“Dia itu menarik. Aku ngefans sama dia. Saat aku berada di dekatnya, saat itu pula aku tak ingin beranjak, aku ingin di dekatnya lebih lama lagi,” curhatku pada Unie.
“Cie....yang kemaren habis ketemu,” ledeknya padaku.
“Hahaha.....Lalalala....,” aku bernyanyi riang.
“Jadi, udah sampai mana hubunganmu sama dia?” tanya Unie penasaran.
Tiba-tiba aku nyengir nggak jelas. Mimik mukaku serta-merta berubah. Rasanya aku merasakan seperti berhenti bernafas, sesak. Senyumku pun hambar. Aku berpikir sampai dimana ya hubunganku sama dia.
“Emm, nggak tahu deh. Dia masih baik kok sama aku,” jawabku sekenanya.
“Masih baik?” tanya Unie heran.
“Yah, sepertinya dia tahu kalau aku ngefans sama dia. Kalau dia nggak suka kalau aku ngefans sama dia, dia kan bisa menjauh dariku,” jawabku.
“Krisan, Krisan.... Dasar sok inosen banget sih kamu. Bisa saja kan dia itu baik sama kamu karena dia itu memang ingin bersikap biasa aja sama kamu,” sanggahnya.
“Hmm, memang sikap dia ke aku biasa-biasa aja. Dia kan orangnya cuek,” jawabku mengiyakan.
“Tuh kan. Kamu yang terlalu lebay deh. Jangan terlalu berlebihan kalau suka sama seseorang. Apalagi kamu belum tahu kan perasaan dia ke kamu?” Unie mencoba menasehatiku.
“Aku tahu kok dia itu nggak ada perasaan ke aku,” jawabku lirih. “Tapi di ambil sisi positifnya aja ya... Yang penting aku selalu tambah semangat kalau ketemu sama dia,” sergahku.
“Huuu! Parah.... Itu namanya tergantung sama orang lain. Hati-hati lho ntar kamu bisa kecanduan,” katanya.
“Candu asmara kan enak. Membuat hati berbunga-bunga,” eyelku.
“Iya aku tahu, tapi bunga itu ada durinya kan, hati-hati ketusuk. Sakit, San,” Unie mencoba mengingatkanku.
“Akh, kenapa dirimu malah membuatku galau???” tanyaku sebel.
“Nggak gitu juga kale… Aku cuma ingin mengingatkanmu, soalnya aku pernah ngrasain sakitnya duri itu,” jawabnya.
“Ukh…. Iya, jenk… Aku tahu… Kamu kan udah cerita sampai beribu-ribu kali... Tapi kan sekarang udah punya penawar sakitmu itu kan.... Ecie….” jawabku menggodanya.
“Yah, yang jelas aku nggak ingin kamu merasakan sakit yang sama seperti aku dulu, ya.... Kalau kamu terlalu tergantung sama seseorang seperti yang kamu lakukan sekarang ini bisa bahaya. Gimana kalau suatu saat kamu nggak bisa bertemu dengannya, apalagi dia nggak memberimu semangat. Apa kamu yakin kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik?” kalimat tanya retoris mengakhir kalimatnya.
“Wah, so sweet banget sih punya sahabat kayak kamu.... Thanks banget ya… Tapi entahlah… Biar aku menata hatiku dulu… Aku juga nggak mau menyesal dua kali…” jawabku.
“Waduhh, malah keinget lagi ama mantan kamu itu ya?” kata Unie menyelidik.
“Nggak, tapi kenapa aku merasakan rasa yang sama kayak yang aku rasain sama mantan aku dulu y... Tapi aku jadi takut bakal ngrasain sakit yang sama....” curhatku lagi.
“Cuma kamu yang bisa mengatur hatimu. Jangan sampai kamu terjebak pada pengalaman masa lalu ya…. Jangan takut untuk mencintai, tapi jangan terlalu mencintai juga... Keep the spirit up and smile...”
Mencintai adalah merelakan seseorang mendapatkan kebahagiaan yang ia cari.
Dicintai adalah keberuntungan karena seseorang mau menerimamu apa adanya dan ia tetap mencari kebahagiaannya.
Saling mencintai adalah ketika kebahagiaan yang ditemukan tertuju pada dua hati yang saling mencari.
By: Airist Ratri Agatha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar