Sepasang mata menatap lurus ke depan. Memandang deburan ombak yang bergulung manja di pasir pantai. Suara ombak begitu riuh. Tak seperti suasana hati Arya saat itu. Ia hanya duduk termenung sendirian. Pandangannya kosong, sekosong hatinya. Deburan ombak pada karang telah meneriakkan kepiluan yang ia rasakan. Ia merasa damai seolah ombak mengajaknya berbicara untuk menumpahkan seluruh isi hatinya. Angin semilir membelai kulitnya yang putih. Hawa dingin menyelimuti tubuh Arya. Menambah kebekuan hatinya kian menjadi. Dia butuh sepercik api kehangatan untuk mencairkan suasana hatinya yang membeku karena cinta. Cinta yang selalu tak membuatnya bahagia.
Satu-satunya alasan kepedihan hatinya saat itu adalah pencarian cinta sejati yang tak kunjung ia temukan. Setiap kali berpacaran, tak lebih dari tiga bulan dan selalu mengecewakan. Ia tidak merasa dirinya itu playboy seperti yang sering dikatakan teman-temannya. Malahan dialh yang sering diputus oleh pacarnya. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh kali ia berpacaran.
Matanya menerawang jauh ke langit. Memandang awan yang bergelayut di atas sana. Tak seputih biasanya, awan itu senada dengan hatinya yang kelabu, dia sedikit tersenyum, ternyata bagian dari alam ini ada yang berpihak padanya.
“Hei, Bro!” Dio tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Arya.
“Eh, Elo Di. Ngapain Lo di sini? Biasanya Lo nge-date ama cewek Lo. Ini kan malming, Bro,” sahut Arya.
“Emang Gue lagi sama cewek Gue,” jawab Dio sambil melambai pada gadis yang sedang malambai padanya di pinggir laut..”Lo sendiri? Mana cewek Lo yang manis nan seksi itu?” lanjutnya bertanya.
“Oh, si Gita, cewek Gue sebelum yang terakhir kemaren,” balas Arya.
“Apa? Jadi Lo udah putus ama si Gita itu, trus jadian ama cewek laen lagi?”
“Iya, tapi udah putus juga.”
“Tobat, tobat…..!!! Dasar playboy cap cay!” gerutu Dio sambil meninju bahu Arya.
“Eits, bukan Gue yang mutusin mereka loh.” Bantah Arya membela diri.
“Sama aja, itu pasti karna Lo tuh playboy. Suka mempermainkan hati wanita.”
“Enak aja Lo ngomong. Gue tuh sebenarnya tipe cowok setia tau. Buktinya Gue udah ebih dari satu bulan ngejomblo. Gue ingin instrospeksi diri dulu. Capek diputusin terus.”
“Kayak Gue dong, berusaha mencari cinta sejati, bukan pacar sejati.”
“Maksud Lo?” tanya Arya heran dengan kata-kata Dio yang sok bijak.
“Iya, beneran. Si Dina itu kan mantan Gue waktu SMA,” kata Dio sambil menunjuk ceweknya.
“Gue juga udah tahu. Trus?”
“ Susah tahu buat ngedapetin dia lagi. Dia tambah cantik sih. Nah, Gue jadian lagi tuh berkat pohon cinta di sana itu.”
“Yang di deket rumah Gue? Itu kan Cuma mitos aja. Gue juga udah tahu mitos itu sejak Gue masih balita,” jawab Arya ketus.
“Kenapa Lo nggak pernah nyoba? Tinggal gantungin surat, trus dalam waktu 40 hari Lo pasti dapet deh yang namanya cinta sejati,”ucap Dio semangat.
“Pokoknya Gue nggak mau pake cara konyol kayak gitu.”
“Ya udah. Terserah Lo. Buktinya banyak yang percaya dan baehasil kan? Gue ke sana dulu, ya?” Dio beranjak dari tempatnya menghampiri ceweknya.
Apa benar yang dikatakan Dio? Arya membatin dalam hati. Sudah lama ia mendengar mitos itu. Tapi sama sekali ia belum pernah mencoba. Memang sudah sering tersiar kabar bahwa pohon cinta itu mujarab. Akhirnya Arya memutuskan untukmencoba menggantung surat di pohon tua itu. Dimasukkannya sebuah surat dalam amplop yang berwarna kuning. Arya menggantungkan suratnya pada salah satu dahan.
Semoga Gue bakalan ngedapetin cinta sejati Gue, ia berdoa dalam hati. Kata orang, cinta sejati akan menuntun seseorang untuk memilih salah satu surat yang tergantung.
Sepuluh hari setelah menggantungkan surat cinta, Arya belum juga mendapat tanda-tanda datangnya cinta sejati. Ia berjalan sendirian di tempat wisatabelanja di pesisir pantai. Tidak terlalu ramai, karena memang bukan hari libur.
Panasnya terik matahari begitu menyengat. Namun, ia tak peduli kulit putihnya terbakar karena ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek dan sebuah celana pendek pula. Matanya berkeliling, adakah barang yang menarik minatnya? Ia melangkah pelan sambil membalas sapaan orang-orang yang menyapanya. Hampir seua penjual mengenal dirinya karena ia adalah anak pengusaha satu-satunya hotel mewah di pesisir itu. Ia melihat sebuah topi berwarna kuning berada di salah satu rak teratas. Ia segera meraih topi itu. Namun, ada tangan lain yang juga memegangi topi itu dari seberang rak.
“Hei, Gue duluan yang mau beli topi ini,” teriak Arya. Tak ada jawaban dari seberang. Orang di seberang rak melepaskan tangannya. Seorang cewek yang juga ingin membeli topi itu menghampiri Arya. Ia memasang muka sebel tapi tidak jadi memaki-maki Arya.
“Kamu?” cewek itu menunjuk Arya kaget.
“Krisan?” tanya Arya kaget juga setelah sempat terdiam beberapa saat. “Ini topinya buat kamu aja,” kata Arya sambil menyerahkan topi yang berwarna kuning itu. Arya memang tidak ingin berebut topi dengan cewek yang sudah lama dikenalnya sejak pertama kali masuk kuliah. Gengsi kalau harus berebut topi dengan cewek itu. Apalagi sampai ketahuan kalau dia ini suka warna kuning. Kata sebagian orang warna kuning kurang macho buat cowok. Krisan menerima topi itu ragu.
“Kak, ayo kita ke pantai!” ajak seorang anak kecil pada Krisan. Krisan segera membayar topi kemudian meninggalkan toko itu. Ia menyusuri tepian pantai bersama seorang anak kecil. Anak kecil yang berusia sekitar sepuluh tahun itu berlari-lari di mendahului Krisan.
“Dek, Kakak ke sana dulu, ya? Adek mainnya di sekitar sani aja,’ ucap Krisan pada adiknya. Adik laki-lakinya itu hanya mengangguk dan mulai bermain air. Krisan berjalan menjauhi laut. Ia duduk di bawah pohon yang rindang. Dikeluarkannya kamera digital dari dalam tasnya berwarna kuning. Ia melihat-lihathasil jepretanya. Sebuah amplop berwarna kuning jatuh di sampingnya. Ia memandang ke atas. Ternyata selang satu pohon dari tempatnya duduk ada pohon dengan amplop berwrna-warni.
Amplop apa nih, ia bertanya sendiri. Diraihnya amplop itu penasaran. Ia mulai membuka amplop karena tertarik pada warna amplop itu. Pelan tapi pasti, ia mulai membaca dalam hati.
Tulusnya cinta sejati
Sungguh sulit dimengerti
Apalagi dipahami
Menyimpan selaksa misteri
Terkadang membuat pedih di hati
Kerinduan akan cinta sejati
Membuat semuanya sunyi
Sabar menanti kekasih hati
Terasa sepi dan sendiri
Dalam lelah ku mencari
Aku bertanya sendiri
Adakah cinta yang sejati?
Dan sampai kini
Aku masih menanti
Arya A.
Hati Krisan trenyuh membaca surat yang berisi sebait puisi itu. Seakan dia juga merasakan kepedihan hati sang penulis. Merasa senasib dengan penulis surat itu, ia terkesan dengan surat itu.
Cowok yang nulis ini pasti romantis deh, pikir Krisan. Tapi buat apa dia nulis surat kayak gini? Bentar deh. Arya? Arya siapa nih? Apa mungkin…. Akh, yang namanya Arya kan bukan cuma dia.
Krisan melipat surat itu dan memasukkan kembali dalam amplop. Ia berniat untuk menyimpan surat itu kemudian dimasukkan dalam tasnya.
***
Empat puluh hari telah berlalu. Arya memandang pohon cinta dengan putus asa. Surat cinta yang tergantung bertambah banyak. Ia heran kenapa ada banyak orang yang percaya dengan pohon yang disebut pohon cinta. Benar-benar konyol. Tersungging sedikit senyum di bibir Arya.
Hampir setengah hari Arya duduk di bawah pohon itu sambil memandang hamparan laut yang sangat luas. Siapa tahu ia mendapatkan cinta sejatinya di bawah pohon itu pada hari itu juga.
“Kalau ingin mendapatkan cinta sejati tuh harus berusaha, jangan Cuma bengong,” Dio tiba-tiba duduk di sebelah Arya.
“Lo tuh gangguin ketenangan Gue,” jawab Arya ketus.
“Gimana saran Gue dulu? Udah dapet cinta sejati?” ledek Dio.
“Cinta sejati apanya? Jomblo sejati, iya.”
“Masak seorang Arya Anggara susah ngedapetin cewek? Kayaknya kali ini jadi masa terlama Lo ngejomblo,” Dio tak henti-hentinya menggoda Arya.
“Bener nggak sih kalau jodoh tuh di tangan Tuhan?”
“Tumben Lo beragama.”
“Kalau iya, ngapain Gue percaya ama pohon tua ini. Dasar bodoh.”
“Namanya juga usaha. Arya, Arya…..”
“Iya, usaha uang salah, kan?”
“Terserah Lo deh. Main surfing, yuk!” ajak Dio.
“Boleh juga.”
Keesokan harinya, Arya melajukan motor gedhenya menuju kampus tercinta. Hari ini ada pengumuman kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Walaupun hanya melihat pengumuman, Arya harus berpenampilan rapi dan wangi. Ia tidak bisa berangkat ke kampus dengan penampilan seadanya. Itulah sebabnya dia selalu dikagumi oleh cewek-cewek di kampusnya. Tapi, ia tidak tertarik dengan cewek yang satu fakultas dengannya. Alasannya kalau sudah putus males ketemu lagi.
Di parkiran, ia bertemu dengan Dio, sahabat kental yang sekampus dengannya. Mereka berjalan bersama menuju papan pengumuman. Dalam satu kelompok KKN biasanya terdiri dari mahasiswa yang berbeda jurusan. Dio dan Arya menjadi satu kelompok karena memang mereka bukan berasal dari jurusan yang sama.
“Oke, Bro. ternyata kita berjodoh,” dio menjabat tangan dan menepuk bahu Arya.
“Berjodoh ama Elo? Ikh, ogah!” cibir Arya bercanda. Meledak tawa diantara mereka berdua.
Ada satu lagi nama dalam kelompoknya yang Arya kenal yaitu Krisantia Nanda Putri. Sebenarnya ia kenal dengan Krisan hanya sebatas tahu begitu saja. Tidak akrab karena jarang ketemu. Mereka saling kenal saat Krisan menolong Arya mengusir lebah di kamar mandi cowok. Betapa malunya Arya jika bertemu dengan Krisan karena hanya Krisan yang tahu kalau Arya phobia terhadap lebah. Dia bahkan hampir ketahuan kalau suka warna kuning. Bisa jadi tambah malu.
Arya dan kelompoknya mendapat tugas KKN di sebuah desa terpencil. Dusun Seroya terletak sangat jauh dari kampus mereka. Arya dan rombongan telah sampai di rumah kepala dusun setelah menghabiskan waktu selama satu setengah jam perjalanan. Semua berangkat menggunakan mobil Dio, kecuali Arya. Arya berangkat sendiri dengan membawa perlengkapan seperlunya saja menggunakan motor kesayangannya. Di depan rumah kepala dusun, mereka mendapat sambutan hangat dari tuan rumah. Beberapa nak kecil turut menyambut mereka. Mereka dipersilakan masuk terlebih dahulu. Arya, sebagai ketua kelompok, menyampaikan maksud kedatangan mereka secara formal dan diterima oleh kepala dusun yang bernama Pak Karta.
Malam harinya, mereka membicarakan program-program yang akan dilaksanakan di dusun terpencil itu dengan Pak Karta. Hingga larut malam, akhirnya mereka selesai.
“Terima kasih, Bapak sudah mengarahkan kami,” ucap Arya sopan mengakhiri pembicaraan mereka.
“Sama-sama. Bapak juga mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Semoga program-program kalian dapat terlaksana dengan baik dan dapat berguna bagi masyarakat di Dusun Seroya ini. Walaupun sangat sederhana, anggap saja rumah Bapak ini seperti rumah kalian sendiri,” Pak Karta memberikan pidato singkat.
“Baik, Pak. Selamat malam,” balas Arya.
Empat mahasiswi masuk ke dalam satu kamar dan lima mahasiswa masuk ke kamar yang lain. Para mahasiswi sudah nampak akrab walaupun mereka baru bertemu di hari itu. Mereka sedang asyik bercerita. Krisan menyelinap ke luar.
“Mau kemana kamu, San?” tanya seorang temannya.
“Aku mau ke kamar mandi sebentar.”
Krisan menutup kembali pintu kamar kemudian berjalan menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Dia berpapasan dengan Arya yang keluar dari kamar mandi. Tak ada yang menyapa terlebih dahulu. Krisan hanya memberi sedikit senyum khasnya kepada Arya. Arya hanya membalas dengan tatapan cuek.
Ukh, dasar cowok frigid, sok cool, cemooh Krisan dalam hati.
Tanpa menoleh, Arya bergegas menuju kamarnya sambil mengelap muka dan rambutnya yang basah.
Program pertama pada hari pertama yang harus mereka lakukan adalah membantu Pak Karta merapikan berkas-berkas penduduk. Mereka juga harus membuat data statistik kependudukan. Banya arsip-arsip lama yang harus mereka rapikan kembali. Warna kertas yang sudah berubah kecoklatan dan debu yang beterbangan membuat alergi Arya kumat. Ia tetap menjalankan pekerjaannya walaupun ia harus bersin-bersin sepanjang hari.
“Nih tisu, ambil aja,” Krisan menyodorkan sebungkus tisu kapada Arya. Araya menerima tisu dari tangan Krisan tanpa mengucapkan terima kasih. Ia sibuk melanjutkan pekerjaannya menulis data penduduk pada papan kependudukan. Semua mahasiswa bahu-membahu dalam menyelesaikan tugas mereka. Sebelum sore mereka telah selesai.
Karena kamar mandi hanya satu, Arya berinisiatif mandi di rumah tetangganya Pak Karta. Setelah meminta ijin, ia bergegas ke kamar mandi. Tiba-tiba ia berhenti karena melihat Krisan sedang menimba air.
“Boleh aku aja yang ngambil air?” tanya Arya mendekati Krisan.
“Emangnya kamu bisa?” Krisan balik bertanya.
“Udah pernah liat di TV,” Arya merebut tali timba dari Krisan. Ia mencoba menenggelamkan ember yang sudah ada di bawah. Arya tak berhasil menenggelamkan ember. Krisan cengar-cengir di samping Arya.
“Sini aku liat,” ucap Krisan merebut kembali tali timbanya. Dengan cekatan, Krisan berhasil mengambil air dan menaikkan ember. “Makanya kalau nggak bisa, nggak usah sok,” ledek Krisan sambil memercikkan air ke muka Arya dengan nada bercanda. Arya membalas Krisan dengan segera. Mereka saling memercikkan air sambil tertawa bersama.
Setiap sore mereka mengajar bahasa Inggris dan cara pengoperasian laptop karena tidak ada komputer kepada anak-anak di dusun itu. Mereka mengajar di salah satu rumah joglo milik warga setempat.
“Sekian dulu, ya, Adik-adik belajar bahasa Inggrisnya. Setelah ini ada Kak Arya yang akan mengajar cara menggunakan laptop sare ini,” ucap Krisan ramah.
“Terima kasih, Kak,” jawab anak-anak serempak.
Arya sudah siap dengan laptopnya dan laptop milik Dio. “Selamat sore, Adik-adik! Sudah siap belajar bersama Kakak?” Arya mengawali dengan menyapa semua anak. Mereka sangat antusias dalam belajar.
“San, temenin Aku, jangan pulang dulu,”
1 komentar:
ky, koq critanya menggantung si.. hahaha
ayo donk lanjutin..
pngen tau ending'a.. :)
Posting Komentar