Cerkak

Kamis, 15 Desember 2016

Benang-benang Mimpi

Menapaki kehidupan itu tidaklah mudah. Banyak tantangan dan perjuangan yang harus kita lalui. Tapi aku tak ingin mengeluh atau meratapi nasibku sendiri. Aku tahu hidup itu tak seindah mimpi apalagi khayalan yang terlalu tinggi. Aku hanya ingin bangun dari mimpiku, mimpi yang selalu membuatku tak ingin bangun lagi. Kumulai membuka mata dan inilah kisahku……
Seorang anak yang masih duduk di bangku kelas dua sebuah sekolah dasar di Kecamatan Minggir terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar teriakan Emak yang sedang berada di dapur.
“Parni….., Suparni…!!!” teriak Emak menggelegar. Suaranya melengking dan meninggi. Aku sudah hafal untuk apa Emak berteriak seperti itu. Tentu saja membangunkanku. Aku terpaksa membuka mata walau perlahan-lahan. Rasa kantuk masih mendera. Aku mulai merapikan selimut serta melipat tikar yang kugunakan sebagai alas tidur. Jam usang di dinding masih menunjukkan pukul empat pagi, suara jangkrik pun masih terdengar jelas. Aku mengambil lampu minyak dari atas meja kemudian berjalan ke arah dapur.
“Cepat ambil air!!!” perintah Emak tanpa memandangku. Ia sibuk mencuci peralatan masak yang akan digunakan..
“Iya, Mak,” jawabku mematuhi perintah Emak karena kalau aku tidak patuh, aku bisa dimarahi oleh Emak.
Dengan membawa lampu minyak di tangan kiri dan sebuah ember di tangan kanan, aku segera mengambil air di sumur tetangga. Di jaman yang sudah sangat maju ini, sebagian besar tetanggaku sudah memakai listrik sebagai penerangan. Walaupun begitu, jalan setapak yang aku lewati untuk mengambil air tidak mendapat penerangan sehingga aku harus membawa lampu minyak. Dua kali aku harus bolak-balik mengambil air. Setelah itu, aku harus membantu Emak memasak. Mulai dari membersihkan beras dan sayur, meracik bumbu kemudian menyalakan api menggunakan kayu bakar. Selesai memasak, aku harus membangunkan adik perempuanku yang berusia empat tahun kemudian mengajak adikku mandi bersama.
Aku dan adikku mandi di sumur milik sendiri. Airnya berwarna kuning lumpur sehingga tidak digunakan untuk memasak. Penyekatnya hanya terbuat dari bambu dan tidak beratap. Aku harus menimba dan mengguyur adikku serta membersihkan badannya. Setelah itu, aku sendiri yang mandi. Emak sudah makan terlebih dahulu karena ia harus bekerja sebagai pengasuh anak di salah satu keluarga di dusun sebelah. Rutinitasku tiap pagi sudah aku jalani, sekarang aku harus berangkat ke sekolah mengendarai sepeda mini yang sudah banyak berkarat. Rantai sepeda pun tidak beroli. Adikku sudah biasa ditinggal di rumah sendirian. Biasanya dia menghabiskan waktunya dirumah tetangga yang mempunyai anak sebaya dia.
Pulang sekolah pukul sepuluh pagi, aku harus menyapu halaman, mencuci baju milikku, adikku, dan milik Emak. Selanjutnya, bersih-bersih rumah. Tetangga di samping rumahku memiliki halaman yang cukup luas. Biasanya banyak anak-anak yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain bersama di halaman itu. Mereka bisa tertawa lepas, saling kejar-kejaran, dan meneriakkan seruan-seruan yang menyenangkan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu. Masih ada waktu bagiku untuk bermain bersama teman-teman sepermainan walau tidak lama karena aku harus mengurus adikku dan memasak di sore hari atau hanya sekedar menghangatkan makanan. Emak baru pulang pukul delapan malam dan segera mandi dengan air hangat yang telah aku siapkan. Esoknya, Emak tidak bekerja lagi. Sejak saat itu, Emak sering uring-uringan dan aku harus menuruti segala perintahnya.
Suatu hari, pada saat penerimaan raport, ibu guru yang menjadi wali kelasku tidak memberikan raport padaku karena aku belum lunas membayar sekolah. Ia hanya memberi tahuku bahwa aku harus tinggal kelas. Aku tak sanggup menahan air mataku. Saat aku pulang, aku tak berani jujur pada Emak. Wali kelaskulah yang memberi tahu Emak setelah tahun ajaran baru dimulai. Reaksi Emak sudah kuduga. Aku dimarahi habis-habisan. Tangan Emak berkali-kali mendarat di kepalaku.
Kesunyian malam menjadi teman saat aku menangis tersedu-sedu di depan rumah karena Emak mengunci pintu dari dalam. Ia tak memperbolehkan aku masuk. Aku memang tak seperti anak-anak lain. Bodoh. Tak bisa menerima pelajaran dengan baik. Suara jangkrik mengiringiku merenungkan nasibku sendiri. Mengapa aku terlahir sangat tidak beruntung? Tak pernah aku mendapat kebahagiaan dalam hidupku. Tak tahu kenapa Emak selalu memarahi dan memukuliku. Apa salahku? Aku sudah berusaha menjadi anak yang baik untuk Emak. Aku harus bisa menerima nasibku dan berusaha lebih baik lagi. Namun, kemampuanku menerima pelajaran memang sangat rendah. Aku harus menyelesaikan sekolah dasar selama delapan tahun yang artinya aku harus tinggal kelas dua kali. Aku ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, Emak, yang telah ditinggalkan suaminya entah kemana, tidak sanggup untuk membiayai.
“Mbak Parni mau bantu-bantu di panti asuhan, nggak? Nanti juga bisa sambil bersekolah dengan beasiswa di yayasan tempat saya bekerja. Bagaimana?” tanya seorang ibu yang sangat baik hati kepadaku. Bu Desi adalah salah satu tetanggaku, ia sangat baik dan aura keibuannya nampak sekali. Senyumnya menyiratkan ketulusan. Aku menatap mata Emak dengan penuh harapan agar Emak mengijinkan. Emak tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberikan sedikit senyuman kecutnya.
“Iya, Bu, saya sangat bersedia. Kerja sebagai apapun saya mau, Bu, asalkan saya bisa melanjutkan sekolah” jawabku dengan sangat antusias tanpa berbasi-basi.
“Tapi apa benar, Bu, Parni bisa sekolah gratis?” tanya Emak meragu.
“Iya, akan saya usahakan supaya Parni mendapat beasiswa, biaya yang lain kan bisa memakai gaji Parni,” jawab Bu Desi memberi penjelasan.
Akhirnya, Emak tidak keberatan kalau aku bekerja di panti asuhan bahkan tinggal di sana untuk melanjutkan sekolah. Aku bisa pulang ke rumah hanya pada saat libur semester.
Aku bisa cepat menyesuaikan diri dengan pekerjaan baruku karena memang aku sudah terbiasa bekerja keras. Aku dipekerjakan untuk membantu memasak tiap pagi dan sore hari. Seminggu sekali aku harus mengepel lantai ruang tamu, ruang administrasi, ruang makan dan dapur. Semua itu aku jalani dengan senang hati sehingga semua pekerjaanku terasa ringan.
Aku sangat bersyukur bisa melanjutkan sekolah di SMP yang lokasinya tak jauh dari panti. Anak-anak di sini sangat menunjukkan rasa kekeluargaan. Walau di kelas aku merupakan murid tertua tapi aku tidak merasa minder berteman dengan teman-temanku. Akhirnya, aku berhasil lulus SMP walaupun dengan hasil nilai pas-pasan. Setelah lulus, aku tetap bekerja di panti. Aku tidak melanjutkan ke SMA.
Aku sudah merasa nyaman dan betah tinggal di panti. Di sini aku merasa mendapat keluarga baru. Walau terkadang aku sangat rindu dengan Emak dan adikku. Mereka sangat jarang mengunjungi aku. Hasil dari pekerjaanku aku kirimkan untuk Emak. Kini, aku menjadi orang kepercayaan ketua pengurus panti tersebut.
Pendidikan sangatlah penting untuk meraih cita-cita. Pergunakanlah kesempatan yang dimiliki untuk meraihnya seberat apapun perjuangan yang mesti kita lalui. Yaa, sukses itu bukanlah suatu tujuan melainkan akhir dari suatu perjalanan panjang.

---TERIMA KASIH---