi cuaca pada siang itu tidak mengurungkan niat Ratih dan dua temannya untuk mencari tempat observasi yang akan mereka jadikan bahan penelitian.
”Emangnya kita mau kemana, Tih?” tanya Luna.
”Parkir dulu aja motornya di sini!”
Setelah mereka memarkir motor di dekat perempatan, mata mereka tertuju pada seorang bocah, mereka mengikuti bocah dekil itu memasuki sebuah gang kecil, melewati sebuah parit. Nampak seorang nenek namun, masih sehat sedang menghitung kardus-kardus di depan sebuah rumah kecil yang tidak layak huni. Bocah itu menghampiri nenek itu kemudian menyerahkan beberapa uang receh hasilnya mengamen kepada nenek itu kemudian memasuki rumah.
”Maksud kamu apa, Tih?” tanya Luna tiba-tiba.
”Itu yang akan menjadi objek penelitian kita. Siapa tahu kita dapat membantu mereka,”jawab Ratih mantab.
Kendaraan yang melintasi jalan provinsi itu amat banyak dan saling membunyikan klakson. Gedung-gedung megah dan bertingkat yang berderet di sepanjang jalan berdiri dengan kokoh seakan tidak menggubris kendaraan-kendaraan yang ramai di hadapan mereka. Mall, toko, rumah makan, hotel, dan sebagainya ditata apik dengan taman yang indah dan lampu penghias warna-warni. Di sebelah barat gedung-gedumg itu mengalir sebuah Kali Krasak yang dangkal dan tenang. Tak jauh dari pemberhentian lampu merah, di belakang gedung-gedung yang megah itu, nampak sederet rumah yang amat sederhana dan hampir tidak layak huni. Di sanalah seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Hartono tinggal bersama nenek satu-satunya. Kedua orang tuanya pergi merantau dan jarang mengunjungi mereka. Kehidupan yang sangat pas-pasan memaksa Hartono untuk tidak meneruskan sekolahnya. Sebelumnya, ia pernah memakan bangku sekolah, namun hanya sampai kelas tiga SD.
”Nek, aku pamit mau pergi dulu,” Hartono berpamitan pada neneknya yang sedang mengupas singkong di depan rumah.
”Hati-hati, Ton....,” jawab Nenek dengan suara parau.
Berbekal alat musik sederhana buatan sendiri, Hartono dan kawan-kawannya mencari rejeki dengan mengamen. Kadang juga menjualkan koran milik salah satu pedagang.
Jaket kulit bertuliskan Nevada diambilnya dari gantungan pakaian. Dengan mengenakan celana panjang ala kadarnya dan topi berwarna coklat serta tas kecil berisi buku catatan kecil, pagi itu, Ratih bersemangat sekali hendak melakukan observasi secara langsung di daerah yang telah didatangi kemarin. Luna dan Ve sudah menunggu di depan sambil menikmati soto buatan ibu.
”Come on, my friends. Let’s go.....!,” ujar Ratih sambil ngeloyor dari kamar menuju tempat parkir. Lampu merah pertama yang mereka temui memaksa mereka untuk berhenti. Banyak anak-anak yang mulai terjun ke jalan untuk mengamen dan menjual koran. Bukan menjadi pemandangan yang asing lagi bagi mereka. Beberapa pengendara yang baik hati memberikan beberapa uang receh kepada anak-anak tersebut. Lampu kembali hijau, mereka meneruskan perjalanan. Mereka menitipkan sepeda motor di tempat parkir sebuah mall kemudian berjalan kaki menuju jembatan dan menuruni sebuah jalan yang ada di sebelah kiri jembatan. Setelah melihat dari dekat, ternyata kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Bangunan-bangunan rumah yang sederhana berjejer saling berdekatan dihiasi jemuran baju-baju mereka yang sudah kusut dan tertambal-tambal. Gemericik air sungai yang masih jernih sedikit menyejukkan pikiran mereka di tengah lilitan hutang dan kemelut masalah ekonomi.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih pada seorang nenek yang sedang sibuk mengupas singkong di depan rumah.
”Selamat pagi, Mbak!” nenek itu menjawab seketika tetap sambil mengupas singkong yang ada di tangannya.
”Perkenalkan, Nek, nama saya Ratih.”
”Saya Luna.”
”Saya Ve.” Kemudian Nenek itu bangkit dan menyalami mereka dengan ramah sambil mengenalkan diri. Hartiah nama nenek itu.
”Sebelumnya, kami mohon maaf telah mengganggu Nenek. Kami ke sini hanya ingin mengunjungi Nenek dan ingin lebih kenal dengan Nenek,” ucap Ratih sopan.
”Nenek ini bukan siapa-siapa kok kalian ingin kenal dengan Nenek,” jawab Nenek dengan nada bercanda.
Setelah cukup berbasa-basi, mereka akhirnya dapat berbincang-bincang dan mengajak nenek bercanda. Mereka pun membantu nenek mengupas singkong.
”Singkong-singkong ini nanam sendiri ya, Nek?” tanya Ve.
”Iya, Mbak. Itu di belakang rumah. Hidup di pinggiran begini kalau mau menanam masih bisa menghasilkan,” jawab Nenek.
”Tanah di sini subur, ya? Ini singkongnya besar-besar,” ucap Luna sambil meletakkan singkong yang selesai dikupasnya ke dalam ember. Nenek hanya menjawabnya dengan senyum.
”Setelah ini singkongnya mau dibuat apa, Nek?” tanya Ratih.
”Dijadikan gaplek,” jawab Nenek singkat
”Gaplek itu kayak apa sih? Trus bikinnya gimana?” tiba-tiba Luna bertanya dengan logat Jakartanya.
”Gaplek itu singkong yang sudah dijemur sampai kering kan, Nek?” jawab Ratih menjawab pertanyaan Luna.
Seorang anak kecil berbadan kurus berlari-lari menghampiri nenek dan mencium tangannya. Anak kecil itu adalah anak yang mereka buntuti kemarin.
”Salaman dulu Ton, sama Mbak-mbak ini!” perintah nenek pada anak kecil itu. Anak itu kemudian berjabat tangan dengan mereka bertiga sambil memperkenalkan diri. Nama anak itu Hartono. Sambil menunduk dan tersenyum Hartono meninggalkan mereka bertiga menuju ke dalam rumah. Meminum segelas air putih kemudian pergi lagi bersama teman-temannya. Biasanya Hartono memang selalu pulang untuk minum saat tengah hari.
Semenjak pertemuan dan perkenalan dengan nenek itu, Ratih menjadi semakin sering mengunjungi nenek dan berkeliling di daerah itu untuk mengumpulkan data. Terkadang Ratih pergi ke tempat itu hanya sendiri. Lama-lama Ratih menjadi semakin akrab dengan nenek, Hartono, dan beberapa anak gelandangan. Di saat waktu luang, Ratih sesekali membantu Hartono berjualan koran. Nenek Hartiah sempat cerita pada Ratih bahwa beliau pernah membuka usaha memproduksi dan berjualan tempe selama bertahun-tahun bahkan sudah memiliki banyak pelanggan. Namun, akhir-akhir ini, harga kedelai naik dan harga bahan pokok lain juga beranjak naik seakan tak peduli betapa menderitanya warga miskin tercekik harga yang begitu melambung. Terpaksa nenek harus gulung tikar karena mengalami kebangkrutan dan tidak mungkin meminjam modal lagi karena hutangnya sudah terlampau banyak. Kini, Nenek Hartiah dan Hartono menjalani kehidupan mereka sesuai kemampuan. Nenek beralih profesi membuat gaplek dari singkong kemudian dijualnya ke pasar. Sedangkan Hartono tetap sebagai sebagai pengamen dan pedagang koran keliling.
Siang itu, setelah pulang kuliah, Ratih hendak pergi ke tempat nenek sendirian karena Luna dan Ve pergi ke warnet mencari beberapa informasi sebagai referensi dan melakukan pekerjaan lain seperti membuka friendster atau chatting. Ratih melangkahkan kakinya dengan ringan setelah membeli beberapa makanan untuk nenek dan Hartono. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia terkejut. Ia melihat Hartono tak jauh dari tempatnya berdiri. Ratih terkejut karena ia melihat Hartono sedang mencopet sebuah dompet milik seorang ibu yang nampaknya elit dengan dandanannya yang menor dan penampilan serba mewah. Tono berhasil mengambil dompet ibu itu, kemudian berjalan mundur perlahan penuh waspada. Setelah terpaut beberapa meter, ia berlari kencang. Untung tidak ada orang yang menyaksikan adegan itu sehingga tak ada orang yang mengejar Hartono. Ratih tak menduga kalau Hartono berani mencopet. Tanpa berfikir panjang Ratih berlari mengejar Hartono.
”Hartono ........!!!” teriak Ratih sambil terengah-engah. Hartono tidak menoleh, ia semakin cepat berlari.
”Hartono ..........!!!” teriakan Ratih semakin keras. Hartono menoleh dan mulai memperlambat larinya. Ratih hampir dapat mengejar Hartono. Ratih berhasil meraih bahu Hartono dan menyuruhnya berhenti. Muka Hartono nampak pucat dan penuh penyesalan.
”Kenapa kamu mencopet?” tanya Ratih sambil mengatur nafasnya. Hartono hanya terdiam karena malu. Matanya mulai berkaca-kaca kemudian menangis tetapi ditahan.
”Kamu kenapa, Ton?” pertanyaan Ratih serasa bertubi-tubi di telinga Hartono. Hartono semakin terisak. Ratih mencoba menenangkan Hartono dan mengajaknya duduk di trotoar.
”Nenek, Mbak,” ucap Hartono lirih.
”Nenek kenapa, Ton?” tanya Ratih menyela ucapan Hartono sebelum ia sempat meneruskannya.
”Nenek sakit. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak punya uang, Mbak,” jawab Hartono. Namun, ucapannya tersendat-sendat.
”Kalau begitu, ayo kita cepat ke tempat nenekmu!” ajak Ratih panik.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ratih dan Hartono segera menuju rumah nenek. Sesampainya di muka pintu rumah Hartono, Ratih segera membuka pintu. Dilihatnya Nenek Hartiah sedang terbaring lemas dan nampak pucat di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu berselimut kain tipis. Ratih berlari mendekati nenek dan semakin panik saat menyentuh kening nenek yang terasa hangat sekali.
”Ton, Nenek sudah dikasih obat, belum?”
”Belum, Mbak.”
”Ayo, kita bawa Nenek ke puskesmas!” seru Ratih. Kemudian, Ratih berlari memanggil ojek. Setelah kembali ia menuntun nenek berjalan menuju motor. ”Masih kuat dibonceng kan, Nek?”
”Hati-hati, ya, Mas!” seru Ratih pada tukang ojek.
”Ton, kamu ikut aku!” ajak Ratih pada Hartono untuk pergi ke puskesmas bersama Ratih mengendarai motor milik Ratih.
Setelah pulang dari puskesmas, Ratih menuntun nenek untuk berbaring kembali supaya nenek beristirahat.
”Nek, makan dulu, ya, sebelum minum obat,” ucap Ratih sambil membuka makanan yang ia bawa tadi. Hartono mengambilkan sendok. Dengan sabar, Ratih menyuapi nenek. Nenek hanya mau makan sedikit saja. Dengan cekatan, Hartono mengambilkan segelas air putih untuk nenek. Setelah meminum obat, nenek kembali beristirahat.
Ratih menghampiri Hartono yang duduk di depan. Mereka terlarut dalam keramaian suasana di sekitar. Namun, mereka berdua terpaku dalam diam. Tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Beberapa menit berlalu begitu saja, Ratih hanya memandangi Hartono tetapi Hartono tak berani memandang Ratih.
”Sejak kapan Nenek sakit?’ tanya Ratih, dengan senyum ramahnya, mencoba memulai pembicaraan. Hartono terkejut karena Ratih hanya menanyakan hal itu dan tidak mengungkit kejadian tadi atau mungkin belum. Padahal keringat sudah mengalir banyak dan membasahi kepala Hartono.
”Em....., sejak tadi pagi,” jawab Hartono serak. Mereka terdiam lagi selama beberapa saat.
”Dompet yang kamu copet tadi?” tanya Ratih tiba-tiba.
”Ini, Mbak,” ucap Hartono gemetar sambil mengeluarkan dompet dari dalam bajunya.
”Sudah berapa kali kamu mencopet? Sepertinya kamu pencopet yang sudah berpengalaman,” Ratih bertanya bak penyidik yang sedang menginterogasi tersangkanya.
”Baru satu kali. Itupun karena terpaksa,”
”Walaupun terpaksa, seharusnya kamu jangan melakukan perbuatan itu! Kamu tahu mencopet itu tidak baik, kan?”
Hartono mengangguk.
”Ya, sudah. Besok kita serahkan dompet ini ke kantor polisi saja. Dan jangan diulangi lagi, ya! Pernah liat copet dikeroyok?”
Hartono kembali mengangguk.
”Kamu ingin dikeroyok juga?”
Hartono menggeleng. ”Tapi kan sebelum mencopet aku sudah latihan dulu,” ucap Hartono sambil tersenyum simpul.
”Haaa, copet pun ada latihannya dulu sebelum beraksi?” tanya Ratih keheranan. ”Siapa yang nglatih?”
”Mbak mau latihan jadi pencopet? Boleh deh kapan-kapan aku ajak ke tempat latihannya.”
”Maksud loh....??? Tapi boleh juga, jadi penasaran.” Mungkin bisa dijadikan objek tambahan buat penelitian sekalian tambah pengalaman, pikir Ratih dalam hati.
Beberapa pemuda berjaket kulit hitam dan bertato sangar duduk di atas drum-drum di sebelah gedung tua kosong tak berpenghuni. Seseorang yang nampaknya menjadi ketua kelompok itu berkeliling mengamati anggota kelompoknya yang duduk secara rapi. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada gadis yang baru dilihat pertama kali olehnya.
”Kamu siapa?” tanya orang itu sedikit membentak.
”Ini teman saya, Bang,” jawab Hartono.
Orang itu tetap memandang Ratih dengan tatapan curiga, kemudian berlalu begitu saja. Orang itu segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk segera melatih para pemula. Yaa, ini adalah tempat latihan bagi para pencopet junior. Aneh sekali, para pencopet pun mempunyai suatu kelompok yang terorganisasi secara terselubung. Para pelatih yang tentunya sudah ahli memperagakan trik-trik mencopet, segera mengambil posisi masing-masing. Pertama-tama mereka melatih kecepatan tangan, cara mengelabuhi target dan melatih cara membaca situasi bahkan lirikan dan pandangan mata pun ada trik yang aman dan pas untuk mencopet. Ratih mengamati setiap trik dan gerakan yang diperagakan oleh para pelatih. Mereka juga mengajari trik-trik berkomunikasi dengan pencopet lain yang sedang beraksi. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan bagi Ratih. Kini ia tahu gerak-gerik seorang pencopet dan ia menjadi lebih waspada. Walaupun Ratih telah mengetahui trik-trik cara mencopet namun, ia berjanji tidak akan mempraktekkan ilmu yang telah ia peroleh tersebut.
Ratih saat ini benar-benar dalam keadaan terjepit. Ia menghadapi situasi diluar dugaannya. Beberapa orang yang bertubuh kekar yang ia lihat kemarin di sebuah gedung tua sedang memojokkan Hartono dan dirinya, bagaikan harimau yang siap menerka mangsanya. Orang itu memaksa meminta uang setoran hasil copetan kepada Hartono tetapi Hartono sudah lama tidak mencopet. Ratih mencoba membela Hartono. Apa daya tenaganya tak mungkin mampu untuk melawan. Dua preman berdiri di hadapan mereka sambil mengancam. Ini pemerasan. Hartono bersembunyi di belakang Ratih. Ratih merasakan ketakutan, jantungnya berpacu cepat, matanya tak berani menatap kedua orang itu. Bahkan ia tak dapat mencari peluang untuk kabur. Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah benda tajam untuk mengancam. Ratih dan Hartono menjatuhkan diri. Tangan orang yang satunya mulai melayang karena Ratih berteriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba seorang pemuda menangkis tangan salah seorang preman yang akan memukul Ratih.
”Sabar, Bang .....!” seru pemuda yang memakai sleyer sebagai pengikat kepala itu. ”Dua orang ini teman saya,” ucapnya lagi. Preman-preman itu menatap pemuda itu dengan sorot mata tajam kemudian pergi meninggalkan mereka. Ratih menengadah dan memandangi pemuda yang menolongnya dari ujung kaki sampai kepala. Tiba-tiba matanya terbelalak bahkan jantungnya malah berpacu sedikit lebih cepat.
”Mas Wahyu!” panggil Hartono pada pemuda itu.
”Ton, kamu sudah kenal Mas Wahyu?” tanya Ratih heran.
”Mbak sudah kenal juga?” tanya Hartono balik bertanya.
”Untung ada Mas Wahyu. Jantungku hampir copot,” kata Ratih sambil menghela nafas lega.
”Aku cuma kebetulan lewat,” jawab Mas Wahyu merendahkan diri.
”Makasih, ya Mas,” ucap Ratih lagi. Sikap Ratih kali ini jadi sedikit salah tingkah. Mereka berjalan bersama meningalkan tempat itu.
”Mas Wahyu mau kemana?” tanya Hartono.
”Emm .... mau ketempat anak-anak,” jawab Mas Wahyu.
”Aku ikut ya? Mbak Ratih juga ikut kan?” tanya Hartono dan bermaksud mengajak Ratih. Dalam perjalanan, Hartono menceritakan semua tentang Mas Wahyu yang sebelumnya Ratih hanya mengenal Mas Wahyu sebagai penjual daging sapi.
”Mas Wahyu ini orangnya baik, Mbak. Mas Wahyu pula yang ngelindungi kami dari preman-preman yang suka menadah. Mas Wahyu juga mendirikan rumah singgah bagi anak-anak gelandangan,” ujar Hartono membanggakan Mas Wahyu.
”O... ya??? Kok aku belum pernah tahu? Mas Yoyok juga belum pernah cerita,” kata Ratih agak sedikit menggerutu.
”Mbak Ratih kenal sama Mas Yoyok juga?” tanya Hartono.
”Mas Yoyok kan kakakku,” jawab Ratih.
”Mas Yoyok juga sering ke sini sama Mas Wahyu,” kata Hartono.
Ya, maklum kalau Mas Yoyok sering main ketempat ini bersama Mas Wahyu. Mereka kan teman sejak SMA. Mas Wahyu sebenarnya adalah anak penjual daging yang sudah sukses. Namun, Mas Wahyu selalu berpenampilan sederhana. Aku jadi tambah ngefans sama Mas Wahyu, pikir Ratih dalam hati sambil cengar-cengir. Mas Wahyu memandang Ratih dengan heran.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah singgah sederhana tapi nyaman. Rumah itu berdiri kokoh, di belakangnya mengalir sebuah sungai jernih yamg semakin menambah kesejukan. Sinar matahari pagi dapat langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka dan jendela-jendela dengan desain yang unik. Bangunan rumah itu semuanya terbuat dari kayu dan bilik bambu. Anak-anak itu senang dengan bunga dan tumbuh-tumbuhan sehingga mereka membuat taman yang indah di depan dengan sebuah kolam. Saat itu hanya ada tiga anak yang masih berada di rumah. Seluruh anak yang ada di rumah itu berjumlah 12 anak, mereka semua berasal dari jalanan. Entah sebenarnya mereka masih punya orang tua atau tidak. Setiap pagi mereka pergi mencari rejeki. Mas Wahyu memang sengaja memperbolehkan mereka mencari rejeki sendiri supaya mereka menjadi lebih mandiri. Mereka sering menikmati hasil jerih payah mereka bersama-sama. Semangat kekeluargaan mereka memang sangat tinggi. Mas Wahyu hanya memberikan bantuan seperlunya. Tiga anak itu segera menghampiri Mas Wahyu dan mencium tangan Mas Wahyu.
”Hallo teman-teman, kenalkan ini Mbak Ratih,” ucap Hartono sambil menunjuk Ratih. Anak-anak itu kemudian menyalami Ratih. Setelah Mas Wahyu cukup berbincang-bincang dengan mereka, Mas Wahyu berpamitan pulang.
”Ratih juga mau pulang, Mas,” ucap Ratih sambil beranjak berdiri.
”Hartono pulang nanti kok, Mbak,” kata Hartono.
”Kamu mau saya antar?” Wahyu memberi tawaran kepada Ratih.
”Makasih, Mas. Tadi saya pake motor sendiri,” tolak Ratih dengan sopan. Namun, sebenarnya dalam hati, Ratih juga ingin diantar pulang ke rumah.
”Selamat sore, Bu!” sapa seorang pemuda kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menata soto pesanan pelanggan.
”Eh, Nak Wahyu,” jawab ibu itu.
”Yoyok ada, Bu?”
”Sepertinya ada di teras samping.”
”Wahyu ke sana dulu, ya? Permisi .......”
Seketika itu, Wahyu meninggalkan seorang ibu pemilik warung soto yang sedang melayani pelanggan. Dari tempat ia berdiri semula, Wahyu melangkahkan kakinya ke arah kanan. Melalui sebuah halaman kecil berumput yang tertata rapi batu-batu kerikil dan tanaman penghias. Di sebelah kanan ada sebuah pagar tembok yang ditumbuhi tanaman binahong, sejenis tanaman yang berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit bisa juga untuk dimakan mentah-mentah. Ia melihat Yoyok sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu anyaman. Ia duduk dengan dua kaki berada pada salah satu tangan kursi sambil memetik gitar dengan alunan Raege. Ia memainkan alat musiknya itu dengan lincah layaknya seorang musisi yang sudah tersohor. Dihadapannya tumbuh sebatang pohon mangga yang tumbuh subur tetapi sedang tidak berbuah yang membuat teras itu semakin teduh. Tiba-tiba ia berhenti sejenak ketika ia melihat sahabatnya sejak SMA datang, padahal sangat jarang sekali sahabatnya itu mampir.
”Hy, Bro...!!! Apa kabar? Dah lama nggak nongol,” sapa Yoyok sambil meletakkan gitar dan mejabat tangan Wahyu erat-erat seperti dua orang yang belum pernah bertemu selama bertahun-tahun dan berabad-abad. Padahal terakhir mereka bertemu waktu Yoyok menghantar Ratih membeli daging.
”Yach....,seperti yang kamu liat aku masih hidupkan?” jawab Wahyu dengan nada bercanda.
”Ehm..., tumben mampir kesini mau cari siapa nich?”
”Eh, kemarin aku ketemu sama adikmu di daerah anjal. Dia ngapain?” tanya Wahyu sedikit mengecilkan suara.
”Tanya aja sendiri!” jawab Yoyok kemudian kembali memainkan gitarrnya.
”Makin canggih aja Lho main gitarnya,” kata Wahyu memuji. ”Sini aku pinjam sebentar.”
Yoyok meminjamkan gitarnya pada Wahyu. Wahyu juga jago main gitar. Dulu waktu SMA, mereka suka ngeband bareng. Mereka saling bercakap-cakap dan bercanda. Membicarakan apapun yang dapat dibicarakan mengenai masa SMA mereka dulu. Tiba-tiba Ratih nyelonong dengan handuk masih dikepala.
”Ups, ada Mas Wahyu...,” ucap Ratih sambil nyengar-nyengir.
”Hallu Ratih.....,” sapa Wahyu.
”Mas Yoyok curang!” bentak Ratih.
”Curang apaan?” sergah Yoyok.
”Kok sering ke tempat anjal nggak bilang-bilang sih?”
”Lah...., kamu kan nggak pernah nanya!!! Lagian aku juga udah lama nggak main ke sana.”
Ratih hanya memasang muka sebel khas anak kecil.
”Ratih nggak kuliah?” tanya Wahyu.
”Nanti jam satu, sekarang kan masih jam sebelas,” jawab Ratih.
Mereka saling terdiam. Hanya musik gitar yang di mainkan oleh Wahyu yang terdengar. Ratih membuka handuk yang ada di kepalanya, terurai panjang rambut panjang basah milik Ratih.
”Mas Wahyu, anak-anak di rumah singgah cari uangnya sendiri-sendiri, ya? Terus penghasilan mereka cukup buat makan?” tanya Ratih pada Wahyu yang sedang asyik memainkan gitar.
”Ya, cukup. Mereka itu kalau memperoleh penghasilan biasanya dibagi untuk makan bersama-sama berapapun hasilnya,” jawab Wahyu.
”Kalau keperluan lain seperti baju, selimut dan lain-lain itu bantuan dari Wahyu,” tambah Yoyok.
”Gimana kalau anak-anak itu kita arahkan untuk usaha lain supaya lebih mandiri?” tanya Ratih sambil menyisir rambutnya yang basah.
”Boleh juga,” ucap Wahyu singkat.
”Gimana kalau usaha menjual makanan yang mudah dibuat trus dijual. Biar nanti soal modal serahkan pada Ratih dan teman-teman,” usul Ratih dengan yakinnya.
”Emangnya kamu bisa masak?” ejek Yoyok pada Ratih.
”Begini-begini kan aku sering ngebantuin ibu buat makanan. Dari pada Mas Yoyok cuma ngebantuin ngabisin makanan doang!” timpal Ratih yang tidak terima mendengar ejekan kakaknya.
”Idenya lumayan juga. Bisa kita coba. Soal modal aku juga bisa bantu,” kata Wahyu.
”Okey deh!!! Aku mau memberi tahu teman-temanku dulu, ya?” kata Ratih semangat.
Hari berikutnya, saat hari masih pagi, Ratih, Luna, dan Ve berkunjung ke rumah Nenek Hartiah. Sebelumnya mereka sudah berencana mengajak Nenek Hartiah untuk ikut serta dalam bisnis mereka. Modal sudah terkumpulkan, kini tinggal merealisasikan usaha yang akan mereka jalankan.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih.
”Selamat pagi,” jawab Nenek yang saat itu sedang memasak.
”Kata Ratih, Nenek sakit, apakah sudah sembuh?” tanya Ve.
”Nenek sekarang sudah sembuh. Ini semua berkat bantuan Nak Ratih. Terima kasih banyak, Nak,” jawab Nenek.
”Ah, Nenek ini bisa saja. Sudah menjadi kewajiban kan Nek, menolong sesama yang sedang membutuhkan bantuan? Lagian Nenek sembuh berkat rahmat dari Allah,” kata Ratih sedikit tersipu.
”Nenek sedang masak apa tuch?” tanya Luna tiba-tiba.
”Ini Mbak, Nenek sedang membuat pisang goreng kesukaan Hartono.”
”Wah, pasti enak tuh,” ucap Luna.
”Nenek pandai memasak ya?” tanya Luna.
”Tidak kok Mbak, Nenek hanya bisa sedikit-sidikit.”
”Nenek bisa masak makanan apa saja?” tanya Ve.
”Makanan-makanan yang digoreng seperti tempe mendoan, tahu isi sayur, bikin kue-kue kering juga bisa,” jawab Nenek.
”Kebetulan banget Nek, kita mau bikin usaha jual makanan seperti itu di rumah singgah. Bagaimana kalau Nenek ngebantuin kita jadi juru masaknya?” tawar Ratih.
Wajah Nenek terlihat gembira mendengar tawaran dari Ratih. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Nenek Hartiah menerima tawaran dari Ratih. Ratih, Luna, dan Ve segera membeli bahan-bahan makanan di pasar. Bahan-bahan yang mereka beli sangat banyak sehingga Ratih menelepon kakaknya untuk membantu. Wahyu sudah mengumpulkan semua anak-anak di rumah singah dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu lagi mencari rejeki di jalanan yang panas.
”Hore..., Mbak Ratih datang!” teriak anak-anak ketika melihat Ratih dan teman-temannya sampai di rumah singgah. Anak-anak itu segera berlari dan membantu membawakan barang belanjaan. Mereka segera mengolah bahan-bahan yang telah ada. Nenek Hartiah membuat adonan makanan dan membumbui. Luna dan Ve membantu menggoreng makanan. Ratih bersama anak-anak perempuan membuat kripik singkong. Hasil penggorengan makanan yang pertama sudah matang. Setelah dicicipi, ternyata rasanya gurih dan enak. Anak laki-laki membungkusi keripik singkong buatan Ratih. Rasa keripiknya ada yang gurih dan ada yang pedas. Setelah semua makanan selesai dimasak, anak-anak yang berjumlah dua belas itu dan juga Hartono segera menjual makanan dengan cara berkeliling. Ratih, Luna, Ve, Yoyok, dan Wahyu juga ikut menjual makanan dengan cara menitipkan di warung-warung. Mereka saling bahu-membahu dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Dengan gigih dan semangat, anak-anak berpencar menawarkan makanan. Pada mulanya, orang-orang membeli hanya untuk mencicipi karena merasa iba. Namun, karena rasanya enak mereka membeli lebih banyak lagi.
Hari sudah menjelang sore, makanan yang mereka jual ternyata laris manis. Anak-anak kembali ke rumah singgah dengan gembira. Hasil yang mereka dapatkan pun cukup memuaskan bahkan melebihi pendapatan mereka sebelumnya. Ketika semua anak telah kembali, mereka berkumpul bersama.
”Pasti kalian semua lelah dan sudah lapar. Tadi Nenek Hartiah masak buat kalian,” ucap Ratih sambil membawa makanan dari dapur. ”Ngambilnya gantian ya, jangan berebut.” Anak-anak segera menikmati makanan buatan Nenek Hartiah. Tergurat perasaan gembira diwajah mereka.
”Nek, Nenek tinggal disini saja. Melanjutkan usaha ini bersama mereka,” pinta Wahyu kepada Nenek.
”Iya, Ton. Kamu tinggal di sini saja,” kata salah satu anak kepada Hartono. Hartono hanya memandang ke arah Nenek.
”Ayolah, Nek!” paksa mereka.
Nenek mengangguk. Di usianya yang sudah semakin tua, Nenek perlu teman dan hiburan dari anak-anak yang tinggal di rumah singgah ini. Selanjutnya, Neneklah yang menjalankan dan mengembangkan usaha makanan bersama anak-anak.
Sudah lama Ratih tidak datang ke rumah singgah karena ia harus menyelesaikan penyusunan laporan pertama yang ia buat. Minggu-minggu terakhir waktu pembuatan laporan, ia manfaatkan dengan baik karena ia tidak mau mendengar ocehan dari Pak Upoyo, dosennya itu. Ia berkali-kali harus merevisi laporannya agar Pak Upoyo tidak meremehkan Ratih yang masuk ke universitas itu berkat beasiswa. Kini Ratih juga lega karena jerih payahnya memperoleh hasil yang memuaskan dan ia mendapat simpati dari Pak Upoyo. Sambil menarik nafas lega, ia melirik tanggal dan ternyata besok adalah hari ulang tahunnya. Ia bahkan tidak mempunyai rencana, ulang tahunnya akan dirayakan atau tidak. Mata yang sudah semakin memberontak untuk dibuka dan hamparan kasur yang menggoda membuat Ratih tertidur karena kelelahan.
”Surprize...!” teriak Luna dan Ve nyelonong masuk ke kamar. Namun, tiba-tiba mereka terbengong karena melihat Ratih masih enak terhanyut dalam lelapnya.
”Tumben ni anak, jam segini masih tidur,” ucap Ve kemudian ia membuka jendela kamar yang berhadapan langsung dengan mentari pagi. Seberkas cahaya pagi masuk dan menyinari muka Ratih yang nampak berkilau karena mukanya masih berminyak.
”Surprize...!!!” teriak Luna dan Ve sambil membawa kue ulang tahun kecil sambil bergaya bak super model.
Ratih terpaksa mambuka matanya. Ia terkejut mendengar paduan suara yang gagal rekaman karena tiap kali rekaman soundnya pecah.
”Selamat ulang tahun, Sweety,” ucap mereka bergantian kemudian mencium pipi Ratih.
”Ya udah, sana mandi dulu! Kita kan ke sini mau pesta soalnya diundang sama ibumu,” kata Luna.
”Pesta apaan sich, aku nggak ngerti?” tanya Ratih heran.
”Lekas mandi dudu dech!” perintah Luna.
Setelah selesai mandi, Luna keluar dari kamarnya. Ia bingung kenapa warung tidak buka padahal ibu masak soto banyak.
”Udah selesai mandinya, Tih?” tanya ibu. ”Selamat ulang tahun.”
”Ada apa sich? Kok ibu masak tapi warung nggak buka?”
”Hari ini kan ulang tahun kamu. Kita mau ngerayainnya di rumah singgah sekalian syukuran karena ayahmu diterima jadi pegawai negeri,” kata ibu menjelaskan.
”O...gitu. Kok ibu tahu sich tentang rumah singgah? Aku juga lagi kangen nich sama anak-anak,” kata Ratih bergelayut manja dipelukan ibunya.
”Tuch, kakak kamu yang bilang,”
”Ah, kakakku.......”ucap Ratih sambil memeluk kakaknya.
Mereka tiba di rumah singgah. Mas Yoyok pergi entah ke mana karena tidak terlihat batang hidungnya. Anak-anak segera menghampiri Ratih dan menyalaminya. Mereka nampak lebih rapi. Ratih mulai memasuki rumah singgah bersama anak-anak. Dari arah depan, ia melihat Wahyu membawa kue brownies besar. Dahi Ratih berkerut, ia bahagia banget. Mereka berdua berdiri berhadapan di muka pintu.
”Happy Birthday,” suara khas Wahyu terdengar begitu indah ditelinga Ratih. Ratih hanya mengangguk karena ia tak mampu berkata apapun. Mereka saling bertatapan.
”Ehm...ada yang mau mendahului tuch,” teriak Mas Yoyok tiba-tiba.
Mereka semua tertawa dan menyanyikan lagu ’Selamat Ulang Tahun’ untuk Ratih.
ebuah ruangan perkuliahan Fakultas Ilmu Sosiologi dalam keadaan hening. Seorang dosen sedang memberikan mata kuliah dengan penuh wibawa. Salah satu mahasiswi yang berada di dalam ruangan itu, sedang melamun sambil memperhatikan jam yang ada di tangannya. Jarum pada jam itu menunjukkan pukul 11.55, itu berarti lima menit lagi proses perkuliahan hari itu akan berakhir. Lima menit berlalu, mata kuliahpun akhirnya selesai.
“Besok kamu mau neliti apa, Tih?” tanya Luna pada Ratih yang sedari tadi memperhatikan jarum jam.
”Hah......?!! Penelitian apaan?” jawab Ratih sekenanya.
”Penelitian tentang pemuaian gas yang disebabkan oleh bertambahnya kalor,” jawab Luna dongkol.
”Emangnya kita anak Fisika? Kok dikasih tugas kayak gitu?” tanya Ratih heran.
”Aduh......!!! Ni anak! Emangnya dari tadi tuch kamu ngapain?” jawab Luna makin sebel.
”Aku nggak ngapa-ngapain. Btw, tadi Pak Upoyo ngasih tugas apa ke kita?”
”Tugas akhir semester membuat laporan tentang suatu penelitian keadaan sosial yang ada di sekitar kita, proyek penelitiannya bebas. Katanya sich, hanya ingin tahu kemampuan kita. Maklum, kita kan baru semester awal,” jawab Luna berusaha untuk sabar.
”Iya, nich...!. Kita baru semester awal, tapi udah dikasih tugas penelitian kayak gitu. Susah deh kuliah di kampus ternama.”
Setelah pulang dari kuliah, Ratih membantu ibunya berjualan soto di warung soto sederhana milik keluarga. Walaupun hanya warung kecil-kecilan nan sederhana, namun memiliki pelanggan yang tidak sedikit karena rasa sotonya sudah terkenal enak. Setiap pelanggan yang datang pasti mengajak pembeli lain yang belum pernah mencoba untuk mencicipi kelezatan soto itu. Lambat laun, usaha warung soto mereka berkembang. Ayah Ratih adalah seorang guru di sekolah swasta tidak jauh dari rumah mereka. Gaji yang pas-pasan membuat seluruh anggota keluarga mereka gigih untuk berjuang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ratih dapat masuk ke perguruan tinggi ternama di Yogyakarta itu berkat beasiswa yang ia peroleh dan dapat membayar biaya-biaya lain karena ia gemar mengirim tulisan-tulisannya ke majalah-majalah. Memang sejak dulu Ratih bercita-cita masuk ke perguruan tinggi tersebut. Maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia miliki. Ratih memiliki seorang kakak laki-laki yang juga kuliah di tempat yang sama. Sekarang ia sudah semester akhir dan akan menyusun skripsi untuk menyelesaikan pendidikannya. Nama aslinya Subagyo, namun lebih senang dipanggil Yoyok. Mas Yoyok ini orangnya cerewet dan suka bercanda serta sayang terhadap adiknya. Walaupun mereka sering berantem hanya karena masalah yang sepele, Ratih juga sayang dan merasa beruntung mempunyai kakak yang baik serta merasa bangga pada kakaknya karena dapat meringankan orang tua dengan bersedia kuliah sambil bekerja di sebuah bengkel yang dikelolanya.
”Tih......, daging sapinya habis. Kamu beli lagi, ya?” pinta Ibu.
”Yagh....., kok Ratih lagi sih, Bu? Tuch Mas Yoyok nggak ngapa-ngapain, cuman main gitar,” jawab Ratih sambil menunjuk ke arah Mas Yoyok.
”Ya, sudah.... Kalian berdua saja yang berangkat! Yoyok..., antarkan adikmu ini beli daging!” perintah Ibu pada Yoyok. Kemudian Mas Yoyok mencomot kunci motor yang ada di atas meja di dekatnya. Merekapun segera berangkat.
“Belinya dimana, Tih?” tanya Mas Yoyok
“Di tempat biasa aja. Yang agak murah,” jawab Ratih.
Akhirnya merekapun sampai di suatu tempat yang di sana-sini penuh dengan keramaian. Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar. Mas Yoyok memarkir sepeda motornya pada barisan motor yang tertata rapi di dekat pintu masuk Pasar Beringharjo. Setelah memarkir sepeda motor, mereka memasuki pasar dan menuju ke los daging sapi.
”Sore, Mas Wahyu.....!” sapa Ratih kepada salah satu penjual daging yang ada di tempat itu.
”Met sore juga, Mbak!” jawab pemuda tampan penjual daging yang berdiri di depan Ratih itu dengan sopan.
”Ekhhem......, mau beli daging ato ngeceng?” bisik Mas Yoyok menggoda.
”Aduh..!” Mas Yoyok teriak karena dicubit oleh Ratih.
”Tumben Mbak, sudah beli daging lagi? Pasti sudah kelarisan, ya?”
”Nggak juga....., makanya kalau ada waktu mampir ke warung, Mas!” ajak Ratih.
”Iya, Mbak. Kapan-kapan pasti mampir. Mau beli daging berapa kilo, Mbak?
“Sepuluh kilo saja.”
Setelah berpamitan, mereka menuju ke tempat parkir. Mas Yoyok menstarter motor bebek kesayangannya kemudian Ratih duduk dibelakang. Motor mulai melaju pelan dan meninggalkan tempat yang masih ramai di sore hari itu. Di perempatan jalan, lampu lalu lintas seakan menyuruh mereka berhenti dengan nyala lampu merahnya. Di sebelah kanan jalan, nampak pemandangan yang sudah tidak asing lagi di tempat itu. Seorang nenek yang renta sedang meminta sedekah dari para pengendara motor maupun mobil. Juga terdapat anak-anak kecil yang sedang mengamen. Sontak perasaan Ratih menjadi iba, di dalam hatinya ia bertanya-tanya. Mengapa ada seorang nenek tua yang berjalan tergopoh-gopoh ke sana ke mari meminta sedekah? Padahal sangat berbahaya sekali seorang nenek berjalan di jalanan yang ramai dan penuh lalu lalang kendaraan. Dan debu-debu jalanan bisa saja mengganggu kesehatannya. Sungguh malang nasib nenek itu. Kemana keluarganya? Tiba –tiba air mata iba penuh belas kasih menetes membasahi pipinya. Perasaannya menjadi tak menentu. Ia menangis tersedu-sedu karena tak dapat melakukan sesuatu. Lampu yang tadinya merah, kini telah menjadi hijau. Mas Yoyok memasukkan persneleng kemudian mengegas motornya, beranjak dari tempatnya berhenti. Mas Yoyok melirik ke arah spion. Ia melihat Ratih sedang menangis di belakangnya. Namun ia tetap membiarkan Ratih untuk meneruskan tangisnya. Mas Yoyok takut kalau ia bertanya mengapa Ratih menangis, tangisan Ratih malah semakin menjadi-jadi.
Perjalanan pulang telah berakhir. Mereka telah sampai di warung soto. Perasaan Ratih sudah mulai tenang. Ia mengusap air matanya, memberikan daging sapi kepada ibunya sambil tertunduk, kemudian berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka, sekalian mandi. Selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari kamarnya dengan handuk masih di kepala. Ia duduk di sebuah kursi kemudian menyalakan televisi. Mas Yoyok mendekati adik satu-satunya itu dan menanyakan apa yang terjadi saat di jalan tadi sore. Ratih tak menjawab dan tetap diam, pikirannya menerawang. Tiba-tiba ia melonjak dan berkata ,”Oh..., iya! Aku punya ide. Hahaha..... Terima kasih kakakku.” Ratih mencium kakaknya dan mulai bersemangat kembali. Mas Yoyok hanya diam sambil cengar-cengir heran melihat tingkah laku adiknya.
”Hallu, Cantik...........!!!!”sapa Ratih dengan antusias pada kedua sahabatnya.
”Hallu juga!”jawab Luna singkat.
”Ngomong-ngomong kalian udah punya rencana mau ngadain penelitian dimana, belum?”
”Aku sih belum, kalau kamu, Lun?” tanya Ve pada Luna.
”Yaaa...., belum sih,” jawab Luna.
”Kalau gitu nanti kalian berdua ikut aku ke suatu tempat. Okey...!!!”ajak Ratih.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Semua mahasiswa mencari tempat duduk masing-masing. Seorang dosen berkepala botak dan berbadan tegap yang terkenal killer memasuki ruangan itu. Namun saat itu ia tidak sendirian, ia masuk bersama seorang asisten barunya. Lumayan cakep juga. Pak Upoyo kemudian menyuruh asistennya itu membagikan kertas kuis. ” Busset..... kuis???? Kok nggak ngasih tahu kita-kita dulu, Pak?” teriak salah satu mahasiswa yang duduk di pojok ruangan. Setelah satu jam berlalu dan memeras otak cukup keras, akhirnya Ratih dapat mengerjakan kuis yang diberikan dengan baik. Dengan santainya, ia meninggalkan ruangan itu.
Siang itu matahari begitu terik, seakan-akan hendak memanggang orang-orang yang mengeluhkannya. Tapi cuaca pada siang itu tidak mengurungkan niat Ratih dan dua temannya untuk mencari tempat observasi yang akan mereka jadikan bahan penelitian.
”Emangnya kita mau kemana, Tih?” tanya Luna.
”Parkir dulu aja motornya di sini!”
Setelah mereka memarkir motor di dekat perempatan, mata mereka tertuju pada seorang bocah, mereka mengikuti bocah dekil itu memasuki sebuah gang kecil, melewati sebuah parit. Nampak seorang nenek namun, masih sehat sedang menghitung kardus-kardus di depan sebuah rumah kecil yang tidak layak huni. Bocah itu menghampiri nenek itu kemudian menyerahkan beberapa uang receh hasilnya mengamen kepada nenek itu kemudian memasuki rumah.
”Maksud kamu apa, Tih?” tanya Luna tiba-tiba.
”Itu yang akan menjadi objek penelitian kita. Siapa tahu kita dapat membantu mereka,”jawab Ratih mantab.
Kendaraan yang melintasi jalan provinsi itu amat banyak dan saling membunyikan klakson. Gedung-gedung megah dan bertingkat yang berderet di sepanjang jalan berdiri dengan kokoh seakan tidak menggubris kendaraan-kendaraan yang ramai di hadapan mereka. Mall, toko, rumah makan, hotel, dan sebagainya ditata apik dengan taman yang indah dan lampu penghias warna-warni. Di sebelah barat gedung-gedumg itu mengalir sebuah Kali Krasak yang dangkal dan tenang. Tak jauh dari pemberhentian lampu merah, di belakang gedung-gedung yang megah itu, nampak sederet rumah yang amat sederhana dan hampir tidak layak huni. Di sanalah seorang anak berusia sepuluh tahun bernama Hartono tinggal bersama nenek satu-satunya. Kedua orang tuanya pergi merantau dan jarang mengunjungi mereka. Kehidupan yang sangat pas-pasan memaksa Hartono untuk tidak meneruskan sekolahnya. Sebelumnya, ia pernah memakan bangku sekolah, namun hanya sampai kelas tiga SD.
”Nek, aku pamit mau pergi dulu,” Hartono berpamitan pada neneknya yang sedang mengupas singkong di depan rumah.
”Hati-hati, Ton....,” jawab Nenek dengan suara parau.
Berbekal alat musik sederhana buatan sendiri, Hartono dan kawan-kawannya mencari rejeki dengan mengamen. Kadang juga menjualkan koran milik salah satu pedagang.
Jaket kulit bertuliskan Nevada diambilnya dari gantungan pakaian. Dengan mengenakan celana panjang ala kadarnya dan topi berwarna coklat serta tas kecil berisi buku catatan kecil, pagi itu, Ratih bersemangat sekali hendak melakukan observasi secara langsung di daerah yang telah didatangi kemarin. Luna dan Ve sudah menunggu di depan sambil menikmati soto buatan ibu.
”Come on, my friends. Let’s go.....!,” ujar Ratih sambil ngeloyor dari kamar menuju tempat parkir. Lampu merah pertama yang mereka temui memaksa mereka untuk berhenti. Banyak anak-anak yang mulai terjun ke jalan untuk mengamen dan menjual koran. Bukan menjadi pemandangan yang asing lagi bagi mereka. Beberapa pengendara yang baik hati memberikan beberapa uang receh kepada anak-anak tersebut. Lampu kembali hijau, mereka meneruskan perjalanan. Mereka menitipkan sepeda motor di tempat parkir sebuah mall kemudian berjalan kaki menuju jembatan dan menuruni sebuah jalan yang ada di sebelah kiri jembatan. Setelah melihat dari dekat, ternyata kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Bangunan-bangunan rumah yang sederhana berjejer saling berdekatan dihiasi jemuran baju-baju mereka yang sudah kusut dan tertambal-tambal. Gemericik air sungai yang masih jernih sedikit menyejukkan pikiran mereka di tengah lilitan hutang dan kemelut masalah ekonomi.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih pada seorang nenek yang sedang sibuk mengupas singkong di depan rumah.
”Selamat pagi, Mbak!” nenek itu menjawab seketika tetap sambil mengupas singkong yang ada di tangannya.
”Perkenalkan, Nek, nama saya Ratih.”
”Saya Luna.”
”Saya Ve.” Kemudian Nenek itu bangkit dan menyalami mereka dengan ramah sambil mengenalkan diri. Hartiah nama nenek itu.
”Sebelumnya, kami mohon maaf telah mengganggu Nenek. Kami ke sini hanya ingin mengunjungi Nenek dan ingin lebih kenal dengan Nenek,” ucap Ratih sopan.
”Nenek ini bukan siapa-siapa kok kalian ingin kenal dengan Nenek,” jawab Nenek dengan nada bercanda.
Setelah cukup berbasa-basi, mereka akhirnya dapat berbincang-bincang dan mengajak nenek bercanda. Mereka pun membantu nenek mengupas singkong.
”Singkong-singkong ini nanam sendiri ya, Nek?” tanya Ve.
”Iya, Mbak. Itu di belakang rumah. Hidup di pinggiran begini kalau mau menanam masih bisa menghasilkan,” jawab Nenek.
”Tanah di sini subur, ya? Ini singkongnya besar-besar,” ucap Luna sambil meletakkan singkong yang selesai dikupasnya ke dalam ember. Nenek hanya menjawabnya dengan senyum.
”Setelah ini singkongnya mau dibuat apa, Nek?” tanya Ratih.
”Dijadikan gaplek,” jawab Nenek singkat
”Gaplek itu kayak apa sih? Trus bikinnya gimana?” tiba-tiba Luna bertanya dengan logat Jakartanya.
”Gaplek itu singkong yang sudah dijemur sampai kering kan, Nek?” jawab Ratih menjawab pertanyaan Luna.
Seorang anak kecil berbadan kurus berlari-lari menghampiri nenek dan mencium tangannya. Anak kecil itu adalah anak yang mereka buntuti kemarin.
”Salaman dulu Ton, sama Mbak-mbak ini!” perintah nenek pada anak kecil itu. Anak itu kemudian berjabat tangan dengan mereka bertiga sambil memperkenalkan diri. Nama anak itu Hartono. Sambil menunduk dan tersenyum Hartono meninggalkan mereka bertiga menuju ke dalam rumah. Meminum segelas air putih kemudian pergi lagi bersama teman-temannya. Biasanya Hartono memang selalu pulang untuk minum saat tengah hari.
Semenjak pertemuan dan perkenalan dengan nenek itu, Ratih menjadi semakin sering mengunjungi nenek dan berkeliling di daerah itu untuk mengumpulkan data. Terkadang Ratih pergi ke tempat itu hanya sendiri. Lama-lama Ratih menjadi semakin akrab dengan nenek, Hartono, dan beberapa anak gelandangan. Di saat waktu luang, Ratih sesekali membantu Hartono berjualan koran. Nenek Hartiah sempat cerita pada Ratih bahwa beliau pernah membuka usaha memproduksi dan berjualan tempe selama bertahun-tahun bahkan sudah memiliki banyak pelanggan. Namun, akhir-akhir ini, harga kedelai naik dan harga bahan pokok lain juga beranjak naik seakan tak peduli betapa menderitanya warga miskin tercekik harga yang begitu melambung. Terpaksa nenek harus gulung tikar karena mengalami kebangkrutan dan tidak mungkin meminjam modal lagi karena hutangnya sudah terlampau banyak. Kini, Nenek Hartiah dan Hartono menjalani kehidupan mereka sesuai kemampuan. Nenek beralih profesi membuat gaplek dari singkong kemudian dijualnya ke pasar. Sedangkan Hartono tetap sebagai sebagai pengamen dan pedagang koran keliling.
Siang itu, setelah pulang kuliah, Ratih hendak pergi ke tempat nenek sendirian karena Luna dan Ve pergi ke warnet mencari beberapa informasi sebagai referensi dan melakukan pekerjaan lain seperti membuka friendster atau chatting. Ratih melangkahkan kakinya dengan ringan setelah membeli beberapa makanan untuk nenek dan Hartono. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia terkejut. Ia melihat Hartono tak jauh dari tempatnya berdiri. Ratih terkejut karena ia melihat Hartono sedang mencopet sebuah dompet milik seorang ibu yang nampaknya elit dengan dandanannya yang menor dan penampilan serba mewah. Tono berhasil mengambil dompet ibu itu, kemudian berjalan mundur perlahan penuh waspada. Setelah terpaut beberapa meter, ia berlari kencang. Untung tidak ada orang yang menyaksikan adegan itu sehingga tak ada orang yang mengejar Hartono. Ratih tak menduga kalau Hartono berani mencopet. Tanpa berfikir panjang Ratih berlari mengejar Hartono.
”Hartono ........!!!” teriak Ratih sambil terengah-engah. Hartono tidak menoleh, ia semakin cepat berlari.
”Hartono ..........!!!” teriakan Ratih semakin keras. Hartono menoleh dan mulai memperlambat larinya. Ratih hampir dapat mengejar Hartono. Ratih berhasil meraih bahu Hartono dan menyuruhnya berhenti. Muka Hartono nampak pucat dan penuh penyesalan.
”Kenapa kamu mencopet?” tanya Ratih sambil mengatur nafasnya. Hartono hanya terdiam karena malu. Matanya mulai berkaca-kaca kemudian menangis tetapi ditahan.
”Kamu kenapa, Ton?” pertanyaan Ratih serasa bertubi-tubi di telinga Hartono. Hartono semakin terisak. Ratih mencoba menenangkan Hartono dan mengajaknya duduk di trotoar.
”Nenek, Mbak,” ucap Hartono lirih.
”Nenek kenapa, Ton?” tanya Ratih menyela ucapan Hartono sebelum ia sempat meneruskannya.
”Nenek sakit. Aku bingung harus bagaimana. Aku tak punya uang, Mbak,” jawab Hartono. Namun, ucapannya tersendat-sendat.
”Kalau begitu, ayo kita cepat ke tempat nenekmu!” ajak Ratih panik.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ratih dan Hartono segera menuju rumah nenek. Sesampainya di muka pintu rumah Hartono, Ratih segera membuka pintu. Dilihatnya Nenek Hartiah sedang terbaring lemas dan nampak pucat di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu berselimut kain tipis. Ratih berlari mendekati nenek dan semakin panik saat menyentuh kening nenek yang terasa hangat sekali.
”Ton, Nenek sudah dikasih obat, belum?”
”Belum, Mbak.”
”Ayo, kita bawa Nenek ke puskesmas!” seru Ratih. Kemudian, Ratih berlari memanggil ojek. Setelah kembali ia menuntun nenek berjalan menuju motor. ”Masih kuat dibonceng kan, Nek?”
”Hati-hati, ya, Mas!” seru Ratih pada tukang ojek.
”Ton, kamu ikut aku!” ajak Ratih pada Hartono untuk pergi ke puskesmas bersama Ratih mengendarai motor milik Ratih.
Setelah pulang dari puskesmas, Ratih menuntun nenek untuk berbaring kembali supaya nenek beristirahat.
”Nek, makan dulu, ya, sebelum minum obat,” ucap Ratih sambil membuka makanan yang ia bawa tadi. Hartono mengambilkan sendok. Dengan sabar, Ratih menyuapi nenek. Nenek hanya mau makan sedikit saja. Dengan cekatan, Hartono mengambilkan segelas air putih untuk nenek. Setelah meminum obat, nenek kembali beristirahat.
Ratih menghampiri Hartono yang duduk di depan. Mereka terlarut dalam keramaian suasana di sekitar. Namun, mereka berdua terpaku dalam diam. Tak ada satupun yang berani memulai pembicaraan. Beberapa menit berlalu begitu saja, Ratih hanya memandangi Hartono tetapi Hartono tak berani memandang Ratih.
”Sejak kapan Nenek sakit?’ tanya Ratih, dengan senyum ramahnya, mencoba memulai pembicaraan. Hartono terkejut karena Ratih hanya menanyakan hal itu dan tidak mengungkit kejadian tadi atau mungkin belum. Padahal keringat sudah mengalir banyak dan membasahi kepala Hartono.
”Em....., sejak tadi pagi,” jawab Hartono serak. Mereka terdiam lagi selama beberapa saat.
”Dompet yang kamu copet tadi?” tanya Ratih tiba-tiba.
”Ini, Mbak,” ucap Hartono gemetar sambil mengeluarkan dompet dari dalam bajunya.
”Sudah berapa kali kamu mencopet? Sepertinya kamu pencopet yang sudah berpengalaman,” Ratih bertanya bak penyidik yang sedang menginterogasi tersangkanya.
”Baru satu kali. Itupun karena terpaksa,”
”Walaupun terpaksa, seharusnya kamu jangan melakukan perbuatan itu! Kamu tahu mencopet itu tidak baik, kan?”
Hartono mengangguk.
”Ya, sudah. Besok kita serahkan dompet ini ke kantor polisi saja. Dan jangan diulangi lagi, ya! Pernah liat copet dikeroyok?”
Hartono kembali mengangguk.
”Kamu ingin dikeroyok juga?”
Hartono menggeleng. ”Tapi kan sebelum mencopet aku sudah latihan dulu,” ucap Hartono sambil tersenyum simpul.
”Haaa, copet pun ada latihannya dulu sebelum beraksi?” tanya Ratih keheranan. ”Siapa yang nglatih?”
”Mbak mau latihan jadi pencopet? Boleh deh kapan-kapan aku ajak ke tempat latihannya.”
”Maksud loh....??? Tapi boleh juga, jadi penasaran.” Mungkin bisa dijadikan objek tambahan buat penelitian sekalian tambah pengalaman, pikir Ratih dalam hati.
Beberapa pemuda berjaket kulit hitam dan bertato sangar duduk di atas drum-drum di sebelah gedung tua kosong tak berpenghuni. Seseorang yang nampaknya menjadi ketua kelompok itu berkeliling mengamati anggota kelompoknya yang duduk secara rapi. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada gadis yang baru dilihat pertama kali olehnya.
”Kamu siapa?” tanya orang itu sedikit membentak.
”Ini teman saya, Bang,” jawab Hartono.
Orang itu tetap memandang Ratih dengan tatapan curiga, kemudian berlalu begitu saja. Orang itu segera menyuruh beberapa anak buahnya untuk segera melatih para pemula. Yaa, ini adalah tempat latihan bagi para pencopet junior. Aneh sekali, para pencopet pun mempunyai suatu kelompok yang terorganisasi secara terselubung. Para pelatih yang tentunya sudah ahli memperagakan trik-trik mencopet, segera mengambil posisi masing-masing. Pertama-tama mereka melatih kecepatan tangan, cara mengelabuhi target dan melatih cara membaca situasi bahkan lirikan dan pandangan mata pun ada trik yang aman dan pas untuk mencopet. Ratih mengamati setiap trik dan gerakan yang diperagakan oleh para pelatih. Mereka juga mengajari trik-trik berkomunikasi dengan pencopet lain yang sedang beraksi. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan bagi Ratih. Kini ia tahu gerak-gerik seorang pencopet dan ia menjadi lebih waspada. Walaupun Ratih telah mengetahui trik-trik cara mencopet namun, ia berjanji tidak akan mempraktekkan ilmu yang telah ia peroleh tersebut.
Ratih saat ini benar-benar dalam keadaan terjepit. Ia menghadapi situasi diluar dugaannya. Beberapa orang yang bertubuh kekar yang ia lihat kemarin di sebuah gedung tua sedang memojokkan Hartono dan dirinya, bagaikan harimau yang siap menerka mangsanya. Orang itu memaksa meminta uang setoran hasil copetan kepada Hartono tetapi Hartono sudah lama tidak mencopet. Ratih mencoba membela Hartono. Apa daya tenaganya tak mungkin mampu untuk melawan. Dua preman berdiri di hadapan mereka sambil mengancam. Ini pemerasan. Hartono bersembunyi di belakang Ratih. Ratih merasakan ketakutan, jantungnya berpacu cepat, matanya tak berani menatap kedua orang itu. Bahkan ia tak dapat mencari peluang untuk kabur. Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah benda tajam untuk mengancam. Ratih dan Hartono menjatuhkan diri. Tangan orang yang satunya mulai melayang karena Ratih berteriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba seorang pemuda menangkis tangan salah seorang preman yang akan memukul Ratih.
”Sabar, Bang .....!” seru pemuda yang memakai sleyer sebagai pengikat kepala itu. ”Dua orang ini teman saya,” ucapnya lagi. Preman-preman itu menatap pemuda itu dengan sorot mata tajam kemudian pergi meninggalkan mereka. Ratih menengadah dan memandangi pemuda yang menolongnya dari ujung kaki sampai kepala. Tiba-tiba matanya terbelalak bahkan jantungnya malah berpacu sedikit lebih cepat.
”Mas Wahyu!” panggil Hartono pada pemuda itu.
”Ton, kamu sudah kenal Mas Wahyu?” tanya Ratih heran.
”Mbak sudah kenal juga?” tanya Hartono balik bertanya.
”Untung ada Mas Wahyu. Jantungku hampir copot,” kata Ratih sambil menghela nafas lega.
”Aku cuma kebetulan lewat,” jawab Mas Wahyu merendahkan diri.
”Makasih, ya Mas,” ucap Ratih lagi. Sikap Ratih kali ini jadi sedikit salah tingkah. Mereka berjalan bersama meningalkan tempat itu.
”Mas Wahyu mau kemana?” tanya Hartono.
”Emm .... mau ketempat anak-anak,” jawab Mas Wahyu.
”Aku ikut ya? Mbak Ratih juga ikut kan?” tanya Hartono dan bermaksud mengajak Ratih. Dalam perjalanan, Hartono menceritakan semua tentang Mas Wahyu yang sebelumnya Ratih hanya mengenal Mas Wahyu sebagai penjual daging sapi.
”Mas Wahyu ini orangnya baik, Mbak. Mas Wahyu pula yang ngelindungi kami dari preman-preman yang suka menadah. Mas Wahyu juga mendirikan rumah singgah bagi anak-anak gelandangan,” ujar Hartono membanggakan Mas Wahyu.
”O... ya??? Kok aku belum pernah tahu? Mas Yoyok juga belum pernah cerita,” kata Ratih agak sedikit menggerutu.
”Mbak Ratih kenal sama Mas Yoyok juga?” tanya Hartono.
”Mas Yoyok kan kakakku,” jawab Ratih.
”Mas Yoyok juga sering ke sini sama Mas Wahyu,” kata Hartono.
Ya, maklum kalau Mas Yoyok sering main ketempat ini bersama Mas Wahyu. Mereka kan teman sejak SMA. Mas Wahyu sebenarnya adalah anak penjual daging yang sudah sukses. Namun, Mas Wahyu selalu berpenampilan sederhana. Aku jadi tambah ngefans sama Mas Wahyu, pikir Ratih dalam hati sambil cengar-cengir. Mas Wahyu memandang Ratih dengan heran.
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah singgah sederhana tapi nyaman. Rumah itu berdiri kokoh, di belakangnya mengalir sebuah sungai jernih yamg semakin menambah kesejukan. Sinar matahari pagi dapat langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka dan jendela-jendela dengan desain yang unik. Bangunan rumah itu semuanya terbuat dari kayu dan bilik bambu. Anak-anak itu senang dengan bunga dan tumbuh-tumbuhan sehingga mereka membuat taman yang indah di depan dengan sebuah kolam. Saat itu hanya ada tiga anak yang masih berada di rumah. Seluruh anak yang ada di rumah itu berjumlah 12 anak, mereka semua berasal dari jalanan. Entah sebenarnya mereka masih punya orang tua atau tidak. Setiap pagi mereka pergi mencari rejeki. Mas Wahyu memang sengaja memperbolehkan mereka mencari rejeki sendiri supaya mereka menjadi lebih mandiri. Mereka sering menikmati hasil jerih payah mereka bersama-sama. Semangat kekeluargaan mereka memang sangat tinggi. Mas Wahyu hanya memberikan bantuan seperlunya. Tiga anak itu segera menghampiri Mas Wahyu dan mencium tangan Mas Wahyu.
”Hallo teman-teman, kenalkan ini Mbak Ratih,” ucap Hartono sambil menunjuk Ratih. Anak-anak itu kemudian menyalami Ratih. Setelah Mas Wahyu cukup berbincang-bincang dengan mereka, Mas Wahyu berpamitan pulang.
”Ratih juga mau pulang, Mas,” ucap Ratih sambil beranjak berdiri.
”Hartono pulang nanti kok, Mbak,” kata Hartono.
”Kamu mau saya antar?” Wahyu memberi tawaran kepada Ratih.
”Makasih, Mas. Tadi saya pake motor sendiri,” tolak Ratih dengan sopan. Namun, sebenarnya dalam hati, Ratih juga ingin diantar pulang ke rumah.
”Selamat sore, Bu!” sapa seorang pemuda kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menata soto pesanan pelanggan.
”Eh, Nak Wahyu,” jawab ibu itu.
”Yoyok ada, Bu?”
”Sepertinya ada di teras samping.”
”Wahyu ke sana dulu, ya? Permisi .......”
Seketika itu, Wahyu meninggalkan seorang ibu pemilik warung soto yang sedang melayani pelanggan. Dari tempat ia berdiri semula, Wahyu melangkahkan kakinya ke arah kanan. Melalui sebuah halaman kecil berumput yang tertata rapi batu-batu kerikil dan tanaman penghias. Di sebelah kanan ada sebuah pagar tembok yang ditumbuhi tanaman binahong, sejenis tanaman yang berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit bisa juga untuk dimakan mentah-mentah. Ia melihat Yoyok sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu anyaman. Ia duduk dengan dua kaki berada pada salah satu tangan kursi sambil memetik gitar dengan alunan Raege. Ia memainkan alat musiknya itu dengan lincah layaknya seorang musisi yang sudah tersohor. Dihadapannya tumbuh sebatang pohon mangga yang tumbuh subur tetapi sedang tidak berbuah yang membuat teras itu semakin teduh. Tiba-tiba ia berhenti sejenak ketika ia melihat sahabatnya sejak SMA datang, padahal sangat jarang sekali sahabatnya itu mampir.
”Hy, Bro...!!! Apa kabar? Dah lama nggak nongol,” sapa Yoyok sambil meletakkan gitar dan mejabat tangan Wahyu erat-erat seperti dua orang yang belum pernah bertemu selama bertahun-tahun dan berabad-abad. Padahal terakhir mereka bertemu waktu Yoyok menghantar Ratih membeli daging.
”Yach....,seperti yang kamu liat aku masih hidupkan?” jawab Wahyu dengan nada bercanda.
”Ehm..., tumben mampir kesini mau cari siapa nich?”
”Eh, kemarin aku ketemu sama adikmu di daerah anjal. Dia ngapain?” tanya Wahyu sedikit mengecilkan suara.
”Tanya aja sendiri!” jawab Yoyok kemudian kembali memainkan gitarrnya.
”Makin canggih aja Lho main gitarnya,” kata Wahyu memuji. ”Sini aku pinjam sebentar.”
Yoyok meminjamkan gitarnya pada Wahyu. Wahyu juga jago main gitar. Dulu waktu SMA, mereka suka ngeband bareng. Mereka saling bercakap-cakap dan bercanda. Membicarakan apapun yang dapat dibicarakan mengenai masa SMA mereka dulu. Tiba-tiba Ratih nyelonong dengan handuk masih dikepala.
”Ups, ada Mas Wahyu...,” ucap Ratih sambil nyengar-nyengir.
”Hallu Ratih.....,” sapa Wahyu.
”Mas Yoyok curang!” bentak Ratih.
”Curang apaan?” sergah Yoyok.
”Kok sering ke tempat anjal nggak bilang-bilang sih?”
”Lah...., kamu kan nggak pernah nanya!!! Lagian aku juga udah lama nggak main ke sana.”
Ratih hanya memasang muka sebel khas anak kecil.
”Ratih nggak kuliah?” tanya Wahyu.
”Nanti jam satu, sekarang kan masih jam sebelas,” jawab Ratih.
Mereka saling terdiam. Hanya musik gitar yang di mainkan oleh Wahyu yang terdengar. Ratih membuka handuk yang ada di kepalanya, terurai panjang rambut panjang basah milik Ratih.
”Mas Wahyu, anak-anak di rumah singgah cari uangnya sendiri-sendiri, ya? Terus penghasilan mereka cukup buat makan?” tanya Ratih pada Wahyu yang sedang asyik memainkan gitar.
”Ya, cukup. Mereka itu kalau memperoleh penghasilan biasanya dibagi untuk makan bersama-sama berapapun hasilnya,” jawab Wahyu.
”Kalau keperluan lain seperti baju, selimut dan lain-lain itu bantuan dari Wahyu,” tambah Yoyok.
”Gimana kalau anak-anak itu kita arahkan untuk usaha lain supaya lebih mandiri?” tanya Ratih sambil menyisir rambutnya yang basah.
”Boleh juga,” ucap Wahyu singkat.
”Gimana kalau usaha menjual makanan yang mudah dibuat trus dijual. Biar nanti soal modal serahkan pada Ratih dan teman-teman,” usul Ratih dengan yakinnya.
”Emangnya kamu bisa masak?” ejek Yoyok pada Ratih.
”Begini-begini kan aku sering ngebantuin ibu buat makanan. Dari pada Mas Yoyok cuma ngebantuin ngabisin makanan doang!” timpal Ratih yang tidak terima mendengar ejekan kakaknya.
”Idenya lumayan juga. Bisa kita coba. Soal modal aku juga bisa bantu,” kata Wahyu.
”Okey deh!!! Aku mau memberi tahu teman-temanku dulu, ya?” kata Ratih semangat.
Hari berikutnya, saat hari masih pagi, Ratih, Luna, dan Ve berkunjung ke rumah Nenek Hartiah. Sebelumnya mereka sudah berencana mengajak Nenek Hartiah untuk ikut serta dalam bisnis mereka. Modal sudah terkumpulkan, kini tinggal merealisasikan usaha yang akan mereka jalankan.
”Selamat pagi, Nek!” sapa Ratih.
”Selamat pagi,” jawab Nenek yang saat itu sedang memasak.
”Kata Ratih, Nenek sakit, apakah sudah sembuh?” tanya Ve.
”Nenek sekarang sudah sembuh. Ini semua berkat bantuan Nak Ratih. Terima kasih banyak, Nak,” jawab Nenek.
”Ah, Nenek ini bisa saja. Sudah menjadi kewajiban kan Nek, menolong sesama yang sedang membutuhkan bantuan? Lagian Nenek sembuh berkat rahmat dari Allah,” kata Ratih sedikit tersipu.
”Nenek sedang masak apa tuch?” tanya Luna tiba-tiba.
”Ini Mbak, Nenek sedang membuat pisang goreng kesukaan Hartono.”
”Wah, pasti enak tuh,” ucap Luna.
”Nenek pandai memasak ya?” tanya Luna.
”Tidak kok Mbak, Nenek hanya bisa sedikit-sidikit.”
”Nenek bisa masak makanan apa saja?” tanya Ve.
”Makanan-makanan yang digoreng seperti tempe mendoan, tahu isi sayur, bikin kue-kue kering juga bisa,” jawab Nenek.
”Kebetulan banget Nek, kita mau bikin usaha jual makanan seperti itu di rumah singgah. Bagaimana kalau Nenek ngebantuin kita jadi juru masaknya?” tawar Ratih.
Wajah Nenek terlihat gembira mendengar tawaran dari Ratih. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Nenek Hartiah menerima tawaran dari Ratih. Ratih, Luna, dan Ve segera membeli bahan-bahan makanan di pasar. Bahan-bahan yang mereka beli sangat banyak sehingga Ratih menelepon kakaknya untuk membantu. Wahyu sudah mengumpulkan semua anak-anak di rumah singah dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu lagi mencari rejeki di jalanan yang panas.
”Hore..., Mbak Ratih datang!” teriak anak-anak ketika melihat Ratih dan teman-temannya sampai di rumah singgah. Anak-anak itu segera berlari dan membantu membawakan barang belanjaan. Mereka segera mengolah bahan-bahan yang telah ada. Nenek Hartiah membuat adonan makanan dan membumbui. Luna dan Ve membantu menggoreng makanan. Ratih bersama anak-anak perempuan membuat kripik singkong. Hasil penggorengan makanan yang pertama sudah matang. Setelah dicicipi, ternyata rasanya gurih dan enak. Anak laki-laki membungkusi keripik singkong buatan Ratih. Rasa keripiknya ada yang gurih dan ada yang pedas. Setelah semua makanan selesai dimasak, anak-anak yang berjumlah dua belas itu dan juga Hartono segera menjual makanan dengan cara berkeliling. Ratih, Luna, Ve, Yoyok, dan Wahyu juga ikut menjual makanan dengan cara menitipkan di warung-warung. Mereka saling bahu-membahu dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Dengan gigih dan semangat, anak-anak berpencar menawarkan makanan. Pada mulanya, orang-orang membeli hanya untuk mencicipi karena merasa iba. Namun, karena rasanya enak mereka membeli lebih banyak lagi.
Hari sudah menjelang sore, makanan yang mereka jual ternyata laris manis. Anak-anak kembali ke rumah singgah dengan gembira. Hasil yang mereka dapatkan pun cukup memuaskan bahkan melebihi pendapatan mereka sebelumnya. Ketika semua anak telah kembali, mereka berkumpul bersama.
”Pasti kalian semua lelah dan sudah lapar. Tadi Nenek Hartiah masak buat kalian,” ucap Ratih sambil membawa makanan dari dapur. ”Ngambilnya gantian ya, jangan berebut.” Anak-anak segera menikmati makanan buatan Nenek Hartiah. Tergurat perasaan gembira diwajah mereka.
”Nek, Nenek tinggal disini saja. Melanjutkan usaha ini bersama mereka,” pinta Wahyu kepada Nenek.
”Iya, Ton. Kamu tinggal di sini saja,” kata salah satu anak kepada Hartono. Hartono hanya memandang ke arah Nenek.
”Ayolah, Nek!” paksa mereka.
Nenek mengangguk. Di usianya yang sudah semakin tua, Nenek perlu teman dan hiburan dari anak-anak yang tinggal di rumah singgah ini. Selanjutnya, Neneklah yang menjalankan dan mengembangkan usaha makanan bersama anak-anak.
Sudah lama Ratih tidak datang ke rumah singgah karena ia harus menyelesaikan penyusunan laporan pertama yang ia buat. Minggu-minggu terakhir waktu pembuatan laporan, ia manfaatkan dengan baik karena ia tidak mau mendengar ocehan dari Pak Upoyo, dosennya itu. Ia berkali-kali harus merevisi laporannya agar Pak Upoyo tidak meremehkan Ratih yang masuk ke universitas itu berkat beasiswa. Kini Ratih juga lega karena jerih payahnya memperoleh hasil yang memuaskan dan ia mendapat simpati dari Pak Upoyo. Sambil menarik nafas lega, ia melirik tanggal dan ternyata besok adalah hari ulang tahunnya. Ia bahkan tidak mempunyai rencana, ulang tahunnya akan dirayakan atau tidak. Mata yang sudah semakin memberontak untuk dibuka dan hamparan kasur yang menggoda membuat Ratih tertidur karena kelelahan.
”Surprize...!” teriak Luna dan Ve nyelonong masuk ke kamar. Namun, tiba-tiba mereka terbengong karena melihat Ratih masih enak terhanyut dalam lelapnya.
”Tumben ni anak, jam segini masih tidur,” ucap Ve kemudian ia membuka jendela kamar yang berhadapan langsung dengan mentari pagi. Seberkas cahaya pagi masuk dan menyinari muka Ratih yang nampak berkilau karena mukanya masih berminyak.
”Surprize...!!!” teriak Luna dan Ve sambil membawa kue ulang tahun kecil sambil bergaya bak super model.
Ratih terpaksa mambuka matanya. Ia terkejut mendengar paduan suara yang gagal rekaman karena tiap kali rekaman soundnya pecah.
”Selamat ulang tahun, Sweety,” ucap mereka bergantian kemudian mencium pipi Ratih.
”Ya udah, sana mandi dulu! Kita kan ke sini mau pesta soalnya diundang sama ibumu,” kata Luna.
”Pesta apaan sich, aku nggak ngerti?” tanya Ratih heran.
”Lekas mandi dudu dech!” perintah Luna.
Setelah selesai mandi, Luna keluar dari kamarnya. Ia bingung kenapa warung tidak buka padahal ibu masak soto banyak.
”Udah selesai mandinya, Tih?” tanya ibu. ”Selamat ulang tahun.”
”Ada apa sich? Kok ibu masak tapi warung nggak buka?”
”Hari ini kan ulang tahun kamu. Kita mau ngerayainnya di rumah singgah sekalian syukuran karena ayahmu diterima jadi pegawai negeri,” kata ibu menjelaskan.
”O...gitu. Kok ibu tahu sich tentang rumah singgah? Aku juga lagi kangen nich sama anak-anak,” kata Ratih bergelayut manja dipelukan ibunya.
”Tuch, kakak kamu yang bilang,”
”Ah, kakakku.......”ucap Ratih sambil memeluk kakaknya.
Mereka tiba di rumah singgah. Mas Yoyok pergi entah ke mana karena tidak terlihat batang hidungnya. Anak-anak segera menghampiri Ratih dan menyalaminya. Mereka nampak lebih rapi. Ratih mulai memasuki rumah singgah bersama anak-anak. Dari arah depan, ia melihat Wahyu membawa kue brownies besar. Dahi Ratih berkerut, ia bahagia banget. Mereka berdua berdiri berhadapan di muka pintu.
”Happy Birthday,” suara khas Wahyu terdengar begitu indah ditelinga Ratih. Ratih hanya mengangguk karena ia tak mampu berkata apapun. Mereka saling bertatapan.
”Ehm...ada yang mau mendahului tuch,” teriak Mas Yoyok tiba-tiba.
Mereka semua tertawa dan menyanyikan lagu ’Selamat Ulang Tahun’ untuk Ratih.
Setangkai Krisan
Sepasang mata menatap lurus ke depan. Memandang deburan ombak yang bergulung manja di pasir pantai. Suara ombak begitu riuh. Tak seperti suasana hati Arya saat itu. Ia hanya duduk termenung sendirian. Pandangannya kosong, sekosong hatinya. Deburan ombak pada karang telah meneriakkan kepiluan yang ia rasakan. Ia merasa damai seolah ombak mengajaknya berbicara untuk menumpahkan seluruh isi hatinya. Angin semilir membelai kulitnya yang putih. Hawa dingin menyelimuti tubuh Arya. Menambah kebekuan hatinya kian menjadi. Dia butuh sepercik api kehangatan untuk mencairkan suasana hatinya yang membeku karena cinta. Cinta yang selalu tak membuatnya bahagia.
Satu-satunya alasan kepedihan hatinya saat itu adalah pencarian cinta sejati yang tak kunjung ia temukan. Setiap kali berpacaran, tak lebih dari tiga bulan dan selalu mengecewakan. Ia tidak merasa dirinya itu playboy seperti yang sering dikatakan teman-temannya. Malahan dialh yang sering diputus oleh pacarnya. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh kali ia berpacaran.
Matanya menerawang jauh ke langit. Memandang awan yang bergelayut di atas sana. Tak seputih biasanya, awan itu senada dengan hatinya yang kelabu, dia sedikit tersenyum, ternyata bagian dari alam ini ada yang berpihak padanya.
“Hei, Bro!” Dio tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Arya.
“Eh, Elo Di. Ngapain Lo di sini? Biasanya Lo nge-date ama cewek Lo. Ini kan malming, Bro,” sahut Arya.
“Emang Gue lagi sama cewek Gue,” jawab Dio sambil melambai pada gadis yang sedang malambai padanya di pinggir laut..”Lo sendiri? Mana cewek Lo yang manis nan seksi itu?” lanjutnya bertanya.
“Oh, si Gita, cewek Gue sebelum yang terakhir kemaren,” balas Arya.
“Apa? Jadi Lo udah putus ama si Gita itu, trus jadian ama cewek laen lagi?”
“Iya, tapi udah putus juga.”
“Tobat, tobat…..!!! Dasar playboy cap cay!” gerutu Dio sambil meninju bahu Arya.
“Eits, bukan Gue yang mutusin mereka loh.” Bantah Arya membela diri.
“Sama aja, itu pasti karna Lo tuh playboy. Suka mempermainkan hati wanita.”
“Enak aja Lo ngomong. Gue tuh sebenarnya tipe cowok setia tau. Buktinya Gue udah ebih dari satu bulan ngejomblo. Gue ingin instrospeksi diri dulu. Capek diputusin terus.”
“Kayak Gue dong, berusaha mencari cinta sejati, bukan pacar sejati.”
“Maksud Lo?” tanya Arya heran dengan kata-kata Dio yang sok bijak.
“Iya, beneran. Si Dina itu kan mantan Gue waktu SMA,” kata Dio sambil menunjuk ceweknya.
“Gue juga udah tahu. Trus?”
“ Susah tahu buat ngedapetin dia lagi. Dia tambah cantik sih. Nah, Gue jadian lagi tuh berkat pohon cinta di sana itu.”
“Yang di deket rumah Gue? Itu kan Cuma mitos aja. Gue juga udah tahu mitos itu sejak Gue masih balita,” jawab Arya ketus.
“Kenapa Lo nggak pernah nyoba? Tinggal gantungin surat, trus dalam waktu 40 hari Lo pasti dapet deh yang namanya cinta sejati,”ucap Dio semangat.
“Pokoknya Gue nggak mau pake cara konyol kayak gitu.”
“Ya udah. Terserah Lo. Buktinya banyak yang percaya dan baehasil kan? Gue ke sana dulu, ya?” Dio beranjak dari tempatnya menghampiri ceweknya.
Apa benar yang dikatakan Dio? Arya membatin dalam hati. Sudah lama ia mendengar mitos itu. Tapi sama sekali ia belum pernah mencoba. Memang sudah sering tersiar kabar bahwa pohon cinta itu mujarab. Akhirnya Arya memutuskan untukmencoba menggantung surat di pohon tua itu. Dimasukkannya sebuah surat dalam amplop yang berwarna kuning. Arya menggantungkan suratnya pada salah satu dahan.
Semoga Gue bakalan ngedapetin cinta sejati Gue, ia berdoa dalam hati. Kata orang, cinta sejati akan menuntun seseorang untuk memilih salah satu surat yang tergantung.
Sepuluh hari setelah menggantungkan surat cinta, Arya belum juga mendapat tanda-tanda datangnya cinta sejati. Ia berjalan sendirian di tempat wisatabelanja di pesisir pantai. Tidak terlalu ramai, karena memang bukan hari libur.
Panasnya terik matahari begitu menyengat. Namun, ia tak peduli kulit putihnya terbakar karena ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek dan sebuah celana pendek pula. Matanya berkeliling, adakah barang yang menarik minatnya? Ia melangkah pelan sambil membalas sapaan orang-orang yang menyapanya. Hampir seua penjual mengenal dirinya karena ia adalah anak pengusaha satu-satunya hotel mewah di pesisir itu. Ia melihat sebuah topi berwarna kuning berada di salah satu rak teratas. Ia segera meraih topi itu. Namun, ada tangan lain yang juga memegangi topi itu dari seberang rak.
“Hei, Gue duluan yang mau beli topi ini,” teriak Arya. Tak ada jawaban dari seberang. Orang di seberang rak melepaskan tangannya. Seorang cewek yang juga ingin membeli topi itu menghampiri Arya. Ia memasang muka sebel tapi tidak jadi memaki-maki Arya.
“Kamu?” cewek itu menunjuk Arya kaget.
“Krisan?” tanya Arya kaget juga setelah sempat terdiam beberapa saat. “Ini topinya buat kamu aja,” kata Arya sambil menyerahkan topi yang berwarna kuning itu. Arya memang tidak ingin berebut topi dengan cewek yang sudah lama dikenalnya sejak pertama kali masuk kuliah. Gengsi kalau harus berebut topi dengan cewek itu. Apalagi sampai ketahuan kalau dia ini suka warna kuning. Kata sebagian orang warna kuning kurang macho buat cowok. Krisan menerima topi itu ragu.
“Kak, ayo kita ke pantai!” ajak seorang anak kecil pada Krisan. Krisan segera membayar topi kemudian meninggalkan toko itu. Ia menyusuri tepian pantai bersama seorang anak kecil. Anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun itu berlari-lari di mendahului Krisan.
“Dek, Kakak ke sana dulu, ya? Adek mainnya di sekitar sani aja,’ ucap Krisan pada adiknya. Adik laki-lakinya itu hanya mengangguk dan mulai bermain air. Krisan berjalan menjauhi laut. Ia duduk di bawah pohon yang rindang. Dikeluarkannya kamera digital dari dalam tasnya berwarna kuning. Ia melihat-lihathasil jepretanya. Sebuah amplop berwarna kuning jatuh di sampingnya. Ia memandang ke atas. Ternyata selang satu pohon dari tempatnya duduk ada pohon dengan amplop berwrna-warni.
Amplop apa nih, ia bertanya sendiri. Diraihnya amplop itu penasaran. Ia mulai membuka amplop karena tertarik pada warna amplop itu. Pelan tapi pasti, ia mulai membaca dalam hati.
Tulusnya cinta sejati
Sungguh sulit dimengerti
Apalagi dipahami
Menyimpan selaksa misteri
Terkadang membuat pedih di hati
Kerinduan akan cinta sejati
Membuat semuanya sunyi
Sabar menanti kekasih hati
Terasa sepi dan sendiri
Dalam lelah ku mencari
Aku bertanya sendiri
Adakah cinta yang sejati?
Dan sampai kini
Aku masih menanti
Arya A.
Hati Krisan trenyuh membaca surat yang berisi sebait puisi itu. Seakan dia juga merasakan kepedihan hati sang penulis. Merasa senasib dengan penulis surat itu, ia terkesan dengan surat itu.
Cowok yang nulis ini pasti romantis deh, pikir Krisan. Tapi buat apa dia nulis surat kayak gini? Bentar deh. Arya? Arya siapa nih? Apa mungkin…. Akh, yang namanya Arya kan bukan cuma dia.
Krisan melipat surat itu dan memasukkan kembali dalam amplop. Ia berniat untuk menyimpan surat itu kemudian dimasukkan dalam tasnya.
***
Empat puluh hari telah berlalu. Arya memandang pohon cinta dengan putus asa. Surat cinta yang tergantung bertambah banyak. Ia heran kenapa ada banyak orang yang percaya dengan pohon yang disebut pohon cinta. Benar-benar konyol. Tersungging sedikit senyum di bibir Arya.
Hampir setengah hari Arya duduk di bawah pohon itu sambil memandang hamparan laut yang sangat luas. Siapa tahu ia mendapatkan cinta sejatinya di bawah pohon itu pada hari itu juga.
“Kalau ingin mendapatkan cinta sejati tuh harus berusaha, jangan Cuma bengong,” Dio tiba-tiba duduk di sebelah Arya.
“Lo tuh gangguin ketenangan Gue,” jawab Arya ketus.
“Gimana saran Gue dulu? Udah dapet cinta sejati?” ledek Dio.
“Cinta sejati apanya? Jomblo sejati, iya.”
“Masak seorang Arya Anggara susah ngedapetin cewek? Kayaknya kali ini jadi masa terlama Lo ngejomblo,” Dio tak henti-hentinya menggoda Arya.
“Bener nggak sih kalau jodoh tuh di tangan Tuhan?”
“Tumben Lo beragama.”
“Kalau iya, ngapain Gue percaya ama pohon tua ini. Dasar bodoh.”
“Namanya juga usaha. Arya, Arya…..”
“Iya, usaha uang salah, kan?”
“Terserah Lo deh. Main surfing, yuk!” ajak Dio.
“Boleh juga.”
Keesokan harinya, Arya melajukan motor gedhenya menuju kampus tercinta. Hari ini ada pengumuman kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Walaupun hanya melihat pengumuman, Arya harus berpenampilan rapi dan wangi. Ia tidak bisa berangkat ke kampus dengan penampilan seadanya. Itulah sebabnya dia selalu dikagumi oleh cewek-cewek di kampusnya. Tapi, ia tidak tertarik dengan cewek yang satu fakultas dengannya. Alasannya kalau sudah putus males ketemu lagi.
Di parkiran, ia bertemu dengan Dio, sahabat kental yang sekampus dengannya. Mereka berjalan bersama menuju papan pengumuman. Dalam satu kelompok KKN biasanya terdiri dari mahasiswa yang berbeda jurusan. Dio dan Arya menjadi satu kelompok karena memang mereka bukan berasal dari jurusan yang sama.
“Oke, Bro. ternyata kita berjodoh,” dio menjabat tangan dan menepuk bahu Arya.
“Berjodoh ama Elo? Ikh, ogah!” cibir Arya bercanda. Meledak tawa diantara mereka berdua.
Ada satu lagi nama dalam kelompoknya yang Arya kenal yaitu Krisantia Nanda Putri. Sebenarnya ia kenal dengan Krisan hanya sebatas tahu begitu saja. Tidak akrab karena jarang ketemu. Mereka saling kenal saat Krisan menolong Arya mengusir lebah di kamar mandi cowok. Betapa malunya Arya jika bertemu dengan Krisan karena hanya Krisan yang tahu kalau Arya phobia terhadap lebah. Dia bahkan hampir ketahuan kalau suka warna kuning. Bisa jadi tambah malu.
Arya dan kelompoknya mendapat tugas KKN di sebuah desa terpencil. Dusun Seroya terletak sangat jauh dari kampus mereka. Arya dan rombongan telah sampai di rumah kepala dusun setelah menghabiskan waktu selama satu setengah jam perjalanan. Semua berangkat menggunakan mobil Dio, kecuali Arya. Arya berangkat sendiri dengan membawa perlengkapan seperlunya saja menggunakan motor kesayangannya. Di depan rumah kepala dusun, mereka mendapat sambutan hangat dari tuan rumah. Beberapa nak kecil turut menyambut mereka. Mereka dipersilakan masuk terlebih dahulu. Arya, sebagai ketua kelompok, menyampaikan maksud kedatangan mereka secara formal dan diterima oleh kepala dusun yang bernama Pak Karta.
Malam harinya, mereka membicarakan program-program yang akan dilaksanakan di dusun terpencil itu dengan Pak Karta. Hingga larut malam, akhirnya mereka selesai.
“Terima kasih, Bapak sudah mengarahkan kami,” ucap Arya sopan mengakhiri pembicaraan mereka.
“Sama-sama. Bapak juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Semoga program-program kalian dapat terlaksana dengan baik dan dapat berguna bagi masyarakat di Dusun Seroya ini. Walaupun sangat sederhana, anggap saja rumah Bapak ini seperti rumah kalian sendiri,” Pak Karta memberikan pidato singkat.
“Baik, Pak. Selamat malam,” balas Arya.
Empat mahasiswi masuk ke dalam satu kamar dan lima mahasiswa masuk ke kamar yang lain. Para mahasiswi sudah nampak akrab walaupun mereka baru bertemu di hari itu. Mereka sedang asyik bercerita. Krisan menyelinap ke luar.
“Mau kemana kamu, San?” tanya seorang temannya.
“Aku mau ke kamar mandi sebentar.”
Krisan menutup kembali pintu kamar kemudian berjalan menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Dia berpapasan dengan Arya yang keluar dari kamar mandi. Tak ada yang menyapa terlebih dahulu. Krisan hanya memberi sedikit senyum khasnya kepada Arya. Arya hanya membalas dengan tatapan cuek.
Ukh, dasar cowok frigid, sok cool, cemooh Krisan dalam hati.
Tanpa menoleh, Arya bergegas menuju kamarnya sambil mengelap muka dan rambutnya yang basah.
Program pertama pada hari pertama yang harus mereka lakukan adalah membantu Pak Karta merapikan berkas-berkas penduduk. Mereka juga harus membuat data statistik kependudukan. Banya arsip-arsip lama yang harus mereka rapikan kembali. Warna kertas yang sudah berubah kecoklatan dan debu yang beterbangan membuat alergi Arya kumat. Ia tetap menjalankan pekerjaannya walaupun ia harus bersin-bersin sepanjang hari.
“Nih tisu, ambil aja,” Krisan menyodorkan sebungkus tisu kapada Arya. Araya menerima tisu dari tangan Krisan tanpa mengucapkan terima kasih. Ia sibuk melanjutkan pekerjaannya menulis data penduduk pada papan kependudukan. Semua mahasiswa bahu-membahu dalam menyelesaikan tugas mereka. Sebelum sore mereka telah selesai.
Karena kamar mandi hanya satu, Arya berinisiatif mandi di rumah tetangganya Pak Karta. Setelah meminta ijin, ia bergegas ke kamar mandi. Tiba-tiba ia berhenti karena melihat Krisan sedang menimba air.
“Boleh aku aja yang ngambil air?” tanya Arya mendekati Krisan.
“Emangnya kamu bisa?” Krisan balik bertanya.
“Udah pernah liat di TV,” Arya merebut tali timba dari Krisan. Ia mencoba menenggelamkan ember yang sudah ada di bawah. Arya tak berhasil menenggelamkan ember. Krisan cengar-cengir di samping Arya.
“Sini aku liat,” ucap Krisan merebut kembali tali timbanya. Dengan cekatan, Krisan berhasil mengambil air dan menaikkan ember. “Makanya kalau nggak bisa, nggak usah sok,” ledek Krisan sambil memercikkan air ke muka Arya dengan nada bercanda. Arya membalas Krisan dengan segera. Mereka saling memercikkan air sambil tertawa bersama.
Setiap sore mereka mengajar bahasa Inggris dan cara pengoperasian laptop karena tidak ada komputer kepada anak-anak di dusun itu. Mereka mengajar di salah satu rumah joglo milik warga setempat.
“Sekian dulu, ya, Adik-adik belajar bahasa Inggrisnya. Setelah ini ada Kak Arya yang akan mengajar cara menggunakan laptop sare ini,” ucap Krisan ramah.
“Terima kasih, Kak,” jawab anak-anak serempak.
Arya sudah siap dengan laptopnya dan laptop milik Dio. “Selamat sore, Adik-adik! Sudah siap belajar bersama Kakak?” Arya mengawali dengan menyapa semua anak. Mereka sangat antusias dalam belajar.
“San, temenin Aku, jangan pulang dulu,”
Satu-satunya alasan kepedihan hatinya saat itu adalah pencarian cinta sejati yang tak kunjung ia temukan. Setiap kali berpacaran, tak lebih dari tiga bulan dan selalu mengecewakan. Ia tidak merasa dirinya itu playboy seperti yang sering dikatakan teman-temannya. Malahan dialh yang sering diputus oleh pacarnya. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh kali ia berpacaran.
Matanya menerawang jauh ke langit. Memandang awan yang bergelayut di atas sana. Tak seputih biasanya, awan itu senada dengan hatinya yang kelabu, dia sedikit tersenyum, ternyata bagian dari alam ini ada yang berpihak padanya.
“Hei, Bro!” Dio tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Arya.
“Eh, Elo Di. Ngapain Lo di sini? Biasanya Lo nge-date ama cewek Lo. Ini kan malming, Bro,” sahut Arya.
“Emang Gue lagi sama cewek Gue,” jawab Dio sambil melambai pada gadis yang sedang malambai padanya di pinggir laut..”Lo sendiri? Mana cewek Lo yang manis nan seksi itu?” lanjutnya bertanya.
“Oh, si Gita, cewek Gue sebelum yang terakhir kemaren,” balas Arya.
“Apa? Jadi Lo udah putus ama si Gita itu, trus jadian ama cewek laen lagi?”
“Iya, tapi udah putus juga.”
“Tobat, tobat…..!!! Dasar playboy cap cay!” gerutu Dio sambil meninju bahu Arya.
“Eits, bukan Gue yang mutusin mereka loh.” Bantah Arya membela diri.
“Sama aja, itu pasti karna Lo tuh playboy. Suka mempermainkan hati wanita.”
“Enak aja Lo ngomong. Gue tuh sebenarnya tipe cowok setia tau. Buktinya Gue udah ebih dari satu bulan ngejomblo. Gue ingin instrospeksi diri dulu. Capek diputusin terus.”
“Kayak Gue dong, berusaha mencari cinta sejati, bukan pacar sejati.”
“Maksud Lo?” tanya Arya heran dengan kata-kata Dio yang sok bijak.
“Iya, beneran. Si Dina itu kan mantan Gue waktu SMA,” kata Dio sambil menunjuk ceweknya.
“Gue juga udah tahu. Trus?”
“ Susah tahu buat ngedapetin dia lagi. Dia tambah cantik sih. Nah, Gue jadian lagi tuh berkat pohon cinta di sana itu.”
“Yang di deket rumah Gue? Itu kan Cuma mitos aja. Gue juga udah tahu mitos itu sejak Gue masih balita,” jawab Arya ketus.
“Kenapa Lo nggak pernah nyoba? Tinggal gantungin surat, trus dalam waktu 40 hari Lo pasti dapet deh yang namanya cinta sejati,”ucap Dio semangat.
“Pokoknya Gue nggak mau pake cara konyol kayak gitu.”
“Ya udah. Terserah Lo. Buktinya banyak yang percaya dan baehasil kan? Gue ke sana dulu, ya?” Dio beranjak dari tempatnya menghampiri ceweknya.
Apa benar yang dikatakan Dio? Arya membatin dalam hati. Sudah lama ia mendengar mitos itu. Tapi sama sekali ia belum pernah mencoba. Memang sudah sering tersiar kabar bahwa pohon cinta itu mujarab. Akhirnya Arya memutuskan untukmencoba menggantung surat di pohon tua itu. Dimasukkannya sebuah surat dalam amplop yang berwarna kuning. Arya menggantungkan suratnya pada salah satu dahan.
Semoga Gue bakalan ngedapetin cinta sejati Gue, ia berdoa dalam hati. Kata orang, cinta sejati akan menuntun seseorang untuk memilih salah satu surat yang tergantung.
Sepuluh hari setelah menggantungkan surat cinta, Arya belum juga mendapat tanda-tanda datangnya cinta sejati. Ia berjalan sendirian di tempat wisatabelanja di pesisir pantai. Tidak terlalu ramai, karena memang bukan hari libur.
Panasnya terik matahari begitu menyengat. Namun, ia tak peduli kulit putihnya terbakar karena ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek dan sebuah celana pendek pula. Matanya berkeliling, adakah barang yang menarik minatnya? Ia melangkah pelan sambil membalas sapaan orang-orang yang menyapanya. Hampir seua penjual mengenal dirinya karena ia adalah anak pengusaha satu-satunya hotel mewah di pesisir itu. Ia melihat sebuah topi berwarna kuning berada di salah satu rak teratas. Ia segera meraih topi itu. Namun, ada tangan lain yang juga memegangi topi itu dari seberang rak.
“Hei, Gue duluan yang mau beli topi ini,” teriak Arya. Tak ada jawaban dari seberang. Orang di seberang rak melepaskan tangannya. Seorang cewek yang juga ingin membeli topi itu menghampiri Arya. Ia memasang muka sebel tapi tidak jadi memaki-maki Arya.
“Kamu?” cewek itu menunjuk Arya kaget.
“Krisan?” tanya Arya kaget juga setelah sempat terdiam beberapa saat. “Ini topinya buat kamu aja,” kata Arya sambil menyerahkan topi yang berwarna kuning itu. Arya memang tidak ingin berebut topi dengan cewek yang sudah lama dikenalnya sejak pertama kali masuk kuliah. Gengsi kalau harus berebut topi dengan cewek itu. Apalagi sampai ketahuan kalau dia ini suka warna kuning. Kata sebagian orang warna kuning kurang macho buat cowok. Krisan menerima topi itu ragu.
“Kak, ayo kita ke pantai!” ajak seorang anak kecil pada Krisan. Krisan segera membayar topi kemudian meninggalkan toko itu. Ia menyusuri tepian pantai bersama seorang anak kecil. Anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun itu berlari-lari di mendahului Krisan.
“Dek, Kakak ke sana dulu, ya? Adek mainnya di sekitar sani aja,’ ucap Krisan pada adiknya. Adik laki-lakinya itu hanya mengangguk dan mulai bermain air. Krisan berjalan menjauhi laut. Ia duduk di bawah pohon yang rindang. Dikeluarkannya kamera digital dari dalam tasnya berwarna kuning. Ia melihat-lihathasil jepretanya. Sebuah amplop berwarna kuning jatuh di sampingnya. Ia memandang ke atas. Ternyata selang satu pohon dari tempatnya duduk ada pohon dengan amplop berwrna-warni.
Amplop apa nih, ia bertanya sendiri. Diraihnya amplop itu penasaran. Ia mulai membuka amplop karena tertarik pada warna amplop itu. Pelan tapi pasti, ia mulai membaca dalam hati.
Tulusnya cinta sejati
Sungguh sulit dimengerti
Apalagi dipahami
Menyimpan selaksa misteri
Terkadang membuat pedih di hati
Kerinduan akan cinta sejati
Membuat semuanya sunyi
Sabar menanti kekasih hati
Terasa sepi dan sendiri
Dalam lelah ku mencari
Aku bertanya sendiri
Adakah cinta yang sejati?
Dan sampai kini
Aku masih menanti
Arya A.
Hati Krisan trenyuh membaca surat yang berisi sebait puisi itu. Seakan dia juga merasakan kepedihan hati sang penulis. Merasa senasib dengan penulis surat itu, ia terkesan dengan surat itu.
Cowok yang nulis ini pasti romantis deh, pikir Krisan. Tapi buat apa dia nulis surat kayak gini? Bentar deh. Arya? Arya siapa nih? Apa mungkin…. Akh, yang namanya Arya kan bukan cuma dia.
Krisan melipat surat itu dan memasukkan kembali dalam amplop. Ia berniat untuk menyimpan surat itu kemudian dimasukkan dalam tasnya.
***
Empat puluh hari telah berlalu. Arya memandang pohon cinta dengan putus asa. Surat cinta yang tergantung bertambah banyak. Ia heran kenapa ada banyak orang yang percaya dengan pohon yang disebut pohon cinta. Benar-benar konyol. Tersungging sedikit senyum di bibir Arya.
Hampir setengah hari Arya duduk di bawah pohon itu sambil memandang hamparan laut yang sangat luas. Siapa tahu ia mendapatkan cinta sejatinya di bawah pohon itu pada hari itu juga.
“Kalau ingin mendapatkan cinta sejati tuh harus berusaha, jangan Cuma bengong,” Dio tiba-tiba duduk di sebelah Arya.
“Lo tuh gangguin ketenangan Gue,” jawab Arya ketus.
“Gimana saran Gue dulu? Udah dapet cinta sejati?” ledek Dio.
“Cinta sejati apanya? Jomblo sejati, iya.”
“Masak seorang Arya Anggara susah ngedapetin cewek? Kayaknya kali ini jadi masa terlama Lo ngejomblo,” Dio tak henti-hentinya menggoda Arya.
“Bener nggak sih kalau jodoh tuh di tangan Tuhan?”
“Tumben Lo beragama.”
“Kalau iya, ngapain Gue percaya ama pohon tua ini. Dasar bodoh.”
“Namanya juga usaha. Arya, Arya…..”
“Iya, usaha uang salah, kan?”
“Terserah Lo deh. Main surfing, yuk!” ajak Dio.
“Boleh juga.”
Keesokan harinya, Arya melajukan motor gedhenya menuju kampus tercinta. Hari ini ada pengumuman kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Walaupun hanya melihat pengumuman, Arya harus berpenampilan rapi dan wangi. Ia tidak bisa berangkat ke kampus dengan penampilan seadanya. Itulah sebabnya dia selalu dikagumi oleh cewek-cewek di kampusnya. Tapi, ia tidak tertarik dengan cewek yang satu fakultas dengannya. Alasannya kalau sudah putus males ketemu lagi.
Di parkiran, ia bertemu dengan Dio, sahabat kental yang sekampus dengannya. Mereka berjalan bersama menuju papan pengumuman. Dalam satu kelompok KKN biasanya terdiri dari mahasiswa yang berbeda jurusan. Dio dan Arya menjadi satu kelompok karena memang mereka bukan berasal dari jurusan yang sama.
“Oke, Bro. ternyata kita berjodoh,” dio menjabat tangan dan menepuk bahu Arya.
“Berjodoh ama Elo? Ikh, ogah!” cibir Arya bercanda. Meledak tawa diantara mereka berdua.
Ada satu lagi nama dalam kelompoknya yang Arya kenal yaitu Krisantia Nanda Putri. Sebenarnya ia kenal dengan Krisan hanya sebatas tahu begitu saja. Tidak akrab karena jarang ketemu. Mereka saling kenal saat Krisan menolong Arya mengusir lebah di kamar mandi cowok. Betapa malunya Arya jika bertemu dengan Krisan karena hanya Krisan yang tahu kalau Arya phobia terhadap lebah. Dia bahkan hampir ketahuan kalau suka warna kuning. Bisa jadi tambah malu.
Arya dan kelompoknya mendapat tugas KKN di sebuah desa terpencil. Dusun Seroya terletak sangat jauh dari kampus mereka. Arya dan rombongan telah sampai di rumah kepala dusun setelah menghabiskan waktu selama satu setengah jam perjalanan. Semua berangkat menggunakan mobil Dio, kecuali Arya. Arya berangkat sendiri dengan membawa perlengkapan seperlunya saja menggunakan motor kesayangannya. Di depan rumah kepala dusun, mereka mendapat sambutan hangat dari tuan rumah. Beberapa nak kecil turut menyambut mereka. Mereka dipersilakan masuk terlebih dahulu. Arya, sebagai ketua kelompok, menyampaikan maksud kedatangan mereka secara formal dan diterima oleh kepala dusun yang bernama Pak Karta.
Malam harinya, mereka membicarakan program-program yang akan dilaksanakan di dusun terpencil itu dengan Pak Karta. Hingga larut malam, akhirnya mereka selesai.
“Terima kasih, Bapak sudah mengarahkan kami,” ucap Arya sopan mengakhiri pembicaraan mereka.
“Sama-sama. Bapak juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Semoga program-program kalian dapat terlaksana dengan baik dan dapat berguna bagi masyarakat di Dusun Seroya ini. Walaupun sangat sederhana, anggap saja rumah Bapak ini seperti rumah kalian sendiri,” Pak Karta memberikan pidato singkat.
“Baik, Pak. Selamat malam,” balas Arya.
Empat mahasiswi masuk ke dalam satu kamar dan lima mahasiswa masuk ke kamar yang lain. Para mahasiswi sudah nampak akrab walaupun mereka baru bertemu di hari itu. Mereka sedang asyik bercerita. Krisan menyelinap ke luar.
“Mau kemana kamu, San?” tanya seorang temannya.
“Aku mau ke kamar mandi sebentar.”
Krisan menutup kembali pintu kamar kemudian berjalan menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Dia berpapasan dengan Arya yang keluar dari kamar mandi. Tak ada yang menyapa terlebih dahulu. Krisan hanya memberi sedikit senyum khasnya kepada Arya. Arya hanya membalas dengan tatapan cuek.
Ukh, dasar cowok frigid, sok cool, cemooh Krisan dalam hati.
Tanpa menoleh, Arya bergegas menuju kamarnya sambil mengelap muka dan rambutnya yang basah.
Program pertama pada hari pertama yang harus mereka lakukan adalah membantu Pak Karta merapikan berkas-berkas penduduk. Mereka juga harus membuat data statistik kependudukan. Banya arsip-arsip lama yang harus mereka rapikan kembali. Warna kertas yang sudah berubah kecoklatan dan debu yang beterbangan membuat alergi Arya kumat. Ia tetap menjalankan pekerjaannya walaupun ia harus bersin-bersin sepanjang hari.
“Nih tisu, ambil aja,” Krisan menyodorkan sebungkus tisu kapada Arya. Araya menerima tisu dari tangan Krisan tanpa mengucapkan terima kasih. Ia sibuk melanjutkan pekerjaannya menulis data penduduk pada papan kependudukan. Semua mahasiswa bahu-membahu dalam menyelesaikan tugas mereka. Sebelum sore mereka telah selesai.
Karena kamar mandi hanya satu, Arya berinisiatif mandi di rumah tetangganya Pak Karta. Setelah meminta ijin, ia bergegas ke kamar mandi. Tiba-tiba ia berhenti karena melihat Krisan sedang menimba air.
“Boleh aku aja yang ngambil air?” tanya Arya mendekati Krisan.
“Emangnya kamu bisa?” Krisan balik bertanya.
“Udah pernah liat di TV,” Arya merebut tali timba dari Krisan. Ia mencoba menenggelamkan ember yang sudah ada di bawah. Arya tak berhasil menenggelamkan ember. Krisan cengar-cengir di samping Arya.
“Sini aku liat,” ucap Krisan merebut kembali tali timbanya. Dengan cekatan, Krisan berhasil mengambil air dan menaikkan ember. “Makanya kalau nggak bisa, nggak usah sok,” ledek Krisan sambil memercikkan air ke muka Arya dengan nada bercanda. Arya membalas Krisan dengan segera. Mereka saling memercikkan air sambil tertawa bersama.
Setiap sore mereka mengajar bahasa Inggris dan cara pengoperasian laptop karena tidak ada komputer kepada anak-anak di dusun itu. Mereka mengajar di salah satu rumah joglo milik warga setempat.
“Sekian dulu, ya, Adik-adik belajar bahasa Inggrisnya. Setelah ini ada Kak Arya yang akan mengajar cara menggunakan laptop sare ini,” ucap Krisan ramah.
“Terima kasih, Kak,” jawab anak-anak serempak.
Arya sudah siap dengan laptopnya dan laptop milik Dio. “Selamat sore, Adik-adik! Sudah siap belajar bersama Kakak?” Arya mengawali dengan menyapa semua anak. Mereka sangat antusias dalam belajar.
“San, temenin Aku, jangan pulang dulu,”
Grojogan Dadi Rukunan
SMA Bintang Raya yaiku salah sijine sekolah swata tekenal ing Jogjakarta, murid-mudid sing sekolah nang SMA Bintang Raya udu bocah sembrangan. Akeh-akehe anake wong-wong tersohor ing Jakarta, uga bocahe pinter-pinter. Ana sijining murid, bocahe ndugal nanging bocah mau anake wong paling penting nang SMA Bintang Raya. Bocah mau duwe grombolan sing terkenal diwedeni nang SMA. Rama jenenge bocah ndugal mau. Sak ndugal-ndugale Rama, deweke uga kalebu bocah sing berprestasi. Dadi ora gumun yen akeh bocah wadon sing seneng karo Rama.
Dina kui Sari duwe kangsen karo Tina, oncone sak kelas. Sari, bocah wadon uga sekolah ing SMA Bintang Raya. Sari lair saka keluarga sederhana, deweke bisa sekolah ing SMA Bintang Raya oleh beasiswa saka sekolah, merga bocah mau duweni prestasi sing luwih tinimbang kanca-kancane. Sari nggenjot pite kanti alon lan ngati-ati, samba nyanyi-nyanyi turut dalan. Teka-teka Sari dikagetke saka ngerep ana mobil ngebut. Ora sengaja mobil mau nyrempet pite Sari. Sari ora trima, banjur njupuk watu ning cerake dibandemke mobil mau. Ngenani kaca buri mobil. Sing duwe mobil kaget, ngerim mobile, banjur metu saka mobil. Jebul sing gawa mobil mau Rama.
“Sapa sing wani bandem mobilku ngasi kacaku pecah ngene?” Omonge Rama karo muring-muring dewe.
“Aku… Ngapa kowe ora trima?” Semaure Sari, sing teka-teka wis ana nang burine Rama.
“Sapa kowe, teka-teka bandem mobilku? Nngerti ora iki mobil larang?” Takone Rama karo nyentak.
“Arep mobil larang, mobil murah, mobil colongan sisan. Kui urusanmu, udu urusanku. Sing jelas aku yo ora trima. Emang iki dalane simbahmu apa? Gowo mobil ora nganggo aturan.” Sari murung karo Rama.
“Terus apa urusane kari kowe, muring-muring ra jelas ora ana sebabe. Kudune aku sing muring-muring karo kowe. Wis mecahke kaca mobilku.” Semaure Rama.
“Sajake kowe ki dong ora e? wis nyrempet pitku ngasi ban e dadie kaya ngana. Pitku siji-sijine meneh. Malah ura ngrumangsani nek wis ngrugekke uwong.” Sari ijeh muring-muring.
“Mung pit murahan ae dironutke. Regane pit mou luwih murah ketimbang rega kaca mobilku. Wis aku ana ueusan sing luwih penting ketimbang ngurusi uwong kayak kowe.” Rama banjur mlebu mobil, lunga tanpa ngom apa-apa meneh.
“Dasar wong ora tanggungjawab. Ngrusakke pit e uwong ora gelem ganti rugi meneh.” Sari karo bengak-bengok.
Karo rasa jengkel lan mangkel, Sari nuntun pit tkan omah e Tina. Sari tekan omah e Tina wis keri dewe. Sing biyasane mangkat gasik, saiki kalah karo liyane. Kanca-kancane nggumun Sari ora kaya biyasane. Teka nuntun pit karo muring-muring ora jelas. Tina banjur tekon karo Sari. Sari cerita kabeh sing dialami nang dalan mau. Ketemu wong lanang sing ora bertanggungjawab. Rampung cerita, kanca-kancane Sari malah nggeguyu Sari. Sari digarapi entek-entekan karo knca-kancane. Sri tambah mangkel, kancane lagi bar kesusahan malah digarapi entek-entekan. Bocah-bocah sing pada kumpul mau banjur geguyan bebarengan.
Esuke pas wis ganti dina, nang sekolahan Sari ijeh wae digarapi karo kanca-kancane. Nanging Sari uwis ora patek ngeh, ora digubris karo Sari omongane kanca-kancane. Krungu bel mlebu sekolah muni, Pak Sawal nggawa bocah wadon ayu rupane. Bocah kui murid anyar sing tau dicritakke karo Pak Sawal. Pak Sawal banjur akon bocah mau ngenalke deweke nang ngarep kelas.
“Sugeng enjang, name kula Erna, kula pindahan saking Bandung. Mugi-mugi kula saged srawung sae kalih sampeyan sadaya.” Pitutur’e bocah mau sopan.
Pak Sawal akon Erna lungguh nang sanding very. Erna banjur kenalan karo Sari, Rani, Tina, Very, lan Ambar. Erna bocah sing prigel gampang akrab karo kahanan sing ijeh anyar kanggo deweke. Erna langsung akrab karo Sari lan liyane. Rombongane Sari tambah siji. Bubar sekolah, Erna ngangseni kanca-kanca anyare arep diajak dolan, ben tambah akrab meneh. Sari lan liyane gelem-gelem wae.
Minggu esuk, Sari uwis nggenjot pedal pit e. Arep nang omah e Tina. Dengaren Sari gelem melu dolan karo kanca-kancane. Biyasane nek preinan dina minggu, bocah kui mending milih nang ngomah sinau pelajaran sing dinggo senen. Sari tekan omah e Tina sipik dewe, omah e Tina karo Sari ora kacek adoh. Dadi ora gumun nek Sari mesti tekan sipik dewe disbanding kanca liyane. Ora sue Rani, Ambar karo Very tekan omah e Tina. Cah 5 banjur lunga nang Tama Sari. Erna ora melu ngumpul nang omah e Tina amarga urung genah omah e Tina. Dadi Erna langsung nunggu nang Taman Sari. Sak tekane nang Taman Sari bocah 5 mau uwis ditunggu Erna nang cerak loket.
Pas lagek seneng-senenge geguyon nang kana. Teka-teka Rani kaget weruh ana rombongan e Rama. Sing agek pada dolan nang kana. Luwih kaget meneh Sari, weruh wong lanang sing ora tanggungjawab uwis nyrempet pit e. Sari cerita, yen bocah kae sing tau diceritakake nyrempet pit e Sari. Kanca-kancane Sari pada nggumun. Mosok Sari ora genah nek Rama kakak kelas sing paling diwedeni row murid liyane. Sari pancen tau krungu ceritane Rama, tapi deweke during tau ngerti sing jenenge Rama jebule sing nyrempet pit e Sari. Erna sing rumangsa kenal cerak karo Rama banjur ngajak kanca-kancane nyerak. Sing ana malah Rama karo Sari ribut meneh, gara-gara kedaden srempetan kae. Katimbang tambah rame, Tina ngajak Sari lunga saka kana. Rani, Veri lan liyane uga ngetutke Tina karo Sari. Ambar takon karo Erna kok Erna iso kenal karo Rama akrab meneh. Erna banjur cerita nek Rama kui anake kancane bapake Erna. Tina sing ijeh nenangke Sari, banjur ngajak bali, ndak suasanane tambah panas.
Esuke Sari, Erna, Tina, Veri, lan Ambar sekolah kaya biyasane. Nanging Sari ijeh mangkel nek kelingan, wong lanang sing nyrempet deweke jebulna kakak kelase dewe. Pelajarane Bu Sumarni, Bu Marni ngenei pengumuman. SMA Bintang Raya arep melu lomba Penelitian topik sing diangkat bebas. Saben sekolah ngirimke sakelompok, saben kelompok ana wong 2 lanang wadon. Bocah wadon sing dipilih iyo kui Sari. Rampung pelajarane Bu Mari, Sari dikon ngadep nang ruangane Bu Marni karo arep ngenalke sing arep sak kelompok karo sari. Sari kaget sing ditunjuk jebulna Rama. Uwong sing uwis gawe mangkel Sari. Rama karo Sari pada-pada ora setuju neg pasangane karo kui. Sari uwis kadung mangkel karo Rama. Rama uga eo ngon.
“Gelem ora gelem kowe wong loro kudu gelem. Iki dingo jeneng sekolah, aja pada ngedu egone dewe-dewe. Coba ajara dadi bocah sing rasis.” Amanate Bu Marni.
Kepeksane Sari karo Rama bali nang kelase dewe-dewe karo rasa ora puas. Tekan kelas Sari crita karo knca-kancane. Yen sing dadi kanca sak kelompkke lomba Rama. Konco-koncone setengan ora percaya. Ambar sing ngefans karo Rama meri karo Sari.
“Arep pie meneh, karo Bu Marni uwis ra iso ganti liyane.” Glendenge Sari.
“Yo.. Rapapa itung-itung mbathi. Hhhee.” Saure Veri.
Nang bedo papan, Rama ngglendeng karo kanca-kancane. Rama uga ora sarujuk karo keputusanne Bu Murni.
“Asem..kowe genah ora? Mosok au didadekke sak kelompok karo bocah kae.” Omonge Rama.
“Sapa emange bos?” takone David.
“Kae bocah sing ketemu nang Taman Sari. Jebul kae adik kelase awak dewa ta.” Semaure Rama.
“Sapa? Sari po bos. Wah bejo nek ngono. Bocahe lak ayu ta bos, sapa ngerti iso cinlok.hhee.” Guyone Rendi.
“Cinlok gundulmu bocah kae udu levele Rama, ho’o ra bos.” Sauté David. “akh..mah omonganmu do nglantur.” Rama semaur karo lunga. Bali sekolah, Sari ora langsung bali. Bocah mau mampir nang taman kota. Golek inspirasi dingo garap lomba sing wis meh cerak wektune. Ora sengaja Sari ketu Rama nag kana. Pethukan bukane tekonan malah pada meneng-mengengan. Rama marani bocah cilik sing lagi ngosak asik sampah, golek panganan sing ijeh iso dipangan. Sari ora sengaja weruh, Rama ngenei panganan bocah mau. Cah cilik mau ngguyaguy samba mangan roti sing diweki karo Rama. Sari kaget weruh Rama, wong sing angkuhe kaya ngana, jebulna ijeh duweni rasa asih. “Aku ora nyangka kowe, Rama sing diwedeni karo bocah-bocah nang sekolah. Iso ngenei panganan dingo bocah kui.” Sari teka-teka merak sembari ngom. “Kuwi udu urusanmu!” Saure Rama ketus. Banjur lunga nginggal’e Sari karo bocah cilik mau. Sari ijeh kepikiran, karo tingkahe Rama. Setengah ora percaya yen uwong sing didelok mau Rama. Lebar kedaden nang taman, Sari dadi kerep mikire Rama. Uwong sing ora tau iso dijedik isining atine bocah kae. Nang sekolahan Rama karo Sari, dipanggil karo Bu Marni. Ditakoni uwis nemu bahan sing arep diteliti apa durung. Rama mung meneng wae. Sari usul yen bakal neliti masalah bocah gelandangan sing gaweane ngamen, row mulung nang pinggir dalan. Dijaluki pendapat Rama tetep meneng. Bu Marni wis kebacut setuju karo usule Sari. Gelem ra gelem Rama kudu melu setuju. Rama karo Sari banjur metu saka ruangane Bu Marni. ”Kapan arep mulai neliti?” Takone Sari. Rama mung meneng ae ora semaur. Sari nyoba nahan emosi, ngadepi wong angkuh kaya Rama. “Ditekoni malah mung meneng wae.” Omonge Sari. “Engko bali sekolah ketemu nang Taman Kota.” Saure Rama, banjur lunga ninggale Sari dewekan. Setengah nggumun, tapi ora patika dipikir karo Sari. Sari banjur nang kelas. Bel rampung sekolah wis muni. Sari gage bali, tekan ngomah salin. Ora sempet madang, banjur menyang nang taman. Sari ora nemu sapa-sapa nang kana. Sing ana uwong pada dolan nang taman. Blas Rama ora ketok. Sari wis mulai ragu, ora yakin neg Rama cen serius arep garap laporan. Sari lungguh nang bangku taman karo maca buku, sapa ngerti isa oleh inspirasi. “Lek uwis ayo malu aku.” Teka-teka Rama nyeret tangane Sari. Sari kaget, kapan Rama tekan kana. Ora ngom apa-apa, Sari manut wa karo Rama arep diajak nangendi. Rama ngajak Sari nang omah singgah pinggir kota. Akeh cah cilik sing mlayu merak, marani Sari karo Rama. “Mas Rama, ndede gawa dolanan ora?” takone salah siji bocah kae. “Rudi, jupuken barang-barang nang bagasiku.” Rama nyelukke salah siji bocah sing lagi lungguh. “Maksudmu ngajak aku ndene apa?” takone Sari. Rama ora semaur. Deweke malah banjur lunga ndolani cah cilik sing pada nggeret Rama. Rudi bocah sing dikon njupuk barang nang bagasi, nggowo barang mlebu nang omah kardus. Kanti cekatan anggone nglebokke barang-barang. “Mbak, pacare mas Rama nggih?” takone Rudi. “Akh.. udu le tek kepie?” saure Sari. “Tak kira pacare mas Rama, gek pisan iki mas Rama ndene ngejak wong wedok.” Terange Rudi. ”Emang mas Rama kerep ndene le? Ngapa wae?” takone Sari. “Meh pendak dina mas Rama ndene mbak. Gawake aku karo adik-adikku kae panganan.” Omonge Rudi. “Rudi, adik-adikmu ajaken dolan!” Rama mbengok. “Eenggih mas.” Saure Rudi. Rama banjur merak marani Sari. Rama cerita kabeh tentang uripe bocah-bocah sing manggon nang omah singgah iki. “Aku ra nyangka wong kaya kowe. Ijeh duwe rasa kemanusiaan.” Pitutur e Sari. “Aku ora rep ngomong akeh. Neg kowe cen niat arep gawe penelitian tentang bocah dalan. Iki wis ana subjek mung gari diteliti.” Saure Rama. Bali saka omah singgah Sari diterke karo Rama bali. Sak tekane ngomah, Sari ijeh ngerasa ora percaya. Rasa jengkele Sari marang Rama saiki berubah dadi rasa kagume Sari marang Rama.
#cerpenbasajawa #jawacerpen
Dina kui Sari duwe kangsen karo Tina, oncone sak kelas. Sari, bocah wadon uga sekolah ing SMA Bintang Raya. Sari lair saka keluarga sederhana, deweke bisa sekolah ing SMA Bintang Raya oleh beasiswa saka sekolah, merga bocah mau duweni prestasi sing luwih tinimbang kanca-kancane. Sari nggenjot pite kanti alon lan ngati-ati, samba nyanyi-nyanyi turut dalan. Teka-teka Sari dikagetke saka ngerep ana mobil ngebut. Ora sengaja mobil mau nyrempet pite Sari. Sari ora trima, banjur njupuk watu ning cerake dibandemke mobil mau. Ngenani kaca buri mobil. Sing duwe mobil kaget, ngerim mobile, banjur metu saka mobil. Jebul sing gawa mobil mau Rama.
“Sapa sing wani bandem mobilku ngasi kacaku pecah ngene?” Omonge Rama karo muring-muring dewe.
“Aku… Ngapa kowe ora trima?” Semaure Sari, sing teka-teka wis ana nang burine Rama.
“Sapa kowe, teka-teka bandem mobilku? Nngerti ora iki mobil larang?” Takone Rama karo nyentak.
“Arep mobil larang, mobil murah, mobil colongan sisan. Kui urusanmu, udu urusanku. Sing jelas aku yo ora trima. Emang iki dalane simbahmu apa? Gowo mobil ora nganggo aturan.” Sari murung karo Rama.
“Terus apa urusane kari kowe, muring-muring ra jelas ora ana sebabe. Kudune aku sing muring-muring karo kowe. Wis mecahke kaca mobilku.” Semaure Rama.
“Sajake kowe ki dong ora e? wis nyrempet pitku ngasi ban e dadie kaya ngana. Pitku siji-sijine meneh. Malah ura ngrumangsani nek wis ngrugekke uwong.” Sari ijeh muring-muring.
“Mung pit murahan ae dironutke. Regane pit mou luwih murah ketimbang rega kaca mobilku. Wis aku ana ueusan sing luwih penting ketimbang ngurusi uwong kayak kowe.” Rama banjur mlebu mobil, lunga tanpa ngom apa-apa meneh.
“Dasar wong ora tanggungjawab. Ngrusakke pit e uwong ora gelem ganti rugi meneh.” Sari karo bengak-bengok.
Karo rasa jengkel lan mangkel, Sari nuntun pit tkan omah e Tina. Sari tekan omah e Tina wis keri dewe. Sing biyasane mangkat gasik, saiki kalah karo liyane. Kanca-kancane nggumun Sari ora kaya biyasane. Teka nuntun pit karo muring-muring ora jelas. Tina banjur tekon karo Sari. Sari cerita kabeh sing dialami nang dalan mau. Ketemu wong lanang sing ora bertanggungjawab. Rampung cerita, kanca-kancane Sari malah nggeguyu Sari. Sari digarapi entek-entekan karo knca-kancane. Sri tambah mangkel, kancane lagi bar kesusahan malah digarapi entek-entekan. Bocah-bocah sing pada kumpul mau banjur geguyan bebarengan.
Esuke pas wis ganti dina, nang sekolahan Sari ijeh wae digarapi karo kanca-kancane. Nanging Sari uwis ora patek ngeh, ora digubris karo Sari omongane kanca-kancane. Krungu bel mlebu sekolah muni, Pak Sawal nggawa bocah wadon ayu rupane. Bocah kui murid anyar sing tau dicritakke karo Pak Sawal. Pak Sawal banjur akon bocah mau ngenalke deweke nang ngarep kelas.
“Sugeng enjang, name kula Erna, kula pindahan saking Bandung. Mugi-mugi kula saged srawung sae kalih sampeyan sadaya.” Pitutur’e bocah mau sopan.
Pak Sawal akon Erna lungguh nang sanding very. Erna banjur kenalan karo Sari, Rani, Tina, Very, lan Ambar. Erna bocah sing prigel gampang akrab karo kahanan sing ijeh anyar kanggo deweke. Erna langsung akrab karo Sari lan liyane. Rombongane Sari tambah siji. Bubar sekolah, Erna ngangseni kanca-kanca anyare arep diajak dolan, ben tambah akrab meneh. Sari lan liyane gelem-gelem wae.
Minggu esuk, Sari uwis nggenjot pedal pit e. Arep nang omah e Tina. Dengaren Sari gelem melu dolan karo kanca-kancane. Biyasane nek preinan dina minggu, bocah kui mending milih nang ngomah sinau pelajaran sing dinggo senen. Sari tekan omah e Tina sipik dewe, omah e Tina karo Sari ora kacek adoh. Dadi ora gumun nek Sari mesti tekan sipik dewe disbanding kanca liyane. Ora sue Rani, Ambar karo Very tekan omah e Tina. Cah 5 banjur lunga nang Tama Sari. Erna ora melu ngumpul nang omah e Tina amarga urung genah omah e Tina. Dadi Erna langsung nunggu nang Taman Sari. Sak tekane nang Taman Sari bocah 5 mau uwis ditunggu Erna nang cerak loket.
Pas lagek seneng-senenge geguyon nang kana. Teka-teka Rani kaget weruh ana rombongan e Rama. Sing agek pada dolan nang kana. Luwih kaget meneh Sari, weruh wong lanang sing ora tanggungjawab uwis nyrempet pit e. Sari cerita, yen bocah kae sing tau diceritakake nyrempet pit e Sari. Kanca-kancane Sari pada nggumun. Mosok Sari ora genah nek Rama kakak kelas sing paling diwedeni row murid liyane. Sari pancen tau krungu ceritane Rama, tapi deweke during tau ngerti sing jenenge Rama jebule sing nyrempet pit e Sari. Erna sing rumangsa kenal cerak karo Rama banjur ngajak kanca-kancane nyerak. Sing ana malah Rama karo Sari ribut meneh, gara-gara kedaden srempetan kae. Katimbang tambah rame, Tina ngajak Sari lunga saka kana. Rani, Veri lan liyane uga ngetutke Tina karo Sari. Ambar takon karo Erna kok Erna iso kenal karo Rama akrab meneh. Erna banjur cerita nek Rama kui anake kancane bapake Erna. Tina sing ijeh nenangke Sari, banjur ngajak bali, ndak suasanane tambah panas.
Esuke Sari, Erna, Tina, Veri, lan Ambar sekolah kaya biyasane. Nanging Sari ijeh mangkel nek kelingan, wong lanang sing nyrempet deweke jebulna kakak kelase dewe. Pelajarane Bu Sumarni, Bu Marni ngenei pengumuman. SMA Bintang Raya arep melu lomba Penelitian topik sing diangkat bebas. Saben sekolah ngirimke sakelompok, saben kelompok ana wong 2 lanang wadon. Bocah wadon sing dipilih iyo kui Sari. Rampung pelajarane Bu Mari, Sari dikon ngadep nang ruangane Bu Marni karo arep ngenalke sing arep sak kelompok karo sari. Sari kaget sing ditunjuk jebulna Rama. Uwong sing uwis gawe mangkel Sari. Rama karo Sari pada-pada ora setuju neg pasangane karo kui. Sari uwis kadung mangkel karo Rama. Rama uga eo ngon.
“Gelem ora gelem kowe wong loro kudu gelem. Iki dingo jeneng sekolah, aja pada ngedu egone dewe-dewe. Coba ajara dadi bocah sing rasis.” Amanate Bu Marni.
Kepeksane Sari karo Rama bali nang kelase dewe-dewe karo rasa ora puas. Tekan kelas Sari crita karo knca-kancane. Yen sing dadi kanca sak kelompkke lomba Rama. Konco-koncone setengan ora percaya. Ambar sing ngefans karo Rama meri karo Sari.
“Arep pie meneh, karo Bu Marni uwis ra iso ganti liyane.” Glendenge Sari.
“Yo.. Rapapa itung-itung mbathi. Hhhee.” Saure Veri.
Nang bedo papan, Rama ngglendeng karo kanca-kancane. Rama uga ora sarujuk karo keputusanne Bu Murni.
“Asem..kowe genah ora? Mosok au didadekke sak kelompok karo bocah kae.” Omonge Rama.
“Sapa emange bos?” takone David.
“Kae bocah sing ketemu nang Taman Sari. Jebul kae adik kelase awak dewa ta.” Semaure Rama.
“Sapa? Sari po bos. Wah bejo nek ngono. Bocahe lak ayu ta bos, sapa ngerti iso cinlok.hhee.” Guyone Rendi.
“Cinlok gundulmu bocah kae udu levele Rama, ho’o ra bos.” Sauté David. “akh..mah omonganmu do nglantur.” Rama semaur karo lunga. Bali sekolah, Sari ora langsung bali. Bocah mau mampir nang taman kota. Golek inspirasi dingo garap lomba sing wis meh cerak wektune. Ora sengaja Sari ketu Rama nag kana. Pethukan bukane tekonan malah pada meneng-mengengan. Rama marani bocah cilik sing lagi ngosak asik sampah, golek panganan sing ijeh iso dipangan. Sari ora sengaja weruh, Rama ngenei panganan bocah mau. Cah cilik mau ngguyaguy samba mangan roti sing diweki karo Rama. Sari kaget weruh Rama, wong sing angkuhe kaya ngana, jebulna ijeh duweni rasa asih. “Aku ora nyangka kowe, Rama sing diwedeni karo bocah-bocah nang sekolah. Iso ngenei panganan dingo bocah kui.” Sari teka-teka merak sembari ngom. “Kuwi udu urusanmu!” Saure Rama ketus. Banjur lunga nginggal’e Sari karo bocah cilik mau. Sari ijeh kepikiran, karo tingkahe Rama. Setengah ora percaya yen uwong sing didelok mau Rama. Lebar kedaden nang taman, Sari dadi kerep mikire Rama. Uwong sing ora tau iso dijedik isining atine bocah kae. Nang sekolahan Rama karo Sari, dipanggil karo Bu Marni. Ditakoni uwis nemu bahan sing arep diteliti apa durung. Rama mung meneng wae. Sari usul yen bakal neliti masalah bocah gelandangan sing gaweane ngamen, row mulung nang pinggir dalan. Dijaluki pendapat Rama tetep meneng. Bu Marni wis kebacut setuju karo usule Sari. Gelem ra gelem Rama kudu melu setuju. Rama karo Sari banjur metu saka ruangane Bu Marni. ”Kapan arep mulai neliti?” Takone Sari. Rama mung meneng ae ora semaur. Sari nyoba nahan emosi, ngadepi wong angkuh kaya Rama. “Ditekoni malah mung meneng wae.” Omonge Sari. “Engko bali sekolah ketemu nang Taman Kota.” Saure Rama, banjur lunga ninggale Sari dewekan. Setengah nggumun, tapi ora patika dipikir karo Sari. Sari banjur nang kelas. Bel rampung sekolah wis muni. Sari gage bali, tekan ngomah salin. Ora sempet madang, banjur menyang nang taman. Sari ora nemu sapa-sapa nang kana. Sing ana uwong pada dolan nang taman. Blas Rama ora ketok. Sari wis mulai ragu, ora yakin neg Rama cen serius arep garap laporan. Sari lungguh nang bangku taman karo maca buku, sapa ngerti isa oleh inspirasi. “Lek uwis ayo malu aku.” Teka-teka Rama nyeret tangane Sari. Sari kaget, kapan Rama tekan kana. Ora ngom apa-apa, Sari manut wa karo Rama arep diajak nangendi. Rama ngajak Sari nang omah singgah pinggir kota. Akeh cah cilik sing mlayu merak, marani Sari karo Rama. “Mas Rama, ndede gawa dolanan ora?” takone salah siji bocah kae. “Rudi, jupuken barang-barang nang bagasiku.” Rama nyelukke salah siji bocah sing lagi lungguh. “Maksudmu ngajak aku ndene apa?” takone Sari. Rama ora semaur. Deweke malah banjur lunga ndolani cah cilik sing pada nggeret Rama. Rudi bocah sing dikon njupuk barang nang bagasi, nggowo barang mlebu nang omah kardus. Kanti cekatan anggone nglebokke barang-barang. “Mbak, pacare mas Rama nggih?” takone Rudi. “Akh.. udu le tek kepie?” saure Sari. “Tak kira pacare mas Rama, gek pisan iki mas Rama ndene ngejak wong wedok.” Terange Rudi. ”Emang mas Rama kerep ndene le? Ngapa wae?” takone Sari. “Meh pendak dina mas Rama ndene mbak. Gawake aku karo adik-adikku kae panganan.” Omonge Rudi. “Rudi, adik-adikmu ajaken dolan!” Rama mbengok. “Eenggih mas.” Saure Rudi. Rama banjur merak marani Sari. Rama cerita kabeh tentang uripe bocah-bocah sing manggon nang omah singgah iki. “Aku ra nyangka wong kaya kowe. Ijeh duwe rasa kemanusiaan.” Pitutur e Sari. “Aku ora rep ngomong akeh. Neg kowe cen niat arep gawe penelitian tentang bocah dalan. Iki wis ana subjek mung gari diteliti.” Saure Rama. Bali saka omah singgah Sari diterke karo Rama bali. Sak tekane ngomah, Sari ijeh ngerasa ora percaya. Rasa jengkele Sari marang Rama saiki berubah dadi rasa kagume Sari marang Rama.
#cerpenbasajawa #jawacerpen
My Nightmare
When the missing come to me
And the silent beside me
Do you know what I do?
Oh no, I think about you
I try to stand up
And woke up from nightmare
I want to forget you
I feel that I will kill you
From my mind and my heart
But that insufficient
To make me forget you
I want to you know
My Nightmare is forget you
And the silent beside me
Do you know what I do?
Oh no, I think about you
I try to stand up
And woke up from nightmare
I want to forget you
I feel that I will kill you
From my mind and my heart
But that insufficient
To make me forget you
I want to you know
My Nightmare is forget you
Rintihan Bumi
Aku merintih karna engkau
Kau yang tak peduli padaku
Kau sakiti aku dengan egomu
Kau lukai aku dengan bengismu
Bukan salahku
Jika aku membalasmu
Lelah sudah aku bersabar
Terdiam dalam kebisuan
Bukan salahku
Saat aku merintih pilu
Memuntahkan emosi dalam hati
Aku hanya ingin menyapamu
Disinilah aku
Bukan untuk kau lukai
Kau yang tak peduli padaku
Kau sakiti aku dengan egomu
Kau lukai aku dengan bengismu
Bukan salahku
Jika aku membalasmu
Lelah sudah aku bersabar
Terdiam dalam kebisuan
Bukan salahku
Saat aku merintih pilu
Memuntahkan emosi dalam hati
Aku hanya ingin menyapamu
Disinilah aku
Bukan untuk kau lukai
Kamis, 14 April 2011
Bunga Cinta
KEPEJAMKAN KEDUA MATAKU
KUBIARKAN JIWAKU MELAYANG
TERDAMPAR DI SEBUAH LADANG BUNGA
SEMERBAK AROMA BUNGA TERINDAH
TAMPAK SEKUNTUM BUNGA CINTA
SUBUR DAN BERSEMI DI HATIKU
SUKA CITA MENJADI MAHKOTANYA
KERINDUAN TANGKAI ABADINYA
KESETIAAN KELOPAK TERHADAP MAHKOTA
KEMESRAAN PUTIK DAN BENANG SARI
SEBAGAI LAMBANG CINTA BERSEMI....
KUBIARKAN JIWAKU MELAYANG
TERDAMPAR DI SEBUAH LADANG BUNGA
SEMERBAK AROMA BUNGA TERINDAH
TAMPAK SEKUNTUM BUNGA CINTA
SUBUR DAN BERSEMI DI HATIKU
SUKA CITA MENJADI MAHKOTANYA
KERINDUAN TANGKAI ABADINYA
KESETIAAN KELOPAK TERHADAP MAHKOTA
KEMESRAAN PUTIK DAN BENANG SARI
SEBAGAI LAMBANG CINTA BERSEMI....
Budaya Kita
Para putra kang kinasih
Delengen kabudayan kita
Kabudayan kang meh sirna
Apa kowe ora rumangsa
Duweni kabudayan kang adi luhung?
Endahing swaraning gendhing
Larasing langgam jawa
Resep rumesep jroning ati
Prayogane kita, para putra
Tansah nguri-uri
Warisan leluhur kita
Kabudayan kang edi peni.
Delengen kabudayan kita
Kabudayan kang meh sirna
Apa kowe ora rumangsa
Duweni kabudayan kang adi luhung?
Endahing swaraning gendhing
Larasing langgam jawa
Resep rumesep jroning ati
Prayogane kita, para putra
Tansah nguri-uri
Warisan leluhur kita
Kabudayan kang edi peni.
Selasa, 29 Maret 2011
Puisi dalam lima detik
Lima detik aku memandangmu
Lima detik aku tersenyum padamu
Tahukah kamu
Lima detik aku mengagumimu
dan cukup lima detik saja
Lima detik aku tersenyum padamu
Tahukah kamu
Lima detik aku mengagumimu
dan cukup lima detik saja
Langganan:
Postingan (Atom)