Ku cinta padamu
Namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku,
Andai ku bisa berkata
sejujurnya.
Petikan
lagu Yura Yunita feat Glenn Fredly ini sering aku dengarkan bahkan aku
nyanyikan di kamar mandi. Lewat lagu itu aku mencurahkan isi hatiku. Saat
karaoke pun aku menyanyikan lagu ini sama sahabatku, Darren dan juga Jingga.
Jingga sahabatku sejak jaman SMA satu kelas denganku selama tiga tahun.
Sekarang kita udah hampir ujian skripsi. Jingga, anaknya humble, smart, punya
banyak teman, dan cantik. Cewek perfect dan aku merasa beruntung bisa sahabatan
sama dia. Kebetulan dia naksir kakak kelas SMP ku namanya Darren. Sebelum
mereka jadian, Jingga selalu curhat tentang Darren sama aku. Mulai dari pertama
dia kenal Darren sampai gimana Darren nembak dia.
Darren
ternyata cowok yang romantis dan perhatian banget sama pacarnya. Jingga pasti
beruntung punya pacar kayak Darren. Suatu ketika, Jingga ngajak aku main bareng
sama Darren. Ternyata Darren juga ngajak temennya, namanya Figo. Well, aku
dikenalin ama Figo, cowok berkaca mata, teman sekampus Darren. Mereka sama-sama
jurusan Teknik Informatika. Waktu itu, aku dan Jingga masih mahasiswa baru.
Kita nongkrong di salah satu café dan awalnya lebih banyak cerita tentang
Jingga dan Darren.
“Yunk,
kamu satu SMP kan sama Rara? Pasti kalian udah kenal dong sebelumnya?” tanya
Jingga pada kekasihnya itu.
“Iya,
tapi beda angkatan ya Ra, jadi gak begitu kenal” celatuk Darren.
Ya kan Darren kakak kelas aku.
Kakak kelas yang lumayan keren lah untuk ukuran anak SMP. Mana mungkin ak
berani kenalan ama dia. Udah keren, anak OSIS pula. Aku kan cuma murid biasa.
“Iya ya Kak, aku tau Kakak kok
waktu SMP” ucapku.
Percakapan mengalir begitu saja.
Aku dan Darren menceritakan beberapa guru yang seru waktu SMP. Sejak pertemuan
itu aku jadi akrab dengan Darren.
“Rara, hari Minggu aku mau
dikenalin ama ortunya Darren. Aduh, gimana nih?” Jingga bercerita lewat
telepon.
“Wah, selamat ya Say. Gak usah
grogi, mengalir aja. Tanya-tanya aja apa makanan kesukaan Darren atau gimana
masa kecil Darren. Tapi biasanya ortu yang bakal banyak tanya ke kamu. Jadi,
tenang aja, dibawa santai. Good luck for you” jawabku menanggapi Rara.
Aku sama Darren sekampus tapi beda
Fakultas. Dia TI dan aku Sastra Indonesia. Waktu itu, sedang ada bencana Gunung
Merapi yang mengeluarkan abu vulkanik. Sebagian wilayah di Jogja terkena abu.
Banyak warga dari lereng Gunung Merapi yang mengungsi. Kampusku mengadakan
acara penggalangan dana. Aku ikut dalam kegiatan tersebut. Ternyata Darren juga
ikut. Ak jadi satu grup sama dia dalam penggalangan dana itu. Kita ngumpulin
dana di perempatan Condongcatur. Aku berjaga dari shift siang dari jam 2 sampai
jam 5 sore karena jadwal kuliahku kebanyakan pagi. Kalau Darren dari jam 3
sampai jam 5 sore. Hampir sama denganku. Karena kami sudah kenal, jadi kami
bisa enjoy melaksanakan tugas sosial ini. Darren enak diajak kerja sama dan
humoris. Lama-lama aku jadi seneng satu grup sama dia. Di sela-sela kegiatan,
Darren juga sering cerita tentang Jingga. Dari cerita-ceritanya, terlihat kalau
dia sayang banget sama Jingga.
“So sweet ya kalian. Semoga
langgeng ya sampai maut memisahkan” ucapku tulus ke Darren.
“Thanks Rara” balasnya sambil
tersenyum. Senyum manis yang aku suka darinya. Ups, pikiran macam apa ini?
Selama satu bulan ini, Darren
lebih banyak ketemu sama aku dari pada ketemu sama Jingga. Aku dan Darren
menjadi suka relawan yang naik turun ke lereng merapi untuk menyalurkan bantuan
logistik. Aku menikmati tugas sosial ini walaupun capek. Aku harus membagi
waktu antara kuliah, organisasi, kegiatan sosial ini, dan kursus musik. Banyak
kegiatan, melelahkan tapi ketika semua bisa aku jalani disitulah kesenangannya.
Sesekali aku smsan sama Darren
seputar kegiatan yang kami lakukan. Lama-lama ngobrolin masalah pribadi. Darren,
pacar sahabatku dan asyik buat jadi sahabatku juga. Aku kadang-kadang dapat
nasihat dari Darren saat aku punya masalah. Aku pun gak nutupin hal ini dari
Jingga. Jingga tau kalau aku deket juga sama Darren. Jingga udah sangat percaya
pada Darren dan juga aku. Aku juga gak ada maksud apa-apa sama Darren, cuma
temen baik aja.
Dalam suatu hubungan, tidak
mungkin kalau tidak ada masalah. Saat Jingga dan Darren ada masalah, aku jadi
pihak perantara yang membantu menyampaikan unek-unek mereka. Aku dengerin
curhatan Darren dan curhatan Jingga. Kadang mereka cuma misscom aja. Setiap masalah bisa dilalui asal ada komuniasi yang
baik diantara mereka.
Aku gak mau terlalu ikut campur
dengan hubungan mereka. Aku juga punya kehidupan sendiri. Aku dan Jingga beda
kampus sehingga akhir-akhir ini jarang ketemu. Kita sama-sama sibuk nyelesein skripsi
biar selesai tepat waktu. Setelah hari wisuda, Jingga nangis datang ke rumahku.
“Kamu kenapa Jingga?” tanyaku
keheranan.
“Aku putus sama Darren” jawabnya
sambil sesenggukan.
“Masak sih? Kok bisa?” aku
terkejut. Mereka udah pacaran hampir 5 tahun. Aku tahu Jingga sayang banget
sama Darren, begitu juga sebaliknya. Mereka adalah pasangan paling kompak dan
romantis yang aku kenal.
“Aku udah gak bisa lagi sama
Darren. Dia gak bisa ngertiin aku.”
“Udah…udah nangisnya….ntar aja
ceritanya kalau udah selese nangis” ucapku nenangin Jingga.
“Aku udah gak bisa lagi sama
Darren, Ra. Akhir-akhir ini tuh kita sering berantem gak jelas. Aku udah
mutusin dia. Aku udah pikirin ini baik-baik” akhirnya Jingga menceritakan
kenapa dia mutusin Darren. Bingung juga aku kenapa Jingga mutusin cowok sebaik
Darren. Hampir dua hari Jingga nangis terus, sedih banget karna putus sama
Darren.
Aku baca PM nya Darren di BBM.
Kayaknya dia depresi banget diputusin sama Jingga. Aku pun berinisiatif buat
ngechat Darren duluan. “Darren, putus beneran ya sama Jingga?”
Darren
langsung jawab singkat, ”Iya Ra, gue putus.”
“Kenapa?”
“Tanya
aja sama Jingga”
“Jingga
udah crita ke aku.”
“Ra,
aku udah berusaha mempertahankan hubungan sama Jingga. Tapi udahlah… Terserah
Jingga deh mau gimana. Aku udah gak peduli”
“Cinta
emang harus diperjuangkan Darren. Berusahalah lagi buat baikan.”
“Gue
udah memohon-mohon sama Jingga. Gue udah mengalah. Gue udah nglakuin segala
cara tapi Jingga tetep gak bisa dipertahankan.”
“Ya
udah… kalau jodoh gak akan kemana kok”
Mendengar
kabar putusnya mereka, aku jadi ikut sedih. Darren jadi sering curhat ke aku.
Aku tahu dia sayang banget sama Jingga. Lama-lama aku malah jadi deket sama
Darren. Lebih deket dari pada sebelumnya. Tanpa sepengetahuan Jingga, aku sering
ketemu dengan Darren. Aku menganggap Darren sebagai sahabat. Tapi aku takut
perasaan yang udah lama aku pendam ini merusak persahabatanku dengan Jingga dan
Darren. Aku nyaman deket sama Darren sebagai sahabat. Kadang dia jadi kakak
juga buat aku. Jika aku mengakui ini cinta aku takut sikap Darren akan berubah
padaku. Aku menyayangi Jingga dan beruntung punya sahabat seperti Darren. –End-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar