Cerkak

Senin, 30 Januari 2017

Dont Underestimated People

Suatu ketika aku duduk di aula kampus. Ada temen seprodi tapi beda kelas trus kita ngobrol2... Ngobrolnya seru dia nyeritain temennya yg jg temenku waktu smp. "Kenal si A gak?" katanya. "Kenal" jawabku. "Eh, dia ini pinter ya, suka bantuin temen2nya waktu ulangan dulu pas SMA". "Iya, dia emang pinter sejak SMP" kataku. "Kadang ak sama dia suka ngerjain tugas bareng trus temen2 yg lain pada nyontek" lanjutnya bercerita. Aku senyum2 aja. Antusias sekali temenku yg satu ini ceritain temennya dan dirinya ke aku. Ak cuma ohya2 aja. Aku senenglah, temen SMP ku emang banyak yg pinter dan baik hati. Lalu datanglah temen sekelasku, namanya Media, "Tha, km daftar beasiswa BCA gak? Kan IPmu 3,9?". "Enggak, ak udah dapet dari Mandiri".
Trus temenku yg pertama tadi gak cerita antusias lagi kyak tadi.

Another story....
"Kuliah dimana ky?"
"PGSD Sadhar, om"
"Rugi amat km, pinter2 kok masuk pgsd. Kan km bisa masuk UGM".
Dalam hatiku, huh..sabar2... emang gak ada jurusan yg ak suka di UGM selain kedokteran. Tapi kan ak tau dirilah dgn ekonomi keluarga.
Kata2 dari seseorang itu memacuku untuk bekerja lebih keras kalau pilihanku gk salah. Aku bisa menggunakan kemampuanku untuk orang lain lewat bidang pendidikan. Finally, Binggo ak ketimpuk NIP setahun setelah lulus dari PGSD. Jurusan yg dulunya dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Selanjutnya ak harus berusaha menjadi lebih berguna bagi anak2 di Jakarta. Semangat mengabdi itu harus ada dimanapun berada melalui bidang apapun tergantung kemampuan.

Next story....
Pada saat lulus kuliah, ak sempat ditawarin ngajar di suatu sekolah national plus di Tangerang. Dibujuk2 ama pemilik sekolah sampe2 ditawarin beasiswa S2. Wowww, tawaran yg menggiurkan. 

Ak sempat tertarik. Tapi kalau ak terima tawaran itu ak harus mengabdi di sekolah itu. Sekolah yg udah bagus dgn anak kelas menengah ke atas. Ak bertanya lagi pada diriku sendiri mau diambil atau enggak. Setelah melakukan adorasi dan doa novena. Akhirnya ak memilih tidak. Ak yakin akan ada pendaftaran CPNS dan anak2 di SD Negeri lebih menantang buatku. Tak lama kemudian ada pendaftaran CPNS dan hatiku memilih pemprov DKI. Sejak pertama kali mendaftar online, ak udah yakin ak pasti bisa. Keyakinanku 90%. Sambil berdoa ak berusaha dan ak merasa Tuhan melancarkan jalanku. Mulailah ak test toefl, karna pendaftarannya mendadak ak pasrah aja ama hasilnya. 
Ya Tuhan, kalau memang ini jalan yg Kau tunjukkan padaku bantu aku saat test toefl ini. Ak testnya di LBB LIA Jaksel dan hasilnya menggembirakan. Yeahh, satu per satu tahap ak lalui dan ku akui ak jadi anak yg rajin berdoa tiap hari. Kekuatan doa emang luar biasa. Di Jakarta test CPNS nya ada dua tahap yaitu Tes Kompetensi Dasar (TKD), kalau tes ini lolos lanjut ke tes selanjutnya Tes Kemampuan Bidang (TKB). Beruntungnya semua tes itu langsung tau hasilny, jadi ak udah yakin kalau lulus. 
Tinggal tunggu pengumuman resminya.
TKB bulan Desember, pengumuman bulan Februari. Dari pemberkasan sampa penempatan lama banget. Sampai bulan Juli belum ada kabar. Di situ ak jd belajar sabar.

Dari pengalaman2ku, I would say dont underestimated people. Ak lebih baik diam dari pada menceritakan diriku. Kalau ada yg tanya baru ak jawab. Yg penting ak bisa berguna untuk orang lain itu udah membuatku bahagia. Terus belajar dan mengembangkan diri. Work in silent. Serahkan pilihan pada Tuhan, maka Tuhan akan membimbing setiap langkah dan pilihan yg terbaik. God bless

Minggu, 29 Januari 2017

Cinta atau Persahabatan



Ku cinta padamu
Namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku,
Andai ku bisa berkata sejujurnya.

                Petikan lagu Yura Yunita feat Glenn Fredly ini sering aku dengarkan bahkan aku nyanyikan di kamar mandi. Lewat lagu itu aku mencurahkan isi hatiku. Saat karaoke pun aku menyanyikan lagu ini sama sahabatku, Darren dan juga Jingga. Jingga sahabatku sejak jaman SMA satu kelas denganku selama tiga tahun. Sekarang kita udah hampir ujian skripsi. Jingga, anaknya humble, smart, punya banyak teman, dan cantik. Cewek perfect dan aku merasa beruntung bisa sahabatan sama dia. Kebetulan dia naksir kakak kelas SMP ku namanya Darren. Sebelum mereka jadian, Jingga selalu curhat tentang Darren sama aku. Mulai dari pertama dia kenal Darren sampai gimana Darren nembak dia.
                Darren ternyata cowok yang romantis dan perhatian banget sama pacarnya. Jingga pasti beruntung punya pacar kayak Darren. Suatu ketika, Jingga ngajak aku main bareng sama Darren. Ternyata Darren juga ngajak temennya, namanya Figo. Well, aku dikenalin ama Figo, cowok berkaca mata, teman sekampus Darren. Mereka sama-sama jurusan Teknik Informatika. Waktu itu, aku dan Jingga masih mahasiswa baru. Kita nongkrong di salah satu cafĂ© dan awalnya lebih banyak cerita tentang Jingga dan Darren.
                “Yunk, kamu satu SMP kan sama Rara? Pasti kalian udah kenal dong sebelumnya?” tanya Jingga pada kekasihnya itu.
                “Iya, tapi beda angkatan ya Ra, jadi gak begitu kenal” celatuk Darren.
Ya kan Darren kakak kelas aku. Kakak kelas yang lumayan keren lah untuk ukuran anak SMP. Mana mungkin ak berani kenalan ama dia. Udah keren, anak OSIS pula. Aku kan cuma murid biasa.
“Iya ya Kak, aku tau Kakak kok waktu SMP” ucapku.
Percakapan mengalir begitu saja. Aku dan Darren menceritakan beberapa guru yang seru waktu SMP. Sejak pertemuan itu aku jadi akrab dengan Darren.
“Rara, hari Minggu aku mau dikenalin ama ortunya Darren. Aduh, gimana nih?” Jingga bercerita lewat telepon.
“Wah, selamat ya Say. Gak usah grogi, mengalir aja. Tanya-tanya aja apa makanan kesukaan Darren atau gimana masa kecil Darren. Tapi biasanya ortu yang bakal banyak tanya ke kamu. Jadi, tenang aja, dibawa santai. Good luck for you” jawabku menanggapi Rara.
Aku sama Darren sekampus tapi beda Fakultas. Dia TI dan aku Sastra Indonesia. Waktu itu, sedang ada bencana Gunung Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik. Sebagian wilayah di Jogja terkena abu. Banyak warga dari lereng Gunung Merapi yang mengungsi. Kampusku mengadakan acara penggalangan dana. Aku ikut dalam kegiatan tersebut. Ternyata Darren juga ikut. Ak jadi satu grup sama dia dalam penggalangan dana itu. Kita ngumpulin dana di perempatan Condongcatur. Aku berjaga dari shift siang dari jam 2 sampai jam 5 sore karena jadwal kuliahku kebanyakan pagi. Kalau Darren dari jam 3 sampai jam 5 sore. Hampir sama denganku. Karena kami sudah kenal, jadi kami bisa enjoy melaksanakan tugas sosial ini. Darren enak diajak kerja sama dan humoris. Lama-lama aku jadi seneng satu grup sama dia. Di sela-sela kegiatan, Darren juga sering cerita tentang Jingga. Dari cerita-ceritanya, terlihat kalau dia sayang banget sama Jingga.
“So sweet ya kalian. Semoga langgeng ya sampai maut memisahkan” ucapku tulus ke Darren.
“Thanks Rara” balasnya sambil tersenyum. Senyum manis yang aku suka darinya. Ups, pikiran macam apa ini?
Selama satu bulan ini, Darren lebih banyak ketemu sama aku dari pada ketemu sama Jingga. Aku dan Darren menjadi suka relawan yang naik turun ke lereng merapi untuk menyalurkan bantuan logistik. Aku menikmati tugas sosial ini walaupun capek. Aku harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, kegiatan sosial ini, dan kursus musik. Banyak kegiatan, melelahkan tapi ketika semua bisa aku jalani disitulah kesenangannya.
Sesekali aku smsan sama Darren seputar kegiatan yang kami lakukan. Lama-lama ngobrolin masalah pribadi. Darren, pacar sahabatku dan asyik buat jadi sahabatku juga. Aku kadang-kadang dapat nasihat dari Darren saat aku punya masalah. Aku pun gak nutupin hal ini dari Jingga. Jingga tau kalau aku deket juga sama Darren. Jingga udah sangat percaya pada Darren dan juga aku. Aku juga gak ada maksud apa-apa sama Darren, cuma temen baik aja.
Dalam suatu hubungan, tidak mungkin kalau tidak ada masalah. Saat Jingga dan Darren ada masalah, aku jadi pihak perantara yang membantu menyampaikan unek-unek mereka. Aku dengerin curhatan Darren dan curhatan Jingga. Kadang mereka cuma misscom aja. Setiap masalah bisa dilalui asal ada komuniasi yang baik diantara mereka.
Aku gak mau terlalu ikut campur dengan hubungan mereka. Aku juga punya kehidupan sendiri. Aku dan Jingga beda kampus sehingga akhir-akhir ini jarang ketemu. Kita sama-sama sibuk nyelesein skripsi biar selesai tepat waktu. Setelah hari wisuda, Jingga nangis datang ke rumahku.
“Kamu kenapa Jingga?” tanyaku keheranan.
“Aku putus sama Darren” jawabnya sambil sesenggukan.
“Masak sih? Kok bisa?” aku terkejut. Mereka udah pacaran hampir 5 tahun. Aku tahu Jingga sayang banget sama Darren, begitu juga sebaliknya. Mereka adalah pasangan paling kompak dan romantis yang aku kenal.
“Aku udah gak bisa lagi sama Darren. Dia gak bisa ngertiin aku.”
“Udah…udah nangisnya….ntar aja ceritanya kalau udah selese nangis” ucapku nenangin Jingga.
“Aku udah gak bisa lagi sama Darren, Ra. Akhir-akhir ini tuh kita sering berantem gak jelas. Aku udah mutusin dia. Aku udah pikirin ini baik-baik” akhirnya Jingga menceritakan kenapa dia mutusin Darren. Bingung juga aku kenapa Jingga mutusin cowok sebaik Darren. Hampir dua hari Jingga nangis terus, sedih banget karna putus sama Darren.
Aku baca PM nya Darren di BBM. Kayaknya dia depresi banget diputusin sama Jingga. Aku pun berinisiatif buat ngechat Darren duluan. “Darren, putus beneran ya sama Jingga?”
                Darren langsung jawab singkat, ”Iya Ra, gue putus.”
                “Kenapa?”
                “Tanya aja sama Jingga”
                “Jingga udah crita ke aku.”
                “Ra, aku udah berusaha mempertahankan hubungan sama Jingga. Tapi udahlah… Terserah Jingga deh mau gimana. Aku udah gak peduli”
                “Cinta emang harus diperjuangkan Darren. Berusahalah lagi buat baikan.”
                “Gue udah memohon-mohon sama Jingga. Gue udah mengalah. Gue udah nglakuin segala cara tapi Jingga tetep gak bisa dipertahankan.”
                “Ya udah… kalau jodoh gak akan kemana kok”
                Mendengar kabar putusnya mereka, aku jadi ikut sedih. Darren jadi sering curhat ke aku. Aku tahu dia sayang banget sama Jingga. Lama-lama aku malah jadi deket sama Darren. Lebih deket dari pada sebelumnya. Tanpa sepengetahuan Jingga, aku sering ketemu dengan Darren. Aku menganggap Darren sebagai sahabat. Tapi aku takut perasaan yang udah lama aku pendam ini merusak persahabatanku dengan Jingga dan Darren. Aku nyaman deket sama Darren sebagai sahabat. Kadang dia jadi kakak juga buat aku. Jika aku mengakui ini cinta aku takut sikap Darren akan berubah padaku. Aku menyayangi Jingga dan beruntung punya sahabat seperti Darren. –End-